Peringati Hardiknas, Aktivis GMNI Komisariat UKI Turun ke Jalan

  • Whatsapp
Aktivis GMNI Komisariat UKI lakukan aksi unjuk rasa di depan Kampus UKI Cawang Jalan Letjen Soetoyo, Kramatjati, Jakarta Timur

Bertempat di depan Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang Jalan Letjen Soetoyo, Kramatjati, Jakarta Timur, berlangsung aksi unjuk rasa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat UKI Cawang diikuti sekitar 20 orang peserta aksi dan koordinator lapangan (Korlap) Jansen Henry Kurniawan (Ketua GMNI Komisariat UKI), Rabu (4/5/2021).

Pukul 16.30 Wib, massa GMNI Komisariat UKI Cawang keluar dari kampus dan membagikan pres release aksi, pernyataan sikap untuk “Refleksi Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Dalam Bidang Pendidikan, Saatnya Berbenah”.

Jansen menyampaikan, Pendidikan merupakan suatu instrumen penting dalam membangun suatu bangsa dan peradaban bagi suatu generasi. Namun hari ini kita melihat bahwasanya pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan semangat awal yang dikumandangkan oleh para founding father. Tujuan awal pendidikan ialah membangun generasi bangsa yang produktif baik secara kualitas karakter maupun pengembangan potensi.

“Terlebih dalam situasi hari ini, ditengah krisis Pandemi Covid-19 selain keadaan yang membuat pendidikan menjadi semakin tidak efektif dan pemerintah hari ini seakan-akan menjadikan pendidikan sebagai suatu pengeluaran besar tanpa adanya bantuan yang tepat sasaran akibat krisis kesehatan ini” ungkap Jansen.

Adapun beberapa tuntutan GMNI Komisariat UKI diantaranya, pertama Segera selesaikan problem pandemi Covid-19 agar kiranya pendidikan dapat dilakukan secara langsung, sebab pendidikan online tidak efektif.

Kedua, Negara hadir dalam memberikan subsidi pendidikan yang mengedepankan prinsip tepat sasaran. Semisal keringanan biaya kuliah karena banyak krisis finansial akibat krisis pandemi ini. Juga pendidikan dengan biaya yang dikeluarkan sangat tidak sebanding.

Ketiga, Gerakan Merdeka Belajar bukan hanya slogan semata tetapi nyata dalam pengimplementasian.

Keempat, Jangan batasi ruang kritis mahasiswa dengan otoritarianisme yang dibangun dalam dunia pendidikan semisal skorsing DO dibanyak kampus yang semakin menjadi-jadi.

Pos terkait