Banjir Bandang Sukawening Garut, Pipa Gas Milik Pertamina Terdampak

Garut, Analisnews – Dengan adanya musibah atau bencana banjir bandang yang terjadi di Sukawening. Bupati Garut, Rudy Gunawan mengatakan bahwa peristiwa banjir bandang yang menerjang wilayah Kecamatan Sukawening dan Karang Tengah tidak hanya menyebabkan terdampaknya rumah dan fasilitas lainnya milik warga. Pipa gas milik Pertamina Geothermal Energy (PGE) Karaha pun ikut pula terdampak.

Dalam peristiwa banjir bandang, Bupati mengungkapkan bahwa ada pergeseran pipa gas milik PGE Karaha. “Di PGE itu kemarin ada gerakan-gerakan (pergeseran) yang hubungannya dengan pipa (gas). Karena PGE Ini, hujan dari ini dari atas deras sekali menimpa PGE dulu, terus kebawah kesini gitu,” ucapnya. Senin,29/11/21.

Selain itu, Bupati juga menyebut bahwa di sekitar area PGE terjadi retakan-retakan, pergerakan tanah akibat hujan besar. Retakan-retakan itulah yang kemudian menjadikan terjadinya pergeseran pipa-pipa milik PGE.

“Ada retakan-retakan, jadi bergeser (pipa gas milik PGE) karena hujan besar. Hujan besar di atas dari (kawasan) perhutani, hutan, menuju ke PGE. PGE itu hanya bergeser pipanya. Saya ada fotonya,” sebutnya.

Bupati mengatakan bahwa atas kejadian bencana banjir bandang di Sukawening dan Karang Tengah, pihaknya sudah menetapkan masa tanggap darurat bencana selama tujuh hari, mulai Minggu (28/11). Setelah itu ditetapkan, pihaknya melakukan proses-proses lainnya dalam hal penanganan.


Di masa tanggap darurat itu, ia menjelaskan bahwa hal yang saat ini diutamakan adalah dalam hal penyediaan air bersih. “Sebetulnya yang utama mengecek korban jiwa, dan Alhamdulillah tidak ada. Jadi setelahnya adalah air, kebutuhan hidup mereka (masyarakat), ketiga infrastruktur, lalu yang lainnya. Jadi sekarang kita fokus ke air dulu,” jelasnya.

Bupati mengatakan bahwa hingga saat ini diketahui akibat banjir bandang dua rumah terbawa hanyut dan dua lainnya mengalami rusak berat. Untuk rumah yang hanyut, pihaknya akan memberikan bantuan kepada warga sebesar Rp50 juta.

“Untuk yang rusak berat, akan dilakukan dulu assessment. Kalau yang rumahnya terdampak lumpur, kita akan akan berikan bantuan uang Rp1 juta untuk membersihkan ruma,” katanya.

Selain untuk rumah yang terdampak, Bupati juga mengaku saat ini sedang menghitung area sawah yang terdampak termasuk uang pengganti proses budidaya. Data awal yang diterima Bupati, sawah yang terdampak mencapai 42 hektar.

“Mungkin sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta per hektar (untuk uang pengganti),” pungkasnya.( DK )