Curah hujan tinggi,Tanaman melon diPlumpang rawan diserang Embun bulu

  • Whatsapp
Hanya saja, untuk masa tanam musim ini petani melon mengeluhkan curah hujan yang terlalu tinggi. Hal ini berbeda dengan musim-musim sebelumnya.
Eko Prayitno (31), petani melon asal Desa Kedungsoko Plumpang Tuban, menyampaikan bahwa curah hujan yang tinggi tersebut mempengaruhi pertumbuhan tanaman melon.
Menurutnya, pengaruh air hujan terhadap tanaman melon mengakibatkan daun tidak tumbuh normal dan rawan terkena penyakit embun bulu atau krapak.
“Musim tanam saat ini jarang ada sinar matahari, ini mempengaruhi pertumbuhan tanaman melon,” ujarnya”
Eko mengaku, karena curah hujan yang terlalu tinggi itu dia harus mengeluarkan modal yang tidak seperti biasanya. Saat ini saja, untuk merawat tanaman melon sebanyak 5500 biji, dirinya sudah mengeluarkan modal sebanyak 15 juta rupiah. Padahal, masa tanam baru memasuki 2 minggu.
“Sampai hari ini sudah 2 minggu tanam pohon melon. Modal yang sudah keluar 15 juta.Padahal, alat-alat produksi sudah punya semua,” ungkapnya.
Sekedar informasi, Embun Bulu merupakan patogen jenis cendawan atau jamur yang mudah berkembang ketika kelembaban lingkungan sangat tinggi.
Curah hujan yang tinggi menyebabkan penyakit ini bertumbuh sangat cepat. Apalagi, air hujan sendiri mengandung nitrogen yang bisa menyuburkan jamur.
Eko menuturkan, untuk mengantisipasi penyakit Embun Bulu ini, dirinya bersama petani melon lainnya rajin menyemprotkan fungisida. Selain itu, mereka juga harus sering-sering menguras air di area tanaman melon agar tidak lembab.
“Semoga bisa sampai panen, sejak lima tahun tanam melon, baru kali ini curah hujan tinggi sekali,” tandasnya.
Untuk diketahui, dari 350 hektar lahan pertanian di Kedungsoko, 80 hektar diantaranya digunakan untuk menanam melon dan tanaman holtikultura lainnya seperti semangka dan garbis.

Pos terkait