IPB Peduli Beri Santunan untuk Anak Yatim di Desa Ciherang

ANALISNEWS, BOGOR – Sudah menjadi kegiatan rutin tahunan setiap bulan ramadhan bagi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB University untuk mengadakan kegiatan santunan kepada anak yatim. Kegiatan yang bertajuk #IPBPeduli pada tahun ini menggait 17 desa yang berada di lingkar kampus IPB University.

LPPM IPB juga mengikutsertakan mahasiswa sebagai volunter dalam kegiatan verifikasi data dan pembagian santunan. Salah satu tim mahasiswa yang ditugaskan di Desa Ciherang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor memulai kegiatan verifikasi di tengah bulan puasa. Walaupun harus mendatangi rumah warga satu persatu di tengah panas bulan puasa, Hanan, Dini, Okta, dan Fahri tidak kehilangan semangatnya.

Kegiatan dimulai pada hari Rabu 13 April, Fahri dan Okta menyerahkan surat perizinan turun lampang ke kantor desa sekaligus meminta bantuan kepada pihak desa termasuk ketua RT dan RW untuk mengumpulkan data anak yatim. Setelah itu verifikasi data dilakukan selama 5 hari dari tanggal 14-18 April 2022 dengan data awal berjumlah 130 anak.

Proses verifikasi dilakukan dengan memanfaatkan inovasi Data Desa Presisi (DDP) dengan menggunakan pendekatan Drone Participatory Mapping (DPM), sehingga dapat diperoleh data yang lebih akurat dan santunan yang diberikan dapat tepat sasaran. Saat turun lapang, tim kami diberikan akses melalui website ipbpeduli.desapresisi.id yang harus mengunggah foto terbaru dan lokasi presisi rumah anak yatim. Tim kami mengalami kesulitan karena sinyal di desa yang kurang bagus sehingga proses pengunggahan sering terganggu. Hal inilah yang menghambat verifikasi sehingga banyak waktu terbuang.

Dalam proses turun lapang ke rumah warga, tim kami dibantu oleh ketua RT 05/10 dalam melakukan pencarian rumah anak yatim. Pak Heri, mengaku hal ini sangat membantu warga nya sehingga beliau degan tulus membantu memudahkan pekerjaan kami menjadi lebih efisien.

Setelah melalui proses verifikasi dan pensortiran sesuai kriteria yang diinginkan oleh donatur, Desa Ciherang mendapatkan santunan sebanyak 84 anak yatim. Setiap anak yatim yang telah diverifikasi akan mendapatkan kartu anak yatim yang dilengkapi dengan barcodeBarcode tersebut digunakan pada penyerahan santunan yang akan dipindai melalui web IPB Peduli sebagai bukti bahwa anak yatim telah disantuni pada tanggal 25-26 April 2022.

Hari penyerahan santunan dimulai dengan acara pelepasan verifikator IPB Peduli yang dilakukan di lapangan rektorat IPB University, yang dihadiri oleh pimpinan IPB University, pihak LPPM IPB University, perwakilan pihak 17 desa di lingkar kampus IPB University, dan verifikator IPB Peduli. Setelah dilakukan kegiatan pelepasan, para verifikator melakukan kegiatan santunan dengan mendampingi pimpinan LPPM.

Tim dari Desa Ciherang dapat kesempatan untuk mendampingi Prof. Dr. Ir. M. Faiz Syuaib, M.Agr sebagai wakil kepala LPPM Bidang Penguatan Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan bersama asisten dan staf nya. Beliau sangat bersemangat ketika pergi bersama kami ke desa menggunakan motor pribadi nya.

Proses pemberian santunan terasa sangat mengharukan ketika tim kami disambut oleh wajah anak-anak yang telah berharap dari beberapa hari yang lalu. Okta, salah satu anggota tim kami mengatakan “Banyak anak-anak yang bersiap menemui kami dengan baju rapi dan senyuman yang cerah, rasanya lelah yang kami rasakan hilang dan sirna semua”.

Bahkan ketua RW 09 yang mengumpulkan anak yatim di mesjid dekat rumahnya memberikan kesempatan kepada anak-anak yang ingin mengungkapkan rasa terima kasih secara langsung kepada tim kami sebagai perantara antara donatur dan anak yatim.  Walaupun dengan malu-malu Raena dan Aldin sebagai perwakilan dari teman-temannya mengucapkan terimakasih dengan sangat tulus. Hati kamipun merasa sangat hangat ketika mendengarnya walaupun di tenngah hujan deras yang tiba-tiba datang.

Setelah kegiatan kami rampung, banyak nilai dan pembelajaran yang bisa kami dapat sebagai mahasiswa yang selama ini hanya duduk manis dibalik laptop. Kami merasakan bagaimana rasanya berkomunikasi langsung dengan masyarakat, mendengar keluh kesah mereka secara langsung ketika kami megunjungi rumahnya, cara berkerja sama dengan perangkat desa, dan menghargai hal-hal kecil yang menurut mereka sangat berharga. Bukan seberapa jumlah yang kami dapatkan tapi bagaimana proses yang kami jalani selama ini.