Manajemen Pengelolaan Sampah tehadap Konsumsi Berkelanjutan Rumah Tangga

MANAJEMEN PENGELOLAAN SAMPAH TERHADAP KONSUMSI BERKELANJUTAN RUMAH TANGGA
Ilsutrasi sampah. (Foto: Pixabay.com/Hans)

ANALISNEWS, BOGOR – Konsumsi berkelanjutan atau disebut juga sustainable consumption merupakan suatu pola konsumsi barang dan jasa yang tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan guna memenuhi kebutuhan dasar manusia (Sari 2017).

Konsumsi Berkelanjutan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia ¹agar lebih baik. Tujuan dari konsumsi berkelanjutan adalah meminimalkan penggunaan sumber daya alam, bahan kimia, serta pembuangan sampah dan polutan sehingga tidak membahayakan kebutuhan generasi mendatang.

Namun, untuk mendukung keberhasilan konsumsi berkelanjutan, diperlukan kesadaran dan kemauan dari semua golongan masyarakat. Kesadaran akan konsumsi berkelanjutan dapat diterapkan dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil yang berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya.

Dalam berkonsumsi, konsumen cenderung menginginkan kemudahan dan kepraktisan, serta kenyamanan. Parmono (2016) menyatakan bahwa Niat individu untuk berkontribusi menyelamatkan lingkungan baru terjadi jika individu merasakan adanya ketidakadilan.

Hal ini konsisten dengan temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara persepsi keadilan distribusi keuntungan dari aktivitas berpolusi dengan niat berperilaku pro lingkungan (Montada dan Kals 2000 dalam Parmono 2016).

Sari (2017) menyatakan bahwa penerapan pola konsumsi berkelanjutan tidak berarti harus meninggalkan berbagai kemudahan dan kenyamanan tersebut, terkadang apa yang kita beli dan konsumsi seringkali tidak dipikirkan secara mendalam.

Karakter konsumen secara umum adalah sulit membedakan antara belanja produk-produk yang hanya memenuhi keinginan semata, atau membeli barang yang benar-benar sedang dibutuhkan (Sari 2017).

Menurut Sari (2017) Konsumsi berkelanjutan adalah hasil dari proses pengambilan keputusan konsumen sebagai tanggung jawab terhadap terhadap lingkungan sesuai dengan kebutuhan dan menjadi seorang konsumen yang beretika, yaitu merasa bertanggung jawab terhadap isu-isu sosial dan lingkungan di dunia dan melawan masalah ini dengan pola perilaku sendiri.

Dalam mendukung Upaya konsumsi berkelanjutan membutuhkan partisipasi penuh dari seluruh masyarakat, termasuk salah satunya rumah tangga.  Hal ini sangat penting karena, masyarakat memiliki peran besar dalam mengendalikan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar dan alam. Di antaranya yaitu seperti meminimalkan penggunaan SDA, bahan beracun, dan emisi limbah dan polutan selama siklus hidup, sehingga tidak membahayakan kebutuhan generasi mendatang.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung konsumsi berkelanjutan yang telah dilakukan yaitu melalui penerapan metode 3R yang terdiri dari Reduce, Reuse, dan Recycle.) Prinsip Reduce yang berarti pembatasan hasil sampah, Reuse yang berarti penggunaan kembali, dan Recycle yang berarti pendauran ulang, dan proses pendaur ulangan sampah dapat dilakukan oleh Bank Sampah.

Menurut Arisona (2018) Prinsip 3R yaitu, Pertama Reduce, Reduce merupakan upaya mengurangi timbunan sampah  dengan melakukan minimalisasi barang yang digunakan. Reuse merupakan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. Recycle merupakan mengolah atau mendaur ulang sampah menjadi produk baru.

Berikut merupakan contoh penerapan metode 3R dalam rumah tangga, yaitu penerapan Reduce dalam rumah tangga dapat berupa penggunaan keranjang sendiri untuk berbelanja, menggunakan lap kain daripada tisu untuk membersihkan keperluan makan dan dapur, serta menggunakan wadah sendiri ketika membeli makanan dari luar

Selanjutnya, penerapan Reuse dalam rumah tangga yaitu dengan mengolah botol atau gelas kaca menjadi pot tanaman. Penggunaan material bekas ini bertujuan untuk memanfaatkan kembali material bekas yang sudah tidak layak pakai. Implementasi pengolahan material bekas seperti botol atau gelas kaca menjadi pot bunga dapat menjadi alternatif pendukung konsumsi berkelanjutan dalam mengurangi eksploitasi sumber daya alam dan dapat meminimalisir pencemaran lingkungan.

Hingga terakhir yaitu Recycle atau mendaur ulang bahan yang sudah tidak berguna menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan yang cukup panjang, misalnya sampah dapur diolah menjadi pupuk kompos, pecahan beling diolah kembali menjadi gelas, piring dan lain-lain, potongan plastik diolah menjadi ember, gayung, sandal, lempengan kaleng diolah menjadi kaleng, dan lainnya.

Penggunaan material yang dipakai berulang dapat menekan sifat konsumtif dan menimbulkan kesadaran menghemat di dalam rumah tangga. Kesadaran mewujudkan konsumsi berkelanjutan dapat muncul ketika rumah tangga sudah memiliki ilmu pengetahuan yang cukup akan pemenuhan kebutuhan yang sesuai. Rumah tangga juga mulai menyadari  telah menjadi objek dari usaha produsen, sebab banyak konsumen yang mengalami kerugian baik dari segi kesehatan.

Selain itu, konsumen juga mulai menyadari ketidakseimbangan bumi atas segala barang yang digunakan selama ini tidak aman terhadap lingkungan. Standar produk ramah lingkungan termasuk ke dalam golongan standar barang dan jasa yang rendah polusi, hemat energi, bersih, hijau, serta terstandar dalam pengelolaan sampah.

Dalam proses pelaksanaan konsumsi keberlanjutan masyarakat sudah mulai menyadari dan memahami mengenai konsep berkelanjutan. Pemahaman tersebut terlihat dari perilaku keluarga dalam mendukung upaya konsumsi berkelanjutan melalui penerapan 3R, pemilahan jenis sampah berdasarkan kategorinya dan masyarakat mengetahui nilai ekonomi dari sampah.

Akan tetapi, dalam proses pelaksanaan konsumsi berkelanjutan tidak selamanya berjalan dengan lancar, banyak ditemukan kendala. Kendala yang terjadi seperti penanganan sampah yang kurang efektif dan menimbulkan pencemaran lingkungan, kurangnya fasilitas penunjang untuk konsumsi keberlanjutan, kurangnya dana yang diberikan dan akses penjemputan sampah yang belum merata, dan kurangnya partisipasi masyarakat.

Penerapan program konsumsi berkelanjutan di Indonesia belum sepenuhnya dikatakan berhasil. Hal ini terlihat dari beberapa masyarakat yang masih belum ikut berpartisipasi secara langsung dalam mendukung program konsumsi berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya terdapat tantangan yang perlu dihadapi oleh rumah tangga dalam upaya pengelolaan sampah.

Tantangan yang dihadapi keluarga sangat beragam. Sebagian besar tantangannya bersumber dari kurangnya sosialisasi mengenai manajemen pengelolaan sampah keluarga serta tidak meratanya fasilitas yang mendukung untuk mengelola sampah keluarga. Namun, tantangan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan koordinasi dan sinergi yang baik dari berbagai elemen dalam masyarakat seperti keluarga, pemerintah, serta stakeholder lainnya.

Penulis: Nikita Syecilia Rizky A, Najwa Syalima Tazkia, Nasywaa Aiko Mutiara G, dan Naufalia Adara

Dosen Pengampu: Dr. Megawati Simanjuntak, S.P., M.Si

Tinggalkan Balasan