Wawancara Eksklusif Syaykh Dr A S Panji Gumilang, M.P., Hadapi Pandemik Covid-19

  • Whatsapp

ANALISNEWS, NASIONAL – Di tengah wabah corona yang semakin meluas, Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun melalui pimpinannya, Syaykh Dr AS Panji Gumilang, M. P., menerapkan sejumlah kebijakan dan ketetapan bagi penghuninya. Salah satunya dengan memberikan vaksin influenza.

Syaykh Dr A S Panji Gumilang, M. P., menyebutkan beberapa kebijakan dan ketetapan sebagai upaya untuk mempertahankan diri dan lingkungannya dari berbagai penyakit seperti virus Corona yang sedang mewabah.

Muat Lebih

Awak media AnalisNews berhasil mewawancari Syaykh Al-Zaytun di tempat kerjanya Pondok Pesantren Mah’ad Al-Zaytun, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (18/03/2020).

Untuk mewawancarai Syaykh Al Zaytun, wartawan pun wajib mengikuti vaksin flu dan proses pengecekan suhu tubuh. Berikut poin-poin kutipan wawancaranya:

Menurut Syaykh, apa hubung-kait vaksinasi influenza di Ma’had Al-Zaytun kaitannya dengan Covid-19?

Vaksin ini bukan diselenggarakan karena wabah tapi untuk meningkatkan daya tahan tubuh seseorang, yang namanya vaksin flu, sebab dipahami bahwa flu itu satu penyakit yang dianggap ringan, bahkan kebanyakan orang menyepelekan, ketika flu diobati dengan paratusin atau kalau sudah dahsyat diobati dengan pinisilin atau antibiotik sedangkan antibiotik sendiri jika salah, badan akan berakibat menjadi tidak bisa menahan serangan yang lain-lain, maka kita meyakini flu ini menurut ilmu kesehatan bisa melemahkan daya tahan tubuh orang.

Kalau daya tahan tubuhnya lemah, segala penyakit akan masuk, maka untuk itu kita mewajibkan vaksin flu. Biasanya penyakit flu di tempat kita, yang berkumpul banyak orang, sepuluh ribu seperti kita ini, itu tatkala bergantian musim dari musim basah atau hujan ke musim kering. Musim basah biasanya di mulai dari bulan April dan Maret baru hujan berkurang biasanya mewabah flu.

Kita katakan sebagai gangguan ISPA (infeksi saluran pernafasan) kata orang ahli seperti itu dan kita tidak mau. Itu flu. Saat flu daya tahan tubuh rentan.

Berkaitan dengan hari ini, wabah Corona yang masuk ke Indonesia yang perkembangannya juga signifikan presentase penambahannya.

Kaitan dengan itu kita menginginkan semua orang yang ada di sini punya daya tahan tubuh dan daya dukung tubuh yang kuat. Maka diadakanlah vaksin flu dan vaksin flu ini sebaiknya di adakan setahun sekali untuk memperkokoh ketahanan tubuh.

Karena warga kita banyak, maka kita mengadakan bekerjasama dengan Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung, rumah sakit yang ada kenamaan di sana, penangannya baik dan sebagainya. Yakni Rumah Sakit Santo Borromeous Bandung. Kita punya kerjasama yang baik. Maka pada hari Selasa, Rabu dan Jumat sebanyak tiga dokter dan enam perawat datang ke sini dengan melaksanakan vaksin tadi.

Vaksin diawali dengan pemeriksaan tensi darah dan suhu tubuh.

Setelah itu kalau ada hal-hal yang mengkhawatirkan dan lain-lain meski di obati dulu, baru ada vaksinasi, jadi untuk kekebalan tubuh. Dihungkan dengan “tentara Corona” yang tak nampak dengan cara seperti ini. ‘Tentara yang menyerang,” yang tidak tampak dan yang bisa mempertahankan hanya tubuh atau jasad manusia yang tangguh/kuat. Maka kita berijtihad, semua penghuni di sini di vaksin influenza.

Kemudian biaya vaksinya sebesar Rp255.000,- sedangkan dari RS Borromeus nya seharga Rp251.000,- sedangkan empat ribu itu digunakan untuk penyemprotan dan untuk pembelian disinfektan. Kita seprot disinfektan sarana yang ada di kampus Al-Zaytun kita ini.

Dan vaksin ini ini nanti kemungkianan akan diikuti oleh 10 ribu perserta vaksin. Siapa mereka? Yang terpenting adalah siswa, guru, pengurus yayasan, karyawan yang hari-hari kerja dan juga orang-orang luar yang bekerja di sini, juga wali santri sebab wali santri tidak bisa masuk ke kampus kita ini kalau tidak menunjukan kartu vaksin ini. Telah melakukan vaksin ini dan ada kartu vaksinnya sebagai bukti, mengapa? Karena flu itu menular sama juga Corona menular.

Kami istilahkan flu itu jembatan yang bisa dilalaui oleh virus flu atau virus yang lain termasuk virus Corona maka biasanya tanda-tanda kata dokter orang yang diserang Corona itu semacam orang yang terserang flu. Maka kita putus jembatannya, jembatannya di putus, Corononya diputus sehingga vaksin ini bisa memutus jembatan flu dan lain-lainya yang numpang.

Bagaimana Syaykh memaknai “isolasi wilayah” sehubungan dengan jumlah santri, mahasiswa, guru, dosen, eksponen, demikian pula para pegawai yang begitu banyak di Ma’had Al-Zaytun?

Ini bentuk isolasi wilayah ya seperti ini, aktivitas tetap tapi isolasi tidak boleh keluar, kita disini tidak keluar sedangkan orang luar yang masuk diperketat dengan menunjukan kartu vaksin dan A,B,C tadi.

Kalau kita liburkan atau disuruh pulang malah memberi kesempatan macam-macam. Di sini tidak boleh libur, yang tadinya sekolah Tingkat Dasar biasanya Sabtu-Ahad pulang sekarang tidak boleh pulang, mengapa? Pulang-pergi-datang menjadi jembatan juga.

Kalau orang lain meliburkan karena memang tidak satu kampus, mengapa kampus-kampus lain meliburkan, karena tidak memunyai dormitory sedangkan di sini ada dormitory maka kita, tempat-tempat umpamanya tempat ibadah shalat jamaah, itu kita bagi sekarang. Di selasar asrama. Maka asrama kita banyak selasarnya. Ternyata tatkala ada wabah seperti ini manfaatnya besar. Lantai satu di selasar lantai satu. Lantai dua, penghuninya di selasar lantai dua, lantai tiga di selasar lantai tiga. Asrama in muat lima ratus, ya seratus-seratus cukup.

Masjid juga begitu, tidak boleh kosong. Isi saja, jaraknya saja yang diperlebar. Jadi masjid tidak usah diisi oleh 7.500, diisi dengan 300 saja. Jangan pernah mengosongkan masjid, apapun kejadiannya.

Disinilah fasilitas mendukung. Di kampus kita ini fasilitas mendukung. 7500 penghuni Shalat Jumatnya di pecah-pecah menjadi 10. Jadi tinggal 750. Umpama masih besar, dipecah lagi.

Kalau dipulangkan malah tidak aman. Belum tentu anak-anak kita ini tinggal di lingkaran Jalan Medan Merdeka Jakarta. Di Jalan Merdeka mungkin aman karena banyak tentara yang jaga, bagaimana kalau tinggal di gang-gang kecil. Disini gang besar semua. Olah raga tetap, sekolah tetap, cuma dijaga.

Dan semua sekolah, pagi disemprot disinfektan. Malam dibersihkan, pagi disemprot, kemudian detektor untuk suhu badan kita siapkan semua.

Jauh aman seperti itu dari pada disuruh pulang. Siapa yang mengawasi di rumah. Tidur, mereka jam sembilan malam harus tidur. Jam empat pagi bangun. Sudah bisa tidur 6 jam lebih. Bahkan tujuh jam. Cukup. Maka anak-anak segar badannya.

Adakah perlakuan “lockdown” di Ma’had Al-Zaytun, bagaimana “standar” disiplin covidnya, Syaykh?

Kita tidak mengatakan lockdown di sini. Berjalan biasa. Membebaskan juga tidak, mengunci juga tidak. Memang hari-hari tidak ada kebebasan keluar dan tidak ada kebebasan ke dalam. Jadi yang didalam ini yang bisa keluar itu kalau ada sakit yang dirujuk ke rumah sakit. Kalau tidak, ya disini, ditangani. Yang dari luar, syaratnya sudah ikut vaksin flue. Ya ringan saja.

Syaykh sudah melakukan vaksin?

Oh, saya setiap tahun. Kenapa harus menyuruh orang kalau diri sendiri belum. Saya setiap tahun, makanya bersepeda keliling Jawa kena hujan kena panas, tahan.

Bagaimana cara Syaykh menghadapi Covid-19 yang sudah menjadi pandemik di Indonesia?

Dasarnya adalah sehatkan badan kita, daya tahan kita supaya punya daya tahan tinggi. makan cukup. Kurang apa di sini. Kalau disini dianggap sedang diisolasi, ya tiap hari begini. Pangan tiap hari cukup, karena menanam sendiri. Istirahat cukup, pangan cukup, tidak ada yang cari keluar. Orang kesulitan gula, kita buat gula sendiri. Orang kesulitan beras, kita menanam sendiri. Orang kesulitan daging, kita memelihara sapi. Orang kesulitan ikan kita memelihara ikan. Apa susahnya.

Sebagai pendukung vaksin, adakah ramuan herbal khusus?

Ya tidak ada, hari-hari makan sehat kok. Sayur kelor, jengkol yang free, jengkol Tasik, dimakan. Dan lain-lain. Dan bumbu-bumbu ysng ditanam sendiri. Kalau herbal sebelum diteliti secara ilmiah, kita tidak mau makan. Yang jelas, sayur-mayur dimakan. Buah dimakan. Ikan dimakan, dan dipelihara sendiri. Jadi tahu kualitasnya. Konon Makan pisang. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Coba kelor, kita menanam. Pisang tidak bisa dihabiskan internal sendiri, kita jual keluar. Seratus ribu pohon yang kita tanam. Kelor, beribu-ribu, tinggal memetik saja. Di siapkan. Kemudian yang tak kalah pentingnnya yang bisa melindungi, kita ini punya cukup oksigen. Yaitu lindungan alam. Berupa pohon-pohon yang sudah besar, tinggi. Itu mensuplay oksigen. Siapa yang dalam darahnya penuh oksigen, dia sehat. Syaykh tiap pagi hari mengukur. Berapa oksigen yang masuk dalam darah. Ukurannya, syaykh exelent. Karena OKK terus. Yang lain-lain begitu, exelent semua.

Dan disini sudah dalam rumah, karena lingkungannya hutan. Hutan kampus kita ini cukup melindungi. Karena sumber oksigen. Kalau dalam rumah terus-terusan, jangan-jangan minus oksigennya.

Apakah ada doa-doa menangkal Covid-19?

Doa itu tiap hari di ucapkan, tidak usah di khususkan. Karena apa? Kita minta pada Tuhan, diberikan kejayaan di dunia, kejayaan di akhirat. Itu kan doa sapu jagad. Semua bisa mengungkapkan. Tidak ada doa-doa khusus itu.

Apakah ada kebijakan dan pendidikan khusus mengantisipasi Covid-19?

Jangan cerita masa yang akan datang menangani Corona, tidak. Hari-hari sebelum ada Corona kita mempertahankan jangan ada kehidupan di dalam kampus ini yang mengakibatkan penyakit. Apapun namanya. Berjalan seperti ini. Inilah kebijakan. Mengapa? Orang susah cari bahan pangan, disini ada. Orang cari buah-buahan karena eksport dan import susah, disini ada. Apalagi. Kehidupan seperti itu yang kita persiapkan sejak awal dan kedepan.

Terkait adanya perbedaan kebijakan antar provinsi dan kabupaten ada yang meliburkan sekolah dan lain sebaginya?

Itu wajar-wajar saja. Silahkan. Orang kita tidak memegang kebijakan. Kita kebijakannya disini. Amankan. Sekarang itu harus mengamankan diri. Ku anfusakum dulu, jagalah dirimu. Waahlikum, dan lingkaranmu. Kita lingkarannya segini. Kalau kemana-mana, oh itu bukan tugas kamu. Kan begitu. Tugas kita disini. Amankan disini.

Apa Nasihat dan anjuran buat generasi muda, “millenial” dan masyarakat umum?

Saya tidak bisa menasehati, tapi mengajak saja. Ayo kita jaga diri saja. Semua, mau generasi muda, setengah tua, generasi tua, ayo kita jaga diri, khususnya kesehatan. Orang sehat itu bisa berbuat banyak. Apalagi orang sehat dan berilmu. Bisa berbuat banyak untuk dirinya dan orang lain. Sehat, sehat, dan sehat. (red)

Pos terkait