Tundukkan Hati Lawan Asmara, Juga Musuh Politik & Bisnis, Abah Rahman Praktekkan Isi Kitab Kuno Nusantara

ABAH Rahman. Mewujudkan diri spiritualis sebenar-benar spiritualis, lelaki edan ini terus bereksplorasi dalam dunia ilmu kebatinan. Tak tanggung, ritual teranyarnya menyelami sebuah ajaran kuno Nusantara. Bukan gampang memang. Tapi fakta soal itu telah menggelinding. Duo gadis petualang cinta dan seorang pengusaha ‘nakal’ serentak mengaku tak bisa melogikakan keampuhan ilmu warisan peradaban baheula itu. Ini kisahnya.

Semua berawal dari sepotong kabar. Melayang di telinga Abah Rahman, kabar itu menyebut soal banyaknya manuskrip peninggalan budaya Nusantara tersimpan di luar negeri. Kabar kabur itu terus coba disingkap Abah Rahman. Saking getol, dukun ini kemudian berkenalan dengan seorang WNA (warga negara asing) yang telah lama mukim di pinggiran Kota Medan. Dari penjelasan laki asing itulah Abah Rahman mendapat banyak info tambahan soal misteri raibnya pusaka-pusaka Nusantara itu. Mr Tho**”, demikian bule brewokan itu tak ingin identitasnya terkuak.

“Saya biasa memanggilnya Mister. Bahasa Indonesia-nya sudah lumayan lancar,” tukas Abah Rahman. Mister Tho dikenal menyenangi budaya-budaya warisan Indonesia. Wawasan pengetahuannya, terutama antropologi juga bagus. “Sudah belasan tahun dia tinggal di sini. Mister menikahi cewek Medan. Awalnya mereka kenal lewat Facebook. Anak mereka sudah ada,” sambung si Abah. Tapi di tahun baru berlalu, bule itu tertimpa duka. Penyakit ginjal akut melayangkan nyawa istri tercinta. “Membawa anaknya, dia akhirnya kembali ke negara asalnya. Tapi lewat internet kami masih sering berhubungan,” sambung Abah lagi. Menjual puluhan unit rumah sewa miliknya dan membawa kenangan istri tercinta, Mister Tho kembali ke kampungnya, Melle, kota kecil bersuhu dingin di Jerman. Meski telah dipisah jarak, aksi Abah Rahman mencari tahu nasib warisan-warisan kuno itu tak pernah surut. Lewat media sosial, Mister Tho terus saja dicecarnya. “Dan akhirnya saya jadi tau, manuskrip dan pusaka-pusaka sakti nenek moyang kita itu rupanya banyak tersimpan di 8 negara. Belanda, Inggris, Malaysia, Perancis, Jerman, Rusia, Afrika Selatan, dan Sri Lanka,” kata Abah Rahman, terdengar geram.

Manuskrip adalah naskah tulisan tangan. Di situlah semua peradaban nenek moyang kita tertulis. Mulai dari pemikirannya, pengetahuan mistik, ritus pengobatan, adat istiadat, serta segala kearifan atau kebiadaban masyarakat masa itu.  Semuanya tak ada tak mengandung makna. Semua mengandung dimensi yang luas. Terbukti sudah faedah atau kesaktiannya. Nah celakanya, jumlah manuskrip Nusantara yang raib itu lebih banyak dibanding peninggalan budaya material non tulisan, seperti candi atau istana. Itulah yang membuat Abah Rahman kian geram. Beruntung perburuannya melacak keberadaan warisan-warisan Nusantara kuno itu tak berlangsung lama. Lewat bantuan MisterTho, dukun asal ‘seribu kuburan keramat’ itu belum lama ini mendapat kiriman foto-foto segepok salinan manuskrip. Beruntungnya si Abah. “Wah, saya memang beruntung sekali punya sahabat yang pengertian seperti beliau. Kalau soal tingkat menghargai warisan budaya leluhur Nusantara ini, malah kita sebenarnya yang orang asing di negeri sendiri. Malu kita, tak banyak yang peduli dengan warisan-warisan leluhur yang banyak digondol ke luar negeri itu,” keluh Abah Rahman. Begitulah. Foto-foto manuskrip kiriman Mister Tho serasa menjadi obat penawar bagi cenayang ini. Terdiri dari 33 lembar naskah dengan tulisan aksara Jawa kuno, manuskrip itu ternyata berisikan sejumlah ajaran ritual sakti. Itu diketahui setelah Abah Rahman, dibantu beberapa teman sesepuh dari aliran Kejawen, bersusah payah hingga berhasil mengartikan isi kandungan naskah kuno tersebut.

“Manuskrip itu bercap Giriloyo. Itu namanya,” jelas Abah Rahman sedikit soal asal usul naskah kuno itu. Giriloyo adalah nama sebuah ‘dusun mistik’ di Bantul, Jokjakarta. Lalu dari mana Mister Tho menemukan manuskrip berisi ajaran ilmu-ilmu kesaktian itu? Jerman? “Bukan. “Manuskrip itu ternyata tersimpan lama di Perpustakaan Universitas Leiden,” jelas Abah Rahman, usai mendapat warta itu dari Mister Tho. Berdiri sejak abad 16, Universitas Leiden adalah universitas tertua di Belanda. Manuskrip Giriloyo bukanlah pusaka biasa. Karena bisa membuat banyak orang pribumi menjadi sakti, Belanda yang masa itu menguasai seantero Tanah Jawa sengaja ‘menyingkirkan’ kitab keramat itu hingga ke negerinya. Saking keramat, Abah Rahman bahkan butuh waktu hampir 90 malam untuk bisa menyelami semua ajaran ritual dan amalan dalam manuskrip Giriloyo. Selain Giriloyo, sejumlah naskah Jawa kuno lain dilaporkan turut tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. “Wah, banyak sekali ilmu di dalamnya,” Abah Rahman mulai membedah isi naskah kuno Giriloyo. “Di antaranya ada ajaran ‘Martabat 7”, ini ilmu kuno untuk menaklukkan hati siapa saja. Dulu kan begitu aja caranya. Nah dalam konteks problem jaman now ini, ya entah itu menaklukkan hati suami, istri, pacar, atau tubang yang tak lagi royal, ya semua bisa aja, bahkan untuk membungkam hati lawan-lawan politik atau dunia bisnis. Itu orang-orang Deliserdang yang sebentar lagi mau gelar Pilkades serentak, ayo sini, siapa lawan yang mau dibungkam. Ditundukkan hatinya.  Ditundukkan setunduk-tunduknya. Di lembar lain naskah, ada juga cara ritus alam arwah, ini ajian untuk mendapatkan kekuatan ‘dunia lain’. Kalau ini ya untuk mencelakai orang melalui benda-benda tertentu yang dikirim ke dalam tubuh korban, agar yang bersangkutan binasa.

Banyak sekalilah kesaktian dalam naskah kuno Nusantara ini. Ajian tubuh kebal bacok juga ada, ya sini (datang) ke Abah biar diisi. Biar dibuktikan. Bahkan bacaan agar seseorang bisa menggoreng sesuatu atau apa saja di kepalanya pun ada. Serius! Inilah bukti warisan kehebatan para leluhur kita.” Semua penjelasan dari dukun sohor Tanah Deli ini tampak diiringi anggukan dan geleng kepala 3 sosok di sampingnya. Mereka adalah dua gadis jalang yang lagi kegirangan karena berhasil mengilik-ngilik hati tubang masing-masing, serta seorang pengusaha bisnis ilegal yang ingin nasib usahanya selalu aman. “Kalau kami pikir-pikir ya jelas sangat gak masuk akal, mosok kemarin kita sudah dibenci setengah mati, diancamlah, mau diputusinlah, ngeluarkan duit pun sudah gak mau, lho kok tadi siang si Om jadi romantis banget, tiba-tiba ngambur-ngamburkan uang, nanya kita mau apa, pingin dibeliin apa, trus ngajak shopping,  gilakllah….bisa berubah balik jadi baik dalam sekejap,” seru dua gadis itu, Eva (27) dan Noni (25), menggeleng keheranan. Sehari sebelumnya, dipandu Abah Rahman, gadis-gadis itu menggelar rangkaian ritual ‘Martabat 7’. Heri Sugara (40), pengusaha yang tak mau menjelaskan jenis usahanya, juga senada dengan dua cewek seksi itu. “Delapan bulan sudah saya bingung cemmana cara nagih uang saya dari teman yang minjam itu. Sampai saya sewa debt collector, gak berhasil juga. Padahal 4 preman yang saya kirim ke  dia itu semua tampang dan badannya seram-seram. Malah ada yang mantan pembunuh. Lho tapi kok cem gak ada angin gak ada hujan, pas saya dah hampir putus asa, si kawan biadab itu bisa tiba-tiba datang, nongol di rumah saya, minta-minta maaf, dan dia membayar semua utangnya ke saya. Tiba-tiba dilunaskannya. Segampang itu jadinya…..hahaha…bisa gilak saya kalo terus ngingat keanehan yang menggembirakan saya itu,” aku Heri soal keampuhan ajian menggerakkan hati lawan, ajaran terbaru Abah Rahman itu. Hati-hati yang punya hati. (*)