Konferensi Pers Polres Buol, Satreskrim Ungkap Kasus Peredaran Uang Palsu

  • Whatsapp

ANALISNEWS, BUOL – Digelar konferensi pers Polres Buol dalam hal keberhasilan Satuan Reskrim Polres Buol dalam ungkap kasus pengedar dan pembuat uang palsu yang dilakukan oleh terduga tersangka AM (24), bertempat di Mako Polres Buol, Rabu (03/03/2021).

Tersangka AM (24) merupakan warga Desa Langudon, Kecamatan, Bokat, Kabupaten Buol ditangkap oleh tim gabungan Polsek Bokat bersama Satuan Reskrim Polres Buol pada saat akan melakukan aksinya untuk mengedarkan uang palsu.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan Kapolres Buol AKBP Dieno Hendro Widodo saat memberikan keterangan persnya, yang didampingi Kasatreskrim Iptu Heru Setiyono beserta jajaran Satreskrim Polres Buol.

Kronologis kejadian terjadi pada hari Senin (22/02/2021) dengan cara menawarkan upal senilai Rp.1,7 juta untuk dijual kepada AD di Desa Negeri Lama (Nelam) dengan harga Rp. 500 ribu. Selang sehari berikutnya, tersangka juga mengelabui penjual somai dengan uang 100 ribu rupiah palsu, yang ditukarkan dengan cara membeli dagangan korban seharga 10 ribu rupiah.

“Selanjutnya warga yang curiga mengetahui hal tersebut berinisial AD melapor ke Polsek Bokat. Kemudian personel Polsek Bokat melakukan pengembangan laporan warga, serta berkoordinasi dengan Satuan Reskrim untuk melakukan penyelidikan,” ujar AKBP Dieno Hendro Widodo.

Lanjutnya, keesokan harinya
kembali terjadi kepada pedagang eceran di wilayah Kecamatan Bokat. Tersangka AM membeli bensin seharga Rp.20 ribu menggunakan uang palsu pecahan Rp.50 ribu.

Ditambahkan oleh Kasat Reskrim Iptu Heri Setiyono, juga mengatakan, bahwa tersangka telah melakukan aksinya sebanyak 3 kali
sehingga atas dasar tersebut unit Tipiter Satuan Reskrim bersama Polsek Bokat memancing tersangka melalui AD untuk membeli uang palsu senilai Rp.1 juta dengan harga Rp.500 ribu uang asli. Saat terjadi transaksi di jembatan Nelam, langsung dilakukan penyergapan kepada tersangka.

“Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 36 Ayat (1), (2) dan Ayat (3) Undang-undang Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” tandas Iptu Heru.(SAR)

Pos terkait