Ayam Sajen Marissa ke Abah Rahman Antarkan Kisah Seks Rp.100 Juta  

AYAM Petok. Demikian Abah Rahman menamakan ayam putih khas sajen darinya. Dinamakan begitu karena suaranya ‘petak petok’ sepanjang unggas itu diritualkan. Ulang kali disajenkan, ulang kali pula pemilik niat laku ritual itu (masing-masing) mereguk hasil. Marissa (27), perempuan panggilan di Medan, salah satu yang telah membuktikan efek mistis ritus itu. Ini tulisan hasil olah tuturan tertulis Marissa.
Marissa, mantan ‘ayam kampus banyak susuk’ itu, adalah pasien lama Abah Rahman. Saking lama, barang miliknya sering ketinggalan di rumah praktik paranormal itu (Jalan Halat Gang Umar No.1 Medan). Diary adalah temuan terbaru dari ketelodoran Marissa. Tapi tidak cem diary umumnya, buku kecil sampul biru itu cuma berisi catatan penggalan dua rahasia suka duka Marissa. Seingat Abah Rahman, diary itu tertinggal saat gadis cantik itu datang terakhir kali, awal Desember 2021 (sebelum kemudian dia terbang ke Dubai). Di sana, seorang lelaki kaya –dikenal lama lewat internet– telah menunggu Marissa.

“Bacalah, habis itu boleh ditulis,” pesan Abah Rahman pada wartawan penerima diary. “Sekarang dia sudah lebih bahagia,” sambung Abah soal nasib pemilik diary.

Setebal 20 halaman, ‘manuskrip’ Marissa dibuka dengan adegan seram. Ternyata gadis ini dulunya korban perkosaan. Tak disebutnya siapa laki biadab itu. Begitu juga lokasi peristiwa. Tapi dia mencatat kejadian itu pada Mei 2017. Setelah ditata di sana sini, begini tulisnya soal peristiwa ‘malam jahanam’ itu.

‘Dengan buas lelaki itu melompat menerkamku. Tapi aku dengan gesit berguling ke tepi tempat tidur dan meraih handphone. Ketika dia berusaha merebut ponsel itu, aku menghantamkannya kuat-kuat ke wajahnya. Lalu aku melompat dan berlari ke pintu. Tapi sekali lagi dia lebih cepat. Dia menerjangku dan kami jatuh bergulingan di lantai. Ketika tubuh kami menabrak meja, dua buah botol minuman bergulir ke atas ranjang. Aku lebih dulu meraihnya. Dan tanpa ragu-ragu menghantamkannya ke kepala bajingan itu. Malam itu aku selamat. Tapi tidak esok hari’.

November 2021, Marissa kembali mengisi diary itu. Kali ini suasana hidupnya terasa lebih bahagia. Marissa menulis soal hubungan intimnya dengan seorang lelaki mapan. Om Ivan, demikian dia menyebut tubang itu. Meski tak ada penjelasan soal lokasi peristiwa, atau latar hidup si gaek kaya itu, atau berapa lama sudah mereka berkisah kasih, tapi keromantisan itu terjadi di bulan tak lama setelah Marissa dan Abah Rahman bikin laku ritual ayam putih. Kuat dugaan, itulah kisah terakhir Marissa bersama Om Irvan. Dan besoknya, duit Rp.100 juta dari si om masuk ke rekening Marissa, lalu tak lama berselang gadis ini pun meninggalkan Medan. Begini tulisnya soal keromantisan bernilai Rp.100 juta itu.

Marissa sangat menikmati kebersamaannya dengan Om Ivan di suatu tempat yang demikian indahnya. Mereka duduk berpelukan di teras , memandang jauh ke lembah di bawah sana, ketika sejuta bintang bertaburan di langit. Dan seribu tonggoret mengalunkan simfoni malam. Sementara di latar belakang, di dalam vila, perapian tengah menyala menghanguskan seonggok kayu bakar yang berderak-derak dengan suara yang khas. Lidah apinya bergoyang-goyang menebarkan kehangatan ke sekelilingnya. Sambil mengucapkan sesuatu, Marissa pun merapatkan tubuh seksinya ke tubuh Om Ivan. Laki ini pun menyambut itu dengan mesra. Dikecupnya leher Marissa dengan hangat. Marissa membalas pelukan Om Ivan dengan bergairah. Dan sejurus kemudian, Om Ivan menggendong Marissa ke dalam. Mendorong pintu dengan kakinya. Dan meletakkannya dengan hati-hati di atas permadani di depan perapian. Om Ivan menciumi wajah dan bibir Marissa. Bibirnya terus merayap turun ke bawah, menjelajahi leher dan tempat-tempat yang paling erotis di tubuh Marissa. Gadis ini sangat menikmati cumbuan sang om sehingga rasa sakit yang amat sangat pun tidak mampu menghalanginya untuk menerima cinta terlarang lelaki mapan itu. Wajah Marissa membiaskan rasa nikmat yang berbaur dengan rasa nyeri di hati. Seperti sebatang kayu di perapian yang terbakar hangus ketika membagikan kehangatannya….

Ketika semuanya sudah berakhir, Om Ivan terkapar di atas permadani. Terlelap dengan damainya. Begitu juga Marissa. Tubuh mereka masih terbuka. Tapi, rasa sakit hati karena apakah yang saat itu melanda Marissa?

“Kalau itu, ya cuma dia yang tau. Yang jelas, ritual dengan sajen Ayam Petok yang bentuknya putih mulus dapat mewujudkan isi permintaan hati yang tulus. Ingat, permintaan itu harus kuat di hati. Seperti dek Marissa yang diam-diam ingin meninggalkan Medan tapi untuk itu dia butuh uang pegangan karena dia mau tinggal di negeri orang. Syukur… karena dia mengikuti semua petunjuk syarat dari Abah, rejeki yang sangat diinginkannya itu pun akhirnya didapatnya. Yang penting yakin dan buang jauh logika. Kalau gak yakin dan selalu pakai logika, ya bagusnya gak usah berobat ke Abah,” tandas Abah Rahman soal jasa supranaturalnya. (*)