Berkunjung Ke Liang Bua: Situs Arkeologi Homo Florensiensis Yang Ada di Flores

  • Bagikan

Tak hanya alam dan laut yang memberi kesan indah dan penuh pesona, ternyata di Flores juga terdapat situs Homo Florensiensis. Namanya Liang Bua salah satu situs goa yang terletak di daerah perbukitan karts di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, tepatnya terletak di Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Nama “Liang Bua” berasal dari Bahasa Manggarai-Flores, “Liang” berarti gua dan “bua” berarti dingin, jadi Liang Bua dapat diartikan “gua yang dingin”. Tidak hanya menjadi tempat penemuan manusia hobbit dari Flores, di dalam Liang Bua Hobbit dari Flores ini juga terdapat beragam penemuan sisa manusia dan hewan purba.

Bila wisatawan ingin berkunjung ke lokasi ini, bisa melalui Kota Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi darat menuju kota Ruteng dengan waktu tempuh sekitar 3 – 4 jam dari Labuan Bajo. Sepanjang perjalanan pengunjung akan dimanjakan dengan suguhan pemandangan alam Flores yang indah dan tak akan membosankan. Destinasi Wisata Liang Bua saat ini telah masuk dalam daftar travel map Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama 29 Destinasi dan Desa Wisata lainnya yang ada di Flores, Lembata, Alor, dan Bima (Floratama).

Bila sudah sampai di kota Ruteng, menuju lokasi Liang Bua bisa ditempuh dengan waktu 20 menit menggunakan angkutan umum ataupun ojek. Sebaiknya menggunakan kendaraan sendiri, dan jangan lupa ketika hendak melakukan penelusuran, disarankan untuk menggunakan jasa pemandu penduduk setempat agar lebih aman.

Jalan menuju ke lokasi gua ini cukup sempit, juga jalur yang cukup menantang yang berkelok pada topografi dataran tinggi. Sepanjang jalan kamu akan disuguhi dengan pemandangan khas pedesaan dan sawah maupun kebun kopi yang tumbuh di seoanjang jalan. Rasa letih akan terbayar dengan pemandangan cantik Gua Liang Bua.

Saat menapaki gua, pengunjung seakan diajak masuk kedalam lingkungan manusia purba, membayangkan kehidupan mereka ribuan tahun lalu. Kamu bisa melihat gua besar dengan stalagtit dan stalagmitnya. Untuk informasi lengkapnya bisa kamu dapatkan di Museum mini yang berada dekat gua yang berisi tentang informasi seputar gua Liang Bua. Dekat Liang Bua, ada gua-gua lain seperti Gua Galang dan Gua Tanah.

Gua Liang Bua banyak dikenal dan dikunjungi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Banyak penelitian menunjukkan manusia purba yang ditemukan berukuran kecil atau kerdil. Pada 2001 ditemukan fosil yang hanya memiliki tinggi 100 cm dengan berat yang diperkirakan hanya 25 kg. Informasi tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan tahun 2001 yang merupakan kerjasama antara University of New England, Australia dengan Arkeolog Nasional. Manusia purba yang ada di gua ini memang mencuri perhatian dunia arkeologi karena dari berat dan tingginya mirip seperti Hobbit.

Sejak dilakukan penelitian pada tahun 1965 oleh Theodore Verhoven, seorang Pastor dari Belanda yang mengajar di Seminari Mataloko, Kabupaten Ngada, Flores Tengah, kemudian dilanjutkan oleh Pusat Penelitian Arkeolog Nasional (Pusat Arkenas) tahun 1978-1989, dan berlanjut dengan penelitian kerjasama antara Puslit Arkenas dengan Universitas New England dan Universitas Wollongong, Australia dan tahun 2001 hingga saat ini di Situs Liang Bua, telah banyak menghasilkan temuan arkeolog yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan.
Temuan yang paling spektakuler ditemukan pada 2003 yaitu fosil manusia purba Homo Florensiensis.

Hasil analisis yang dilakukan pada tahun 2003 menyatakan bahwa Situs Liang Bua berusia sekitar kurang lebih 13.000 -12.000 tahun. Namun, pad tahun 2007-2014 para peneliti Situs Liang Bua dari Pusat Arkenas bekerja sama dengan Universitas Wolongong, Australia dan Program dari Smithsonian Institute melakukan evaluasi terhadap usia tulang Homo Florensis dan sedimen yang mengandung fosil.

Gua ini adalah gua karst yang terbentuk karena proses cuaca. Liang Bua menjadi tempat tinggal bagi manusia Homo Floresiensis atau Hobbit dari Flores. Hal ini terlihat dengan ditemukannya potongan rangka, rahang bawah, perkakas bekas Homo Erectus, serta sisa-sisa tulang Stegodon (gajah purba) kerdil, biawak raksasa, serta tikus besar. Hampir semua lapisan yang mengandung temuan tersebut berusia antara 95.000-12.000 tahun. Tidak mengherankan arkeolog dari Belanda, Inggris, dan Indonesia menjadikan gua ini sebagai tempat penggalian dan penelitian sejak 1930-an.

Dari uji laboratorium sampel sendiman dipojok selatan Goa Liang Bua terbentuk dari 190.000 tahun silam. Gua ini terbentuk dari bebatuan yang terbawa arus sungai hingga terbentuk gundukan bukit. Dari dalam gua anda juga dapat melihat stalagtit yang menawan menjuntai di langit-langit gua. Pemandangan ini dapat dinikmati dengan mudah karena gua ini dijadikan tempat wisata dan tempat penelitian kelas internasional.

Fosil-fosil Homo Floresiensis berasal dari sekitar 100.000 dan 60.000 tahun yang lalu, dan alat-alat perkakas batu yang ditemukan sekitarnya pun berusia antara 190.000 dan 50.000 tahun.

Gua yang terbentuk secara alami dan terkikis oleh hujan selama jutaan tahun ini membentuk suatu pahatan berkarya dan alami yang menggantung di atas dari menonjol di bawah serta dari dinding yaitu stalagmit dan stalagtit. Adanya sinar matahari yang menyoroti bagian dalam gua membuat hasil bentukan alami tersebut semakin eksotis dan menarik.Menghabiskan waktu di kawasan wisata alam dalam rangka plesir ke Liang Bua yang bersejarah ini merupakan pilihan paling tepat untuk dapat melihat langsung kebesaran Tuhan yang memberikan keistimewaan bagi Indonesia dengan beragam budaya, sejarah, pesona alam dan keanekaragaman hayati dalam mengungkap keberadaan dan asal-usul nenek moyang.

  • Bagikan