LPA Deliserdang : Status Ramah Anak Pesantren Darularafah Raya Kebohongan Semata

  • Whatsapp

ANALISNEWS, Deli Serdang-Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Deliserdang menyatakan status ramah anak Pesantren Darularafah Raya, hanyalah kebohongan semata.

Bagaimana tidak, praktek kekerasan fisik, psikis, verbal dan diskriminasi dialami oleh santri masih mengakar.

Demikian disampaikan Ketua LPA Deliserdang, Junaidi Malik menjawab wartawan, Kamis (10/6/2021).

“Seyogianya kepala yayasan serta pengajar dapat menyusun dan menerapkan Prosedur Operasi Standar (POS) pencegahan tindak kekerasan dengan mengacu kepada pedoman yang ditetapkan Kementerian PPA. Tetapi, justru hal demikian tidak berjalan dengan baik, di mana santri bukan mendapat pembelajaran ke islaman, religius, serta berkarakter malah jadi korban keberingasan yang dilakukan oleh kakak kelas,” ujar Junaidi Malik.

Junaidi mengungkapkan, kasus penganiyaan dialami santri bukan pertama terjadi, melainkan telah berulang kali.

“Dari catatan LPA, penganiayaan dialami santri pernah terjadi pada tahun 2018, dan berakhir damai. Kemudian hal serupa mendulang lagi di tahun 2020 dan 2021 Itu juga berakhir perdamaian. Selanjutnya terjadi kembali dengan mengakibatkan santri meninggal dunia,” ungkapnya.

Junaidi menilai, penganiayaan dialami oleh santri sampai berulang kali, membuktikan status ramah anak Pesantren Darularafah Raya, hanya dijadikan pajangan saja.

“Untuk itu, kita minta Bupati Deliserdang untuk mencabut status pesantren ramah anak. Itu karena kepala yayasan serta pengajar telah gagal dalam upaya memberikan perlindungan kepada santri dari kekerasan fisik, psikis, verbal dan diskriminasi dilakukan senior,” ujarnya.

Selain itu, Junaidi berpendapat Pesantren Darularafah Raya tidak layak menyandang status ramah anak, melainkan ‘sarang’ kekerasan kejahatan bagi santri di sana.

“Kekerasan dialami santri bentuk bukti pihak pesantren lalai dalam pengawasan sehingga  peserta didik terus-menerus mendapat penganiayaan. Sepertinya ini sudah menjadi tradisi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, santri FWA (15) niat mengenyam pendidikan di Pesantren Darul Arafah Raya di Desa Lau Bekri, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang, berakhir dengan tragis.

Warga Jalan Rantau, Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang ini meninggal dunia dianiaya kakak kelas, Sabtu (6/6/2021).

Pun demikian, pelaku penganiaya tersebut sudah diamankan oleh kepolisian Polsek Kutalimbaru, Polrestabes Medan.

Diketahui: kepolisian sudah menetapkan tiga orang tersangka atas kasus penganiyaan tersebut. Pelaku utama adalah ALH (17) lalu dua santri lainya. Ini disampaikan Wakasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Rafles Langgak Putra Marpaung.