Mantan Teroris Asal Tuban Buka Suara Soal Liciknya ISIS dan Jaringan JAD

  • Whatsapp

ANALISNEWS, TUBAN – Terjadinya bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang dilakukan oleh sepasang suami istri dan seorang perempuan yang menyerang Mabes Polri dengan menggunakan pistol hingga tertangkapnya terduga teroris di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Mantan teroris Arif Budi Setyawan akhirnya buka suara terkait aksi terorisme di Indonesia.

Dikutip dari Arif Budi Setyawan dikenal sebagai Arif Tuban yang pernah mondok pada tahun 1995 di Pesantren Al-Islam Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Pemilik Pondok Pesantren yang ditempati oleh Arif ini ternyata dibangun oleh dalang dibalik Bom Bali tahun 2002 yaitu Amrozi. Siapa sangka Arif ternyata masih ada ikatan family dengan Amrozi.

“Mengapa para pendukung ISIS yang menyebut kelompok mereka sebagai Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Indonesia masih gencar melakukan serangan¬† padahal ISIS telah kalah telak di Syiria dan Irak?,” Ucap Arif”,Jum’at (09/04/2021).

Arif yang sempat mendekam dibalik jeruji besi pada tahun 2014 ini juga bercerita pasca aksi teror di Mabes Polri yang dilakukan oleh seorang perempuan. Kenapa para pelaku nekat dalam aksi tersebut yang merugikan diri sendiri dan kelompoknya itu.

Jika mengacu pada push dan pull factor, maka push factor-nya yang paling utama adalah adanya keinginan untuk terus melakukan serangan teror guna menunjukkan eksistensi kelompok mereka (ISIS) yang telah kalah telak di Syiria dan Irak.

“Begini prinsip mereka (ISIS) boleh kehilangan wilayah, tetapi tidak boleh kehilangan prinsip ideologi yang telah menjadi brand, yaitu memerangi semua pihak yang dianggap musuh mereka. Karena jika tak ada serangan maka akan mematikan brand dan sebuah kehinaan,” kata pria yang terbebas dari penjara pada tahun 2017 itu.

Sedangkan pull factor-nya ialah membuat gejolak di masyarakat Indonesia yang sebagiannya mulai membenci kebijakan rezim penguasa. Untuk menimbulkan kegaduhan ditengah masyarakat dan tidak mungkin justru ada sebagian masyarakat yang ikut senang karena aksi mereka.

“Kelompok teroris sangat senang jika masyarakat membenci negara yang memang menjadi musuh mereka. Dengan kegaduhan seperti ini artinya negara terlihat semakin lemah,” tutur Arif.

Target utama yang ingin dicapai kelompok yang lemah bukanlah mengalahkan yang kuat. Tetapi menimbulkan kerugian yang sebesar-besarnya dipihak yang kuat dengan aksi yang seminimal mungkin. Dari pengalaman Arif yang juga sebagai orang yang pernah ikut dalam kelompok aktivis perang gerilya, “saya sangat faham pola pikir seperti di atas,”.

“Ingat, mereka ini sedang melakukan perang gerilya atau asimetris warfare. Yaitu pihak yang lemah melawan pihak yang kuat. Maka jangan sampai kita terbawa dari skenario tersebut,” pesan Arif mantan teroris itu.

Menurut Arif perang gerilya yang dilakukan oleh kelompok ISIS dan para pendukungnya, hanya fokus pada kemenangan pribadi. Yang penting beraksi untuk membuktikan tingkatan iman mereka. ISIS tak akan peduli setelah aksinya banyak kawan-kawan yang ditangkap oleh aparat maupun mati dalam aksinya. Justru mereka akan semakin liar dan berbahaya.

“Semangat persaudaraan mereka sangat lemah, hanya sebatas sama-sama semangat. Namun tidak ada lagi pertimbangan keselamatan orang lain,” imbuh laki laki yang sudah tobat itu.

Lanjut Arif, para teroris yang ditangkap akan meninggalkan keluarganya yang pasti akan semakin menderita. “Siapa yang akan mengurus keluarganya yang ditinggalkan itu? Dan seterusnya. Namun sayang hal seperti itu tidak pernah terlintas dipikiran mereka,” jelas Arif.

Arif menyinggung soal apa yang dilakukan teroris ini sangat receh bila dibandingkan era Azhari-Noordin M. Top dulu. “Saya pantau itu di Sosial Media pasca terjadinya serangan di Mabes Polri. Mereka yang mengaku ISIS dan pendukungnya senang karena terjadi glorifikasi,” tambahnya.

Secara garis besar isi glorifikasi mereka adalah memuji, bahwa seorang perempuan telah berhasil membuat institusi Kepolisian kerepotan dan mempertanyakan kemana para lelaki yang mengaku pendukung ISIS?.

“Malulah pada pelaku serangan bunuh diri di Mabes Polri yang berhasil menjatuhkan harga diri Polri,” bebernya.

Jadi begini Jika kita ikut melemparkan tuduhan bahwa aksi mereka sebagai settingan atau konspirasi, pengalihan isu, mencaci ketidakmampuan negara dalam menghadapi kelompok pelaku teror. Maka kita ikut menambah kegaduhan yang membuat mereka senang.

“Hei Stop! Hentikan itu sekarang juga! Lebih baik diam jika tidak bisa memberi dukungan. Jangan membuat para teroris senang karena kebodohan kita,” tutup Arif. (Red)

Pos terkait