3 Tahun Layani 2 Tubang Kaya, Ini Pengakuan Cewek Malam yang Tergila-gila Susuk ala Abah Rahman

  • Bagikan

NAMANYA Ike. Panggilannya juga begitu. Tiga tahun sudah dia hidup dalam dua ranjang berbeda. Melayani kebutuhan seks yang tinggi, bahkan mendalami berbagai gaya bercinta. Semua demi memuaskan hasrat dua lelaki Tubang. Berikut kisahnya.

Om Irvan. Sebut saja begitu. Ini Tubang pertama gadis 33 tahun itu. Menempati rumah di sebuah komplek kecil wilayah Medan Johor, tiga tahun sudah Ike hidup bersama laki 55 tahun itu. Ike bercerita. Bersama pengusaha dan politisi itu, kehidupan seks serasa dipuja. Bagi Om Irvan, seks seperti sumber energi. Dan, lewat Ike-lah kekuatan itu datang. “Memang kami tidak setiap hari (ber)sama, dia kan ada istri. Tapi bukan berarti jarang jumpa. Hampir setiap tiga hari sekali dia ada ke rumah, walaupun tak lama, bentar-bentar aja, ya hanya ‘untuk itu’… habis itu ya pergi,” beber Ike sambil menjentikkan rokoknya di hadapan wartawan Anda, baru-baru ini. Di sela ritus perawatan susuknya di rumah praktik Abah Rahman (Jalan Halat Gang Umar No.1 Medan), Ike –yang terus digoda bercerita– akhirnya blak-blakan menguak secuil perilaku seksnya. “Oke ini salah satu adegan hot kami, hahaaa…”

Suatu sore, seperti biasa, Om Irvan tiba di rumah Ike. Seperti biasa pula, Tubang ini selalu penuh romantis. Membawa seabreg belanjaan ‘tuk kelengkapan isi dapur Ike, om murah senyum itu datang dengan cinta. Ike, yang tubuh sintalnya selalu berbalut busana ‘terbuka di sana sini’, pun kontan menyambut cinta laki-laki itu. Dan tanpa banyak ba bi bu, mereka pun bercinta.

Di sudut kamar sisi ranjang, Om Irvan mulai meluapkan nafsunya. Ia merangkul gadis itu, melepas kaos dan celana pendeknya. Kalau sudah begitu, Ike pun sadar. Gadis ‘berpengalaman’ ini kembali diminta memberi si om pelajaran bermain cinta.

Begitulah. Ketika om itu nafasnya mulai megap-megap karena birahi, mulut Ike pun berpindah. Ia mengalihkan ciumannya ke paha si om. Lidah Ike begitu lincah. Dengan halus ia ciumi paha laki tua itu. Om Irvan pun hanya bisa merintih. Ia kegelian. Geli yang menusuk sukma.

Ike tak berhenti di situ. Ketika birahi om Irvan mulai terbangun, ia meneruskan rangsangannya lebih ke atas. Dengan mulut dan tangan, ia obok-obok daerah vital si om. Ike memang profesional. Ia pelan menindih tubuh om ini.

Seraya membisikkan kata-kata mesra di telinga si om, Ike pun mulai melakukan tugasnya sebagai perempuan jago di ranjang. Om Irvan sontak merintih. Ia terangsang hebat. Laki ‘kurang jago’ itu seperti cacing kepanasan. Tubuhnya menggeliat, mulutnya menceracau tak jelas, dan tangannya merangkul ketat ke tubuh Ike yang aduhai.

Dan, sejurus kemudian, om Irvan pun terdengar melenguh. Ia merasakan tubuhnya seperti melayang di awang-awang. Saat itu pula tubuh Ike semakin bergerak nakal. Dia bergoyang seperti mengikuti irama gelombang.
Om Irvan lalu merintih, menegang, kemudian terkapar. Begitu pula Ike. Keduanya telanjang berangkulan di ranjang. “Udah ah, gilak!!” Ike menyudahi cerita nakalnya.

Seperti om Irvan, menurut Ike, om Erwin (57), Tubang lain yang empat bulan terakhir merajut asmara dengannya (tanpa setahu Irvan) pun setali tiga uang soal nafsu birahi. “Karena (‘tuk melayani) dua Tubang itulah, Ike jadi sering ke sini,” sambung gadis ini soal kehadirannya di rumah jasa klenik Abah Rahman. “Ya susuk ini harus dirawat biar Ike tetap ueenak gilak bagi mereka,” tandasnya sambil tergelak. Nah, berlatar kekuatan susuk emas Abah Rahman, seperti apa kiranya keseruan senggama Ike dengan om Erwin? Tunggu kisahnya. (*)

  • Bagikan