LPEM FEB UI : Ketergantungan Impor dan Rendahnya Produktivitas di Balik Melonjaknya Harga Kedelai

ANALISNEWS, OPINI – Memasuki tahun 2021, terjadi kelangkaan kedelai di Indonesia. Pada tanggal 1-3 Januari 2021, kedelai menghilang dari pasaran yang menyebabkan aksi mogok produksi produsen tahu dan tempe untuk memprotes tingginya harga kedelai.

Adapun tingginya harga kedelai dikarenakan meroketnya harga komoditas kedelai di pasar internasional. Masalah ini tidak terlepas dari besarnya porsi impor terhadap pasokan kedelai di Indonesia.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 72-82 persen kedelai yang beredar di Indonesia berasal dari impor. Pada tahun 2018, kedelai impor mencapai 2,59 juta ton sedangkan produksi kedelai domestik hanya mencapai 953 ribu ton (Gambar 1).

Harga kedelai dunia memang mengalami lonjakan cukup drastis. Per 8 Januari 2021, harga komoditas berjangka (futures) kedelai berada di kisaran USD13,74 per bushel (USD504,86 per ton) dan merupakan harga tertinggi sejak Juni 2014. Tepat satu bulan lalu, harga komoditas kedelai tersebut masih berada pada USD11,54 per bushel (USD424,02
per ton) [1].

Dengan demikian telah terjadi kenaikan harga sekitar 19 persen dalam satu bulan terakhir. Beralih ke dalam negeri, menurut Kementerian Perdagangan, harga kedelai impor telah mengalami kenaikan dari IDR9000 per kilogram pada bulan November menjadi IDR9300-9600 per kilogram pada Desember 2020 [2].

Kenaikan harga kedelai dunia ini terkait dengan melonjaknya permintaan, terutama dari Tiongkok terhadap kedelai dari
Amerika Serikat. Di sisi lain, ancaman penurunan panen hingga beberapa bulan ke depan dikarenakan kekeringan di Amerika Selatan, terutama Brazil, turut mendorong naiknya harga. Pandemi COVID-19 di seluruh dunia juga tampaknya turut mengganggu logistik pengiriman dan menaikkan ongkos kirim.

Sementara itu Tiongkok, salah satu Negara konsumen kedelai terbesar dunia sudah mulai pulih perekonomiannya dari
COVID-19 sehingga menyedot suplai kedelai global. Bulan lalu Tiongkok menaikkan stok kedelai melalui impor sebanyak 30 juta ton, salah satunya untuk menjaga stok kedelai menjelang Hari Raya Imlek.

Berdasarkan data FAO, lima besar negara produsen kedelai adalah Amerika Serikat, Brazil, Argentina, Tiongkok, dan India. Urutan ini cenderung tetap dari tahun 2014 hingga 2018. Namun, terdapat gap produksi yang cukup jauh antara Amerika Serikat sebagai produsen terbesar dengan negara penghasil kedelai lainnya.

Tampak pada Gambar 2, produksi kedelai Amerika Serikat mencapai 120 juta ton pada 2018 dan membuat produksi Tiongkok— produsen lima besar dengan nilai mencapai 14 juta ton—terlihat kecil. Tren produksi Amerika Serikat dan Tiongkok terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia berada pada peringkat 14 produsen kedelai terbesar dunia
pada tahun 2018 dengan produksi mencapai 950 ribu ton. Peringkat tersebut merupakan penurunan dari peringkat 12 pada tahun 2014 dengan produksi kedelai Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun.

Ekspor kedelai terbesar datang dari Brazil, Amerika Serikat, Paraguay, Kanada, dan Argentina. Gambar 2 juga menunjukkan proporsi ekspor dari produksi kedelai Amerika Serikat, Tiongkok, dan Indonesia (warna cerah pada tiap grafik batang). Tampak bahwa hanya Amerika Serikat yang memiliki proporsi ekspor signifikan mencapai 46-57 juta ton
atau 40-50 persen dari produksi setiap tahunnya.

Proporsi ekspor Tiongkok dan Indonesia cenderung tidak terlihat pada grafik karena terlalu kecil. Walaupun merupakan
salah satu produsen terbesar, ekspor kedelai Tiongkok hanya mencapai 1-2 persen dari produksi setiap tahunnya. Di lain pihak, ekspor Indonesia pada 2015-2018 hanya mencapai 0,2 persen, turun drastis dari ekspor 2014 yang mencapai 41 ribu ton atau sekitar 4,3 persen dari produksi.

Dari segi penggunaan kedelai domestik (untuk pengolahan, pakan ternak, benih, serta bahan makanan), konsumen kedelai terbesar adalah Tiongkok, Amerika Serikat, Brazil, Argentina, dan India. Pada Gambar 3 terlihat bahwa
Tiongkok sebagai konsumen terbesar menggunakan 80-106 juta ton kedelai dari 2014 hingga 2018.

Nilai ini cukup jauh di atas kapasitas produksinya, serta cukup tinggi di atas konsumsi Amerika Serikat sebagai konsumen terbesar kedua. Demikian pula dengan Indonesia yang mengonsumsi 3-3,5 juta ton per tahun, jauh melebihi produksi kedelainya. Tren konsumsi kedelai ketiga negara terus meningkat dari 2014 hingga 2018.

Kebutuhan kedelai domestik yang jauh melebihi kemampuan produksi pada Tiongkok dan Indonesia membuat keduanya
bergantung pada impor. Impor sebagai proporsi dari konsumsi (warna cerah pada grafik) mencapai 83-90 persen untuk Tiongkok serta 65-83 persen untuk Indonesia.

Di sisi lain, sebagai net exporter kedelai Amerika Serikat hanya mengimpor sekitar 3,5 persen dari produksinya pada 2014; proporsi ini terus menurun hingga 0,9 persen pada 2018. Produktivitas petani kedelai Indonesia
memang diketahui rendah. Menurut FAO, produksi kedelai Indonesia pada 2018 mencapai 1,32 ton per hektar. Sebagai
perbandingan, di tahun yang sama produksi Tiongkok mencapai 1,90 ton per hektar sedangkan produksi Amerika Serikat
mencapai 3,40 ton per hektar.

Produktivitas yang terbatas ini salah satunya terkait skala usaha petani lokal yang kecil sehingga berdampak pada harga kedelai lokal di pasaran yang lebih tinggi dari kedelai impor. Petani lebih memilih menanam padi dan jagung yang keuntungan per hektarnya lebih tinggi dibanding kedelai. Di sisi lain, penggunaan benih berkualitas tinggi masih
rendah, di samping kendala-kendala lain seperti iklim dan kelembaban tanah Indonesia yang cenderung tidak optimal untuk produksi kedelai.

Rendahnya produktivitas kedelai Indonesia jauh dari cita-cita swasembada yang dicanangkan pemerintah enam tahun yang lalu. Hal ini juga mengindikasikan perlunya perubahan kebijakan agar masalah ini tidak berlarut-larut terjadi setiap saat.  Dalam situasi kelangkaan, pada jangka pendek pemerintah dapat mencoba memaksimalkan produksi lokal.

Namun, perlu diingat bahwa dengan nilai produksi yang kecil suplai kedelai lokal tidak akan mencukupi permintaan.
Mendorong produksi lokal bisa dilakukan melalui pemberian subsidi untuk menekan ongkos produksi di tingkat petani dengan harapan petani terdorong menanam kedelai jika margin keuntungan lebih besar.

Subsidi  juga bisa dimaksudkan sebagai perlindungan harga untuk menutupi selisih jika harga kedelai dunia anjlok.
Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sebaiknya fokus memastikan ketersediaan stok di gudang pedagang, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan pengurangan pasokan beberapa bulan ke depan sebagaimana disinggung di atas.

Mencari alternatif impor dari produsen kedelai nontradisional juga dapat diupayakan, mengingat sebagian besar kedelai Indonesia diimpor dari Amerika Serikat. Pada jangka panjang, beberapa kebijakan terkait kedelai perlu dipersiapkan dengan matang.

Pertama, fokus kepada produksi kedelai berkualitas tinggi bisa menjadi alternatif kebijakan agar petani kedelai tidak
perlu bersaing dengan kedelai impor yang memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dan harga lebih murah.

Kedua, perlu upaya meningkatkan produktivitas petani dan penggunaan varietas yang lebih baik. Benih
kedelai yang mampu bertahan dalam iklim Indonesia juga bisa menjadi produk alternatif impor. Terakhir, perlu dilakukan perbaikan menyeluruh dalam rantai nilai kedelai Indonesia berupa efisiensi proses pengolahan hasil panen, transportasi, pergudangan, dan perlindungan petani. Akan sulit memaksa petani menanam kedelai jika tidak ada
insentif ekonomi bagi mereka.

Selain itu, upaya mencari alternatif bahan baku tempe dan tahu mungkin perlu dikembangkan agar produsen tahu-tempe tidak terlalu bergantung kepada kedelai di masa depan.

Sumber Artikel :

Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI
Jahen F. Rezki ([email protected])
Aditya Alta ([email protected])
Mohamad D. Revindo ([email protected])