Permintaan Market Mulai Tinggi, KKP Siap Genjot Suplai Ikan Cobia

  • Whatsapp
Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo dalam Kegiatan diskusi virtual ini mengusung tema "Ikan Cobia Harta Terpendam Akuakultur".arahannya saat membuka kegiatan.

ANALISNEWS, BANDAR LAMPUNG – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mempersiapkan upaya-upaya untuk mempercepat pengembangan budidaya ikan cobia dimasyarakat. Hal tersebut guna merespon permintaan pasar yang diprediksi akan meningkat baik untuk suplai domestik maupun ekspor.

Untuk merealisaaikan hal tersebut, tahun ini KKP berencana untuk mengembangkan komoditas baru ini di tiga wilayah yakni Kepulauan Seribu, Lampung, dan Kepulauan Riau.

Demikian kesimpulan dari kegiatan diskusi yang digelar secara virtual hari ini. Kamis (25/06/2020) yang digagas atas kerjasama Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung dengan Universitas Lampung. Kegiatan diskusi virtual ini mengusung tema “Ikan Cobia Harta Terpendam Akuakultur”.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo dalam arahannya saat membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa budidaya laut memiliki potensi ekonomi yang besar, meski demikian pemanfaatannya hingga saat ini masih dibawah 10%. Oleh karenanya, ia berharap komoditas ikan cobia dapat dikembangkan untuk mendorong kontribusi bagi ekonomi masyarakat dan devisa ekspor.

“Ikan cobia dengan berbagai keunggulannya punya potensi besar untuk dikembangkan. KKP tentu akan berupaya untuk mendorong ini termasuk bagaimana membangun pasarnya. Saya berharap nanti budidaya ikan cobia ini juga memberikan multiplier effect terhadap bisnis ikutan yang bisa berkembang di masyarakat mulai perbenihan, sarana prasarana produksi dan usaha lainnya. Secara khusus saya juga menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini, ini bukti kolaborasi antara Pemerintah dan Perguruan Tinggi dan saya berharap nanti ada terobosan dan pemikiran untuk kemajuan perikanan budidaya,” ungkap Edhy.

Edhy juga menegaskan komitmen KKP untuk memberikan kemudahan akses guna menumbuhkembangkan usaha di bidang perikanan budidaya.

“Ada 29 regulasi yang sudah dan sedang kita review, ini tentu untuk memastikan agar masyarakat merasa aman dalam berusaha tanpa terkungkung oleh aturan aturan yang memberatkan. Dari sisi permodalan, ayo manfaatkan skema pembiayaan yang dimiliki pemerintah seperti KUR. Di intern KKP, kita punya pagu dana 1 trilyun yang bisa diakses para pembudidaya. Silahkan manfaatkan kredit yang sangat lunak ini,” pungkas Edhy

Pasar Terbuka Luas

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto yang hadir sebagai pembicara kunci mengatakan bahwa dalam lima tahun ke depan pengembangan budidaya laut harus melakukan transformasi ke arah pengelolaan yang berbasis WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan). Menurutnya pengelolaan berbasis WPP akan memungkinkan pemanfaatan potensi yang lebih terukur, terintegrasi dan adanya penguatan kelembagaan yang kuat. Ia juga memastikan bahwa KKP telah melakukan pemetaan potensi berbasis komoditas unggulan di masing-masing WPP.

“Setidaknya ada empat pilar yang akan kita dorong dalam pengembangan budidaya laut nasional yakni teknologi berbasis daya dukung; sosial ekonomi; pengembangan pasar dan lingkungan. Saya rasa ini yang akan kita dorong sehingga budidaya laut lebih sustain. Khusus untuk pasar, ini penting sehingga ada suplai yang terukur nantinya,” jelas Slamet.

Slamet juga menyampaikan, saat ini KKP tengah melakukan pemetaan target kawasan pengembangan cobia dan juga action plan dalam jangka pendek.

Sementara itu, CEO Sillyfish Indonesia, Rika Puspita, membeberkan faktw bahwa selama masa pandemi Covid-19 justru market demand naik. Upaya yang dilakukan yakni melakukan branding premium pada produk olahan ikan Cobia dan membangun link pasar di luar negeri. Ia juga memproyeksikan pasar produk ikan cobia akan terus naik seiring meningkatnya preferensi konsumen.

“Kalau bicara market demand, dengan melihat preferensi konsumen, kami optimis market akan terus terbuka dan trendnya akan naik ya. Faktanya selama Covid-19 ini justru permintaannya naik. Yang jelas branding premium untuk ikan cobia akan terus didorong, memang target segmen konsumennya berbeda dengan komoditas lainnya. Kita ingin cobia ini tetap premium, sehingga nilai tambahnya juga bisa lebih besar dirasakan pembudidaya. Keunggulan yang menonjol cobia hasil budidaya ini yakni tidak bau amis, daging putih dan rendah kadar histamin. Ini yang akan terus kita kampanyekan,” tegas Rika. (Dastum)

Pos terkait