Mengenal Lebih Dekat Masakan Khas Daerah Rejang Lebong

  • Bagikan

ANALISNEWS, BENGKULU – Setiap daerah sudah pasti mempunyai ciri khas makanan favorit masing-masing, karena berbekal makanan punya cita rasa tersendiri yang menjadi identitas daerah. Selain memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, Kabupaten Rejang Lebong ternyata memiliki makanan khas yang membuat ketagihan yaitu Lemea.

Kabupaten Rejang Lebong secara historis memiliki sejarah yang cukup panjang dalam catatan sejarah, Suku Rejang merupakan satu komunitas masyarakat di Kabupaten Rejang Lebong yang memiliki tata cara dan adat istiadat yang dipegang teguh sampai sekarang.

Menurut cerita penduduk setempat, Lemea adalah sebuah nama makanan tradisional khas suku Rejang. Tak hanya itu, suku rejang mayoritas tinggal di Kabupaten Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara, Benteng dan beberapa daerah lainnya dipulau Sumatera dan pulau jawa.

Lemea merupakan makanan khas dari Suku Rejang. Suku Rejang merupakan suku tertua di Pulau Sumatera selain suku bangsa Melayu, suku ini menempati daerah Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara dan sebagian menyebar ke wilayah Sumatera Selatan.

Untuk diketahui proses pembuatan makanan khas Suku Rejang ini mengandung berbagai komposisi, Lemea makanan khas Rejang yang berasal dari bambu muda yang dicincang dan dicampur ikan air tawar seperti ikan mujair, sepat, maupun ikan-ikan kecil yang hidup di air tawar. Setelah cincangan rebung yang dicampur dengan ikan tersebut diaduk-aduk, maka adonan tersebut disimpan ke dalam wadah yang dilapisi dengan daun pisang dan ditutup rapat. Proses pengeraman ini bisanya minimal membutuhkan waktu tiga hari. Setelah itu, baru adonan tadi dapat dijadikan gulai sebagai lauk yang dimakan dengan nasi.

Sebelum pengeraman lemea itu sendiri dimasak dengan cara yang tidak berbeda dengan tempoyak, lemea beraroma agak tidak sedap baunya ini merupakan efek dari proses fermentasi ikan yang dicampur dengan rebung. Meskipun baunya yang tidak sedap, tapi banyak yang menyukainya. Keunikan dari aroma dan cita rasa yang dihasilkan lemea, menjadikan makanan ini bukan sekadar disukai suku bangsa Rejang. Lemea lebih nikmat bila dimasak dengan campuran santan dan ditambahkan dengan ikan air tawar maupun ikan laut. Pada umumnya, lemea dimasak dengan ditambah ikan mas, tongkol, maupun ikan yang biasa dikonsumsi manusia pada umumnya. Citarasa lemea berupa asam dan pedas unik dan gurih ketika dimakan.

Makanan ini  akan lebih  nikmat lagi  bila ditambahi dengan lalapan khas Bengkulu misalnya jengkol, petai dan kabau. Bunaya, salah seorang warga Kabupaten Lebong menyebutkan ciri khas makanan ini semakin disimpan di tempat yang kedap udara maka akan semakin nikmat pula aroma yang didapat, Meskipun aroma lemea terasa asing bagi yang baru pertama kali mencium atau pun mencicipi makanan ini dapat membuat ketagihan.

Dari berbagai sumber menyerbutkan, Lemea juga telah menjadi komoditi ekspor ke Jepang, meskipun banyak yang tidak mengetahui hal itu. Lemea dikemas secara modern ke dalam kaleng. Kemasannya tidak berbeda dengan kemasan kornet ataupun sarden yang biasa dijual di warung maupun toko-toko manisan modern lainnya. Lemea telah dijadikan makanan pengganti dari tradisi orang Jepang yang biasa memakan ikan mentah yang telah terbukti penyebab penyakit Minamata di Jepang. Rasa Lemea yang sesuai dengan selera Jepang, menjadikan Lemea makanan favorit yang dikenal secara internasional di Jepang.

Sampai sekarang gulai lemea masih menjadi kuliner favorit bagi masyarakat lokal, hal ini terbukti dengan banyak warga yang mencarinya, di setiap momen baik acara adat, pernikahan, maupun sedekah ruah. Lemea juga dikosumsi sebagai makan sehari-hari sebagai teman nasi bagi masyarakat Rejang Provinsi Bengkulu. (*)

  • Bagikan