Webinar IPMKS “Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Dampaknya Terhadap Psikologi”

Webinar IPMKS "Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Dampaknya Terhadap Psikologi"
Webinar IPMKS “Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Dampaknya Terhadap Psikologi”

Analisnews – Riau, IPMKS ( Ikatan Pelajar Mahasiswa Kecamatan Seberida) sukses gelar webminar online dengan judul ” Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Dampak nya terhadap psikologi”

18 Juni 2022, telah di selenggarakan webminar online yang di tajuk oleh IPMKS dengan judul “Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Dampak nya terhadap psikologi” dalam acara tersebut diikuti sebanyak 140 dari 190 partisipan yang mendaftar. Adapun acara ini dibuka secara umum, dengan antusias masyarakat, mahasiswa, pelajar yang begitu luar biasa. Dhimas Aditama selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa “kekerasan seksual yang begitu marak, dan terus terjadi di masyarakat terutama pada perempuan mengakibat dampak yang begitu dalam pada korban, adapun kekerasan seksual terjadi karena beberapa faktor yaitu akibat semakin canggih nya teknologi, bahkan tidak menutup kemungkinan berawal dari lingkungan terdekat seperti pergaulan yang memberikan pengaruh buruk dan menjurus ke hal hal ‘begituan’ “. Bukan hanya itu saja ” Kekerasan Seksual semakin merajalela, dan terkadang kita tidak tahu bagaimana cara membantu cara memulihkan mental korban, serta kita tidak tahu bagaimana cara meminamilisir terjadi nya kekerasan seksual itu sendiri, adapun melalui webminar ini saya harapkan permasalahan kekerasan seksual dapat meminamilisir terjadinya kekerasan seksual, serta mampu memberikan bantuan kepada korban dalam memulihkan kembali psikologi mental pada korban” Sahut Lidyawati selaku Ketua Umum IPKMS.

Adapun dalam acara ini di isi oleh pemateri yang luar biasa, yaitu Bapak Yanwar, Arief, M.Psi selaku dosen psikologi UIR yang mengatakan bahwa “Kategori kekerasan seksual itu ada banyak seperti pemerkosaan, pelecehan, digoda secara verbal, dan lain sebagainya.
Banyak kejadian kekerasan seksual dikalangan masyarakat menyebabkan terganggunya sistem masyarakat, akhirnya lama kelamaan masyarakat akan bersikap bodo amat tentang kekerasan seksual ini. Kekerasan seksual ini selain berdampak pada psikologis juga berdampak kepada sisi fisiologis menusia contohnya luka, susah tidur, dan kehilangan nafsu makan. Sedangkan contoh dampak secara psikologis dapat dilihat dari, kurangnya rasa percaya diri, serta sering murung atau diam, dan memiliki rasa malu, memiliki rasa bersalah. Dengan ini kita bisa meminimalisir atau melakukan pendekatan kepada korban baik secara individu maupun kelompok, namun jika rasanya sulit korban untuk dilakukan pendekatan secara individu dapat kita lakukan pendekatan secara kelompok/ masyarakat seperti melaksanakan gotong royong untuk menjalin komunikasi, kerjasama dilingkungan masyarakat, program keagamaan yang rutin. Sedang kan untuk pendekatan secara individu dapat dilakukan dengan mencoba menggunakan alat peraga boneka, lalu si korban dapat menunjukkan bagian mana yang di rasa sakit pada boneka.

Dalam kesempatan ini, Bpk Yanwar juga mengatakan adapun penyebab dari terjadinya Kekerasan Seksual dikarenakan 2 faktor yaitu, faktor internal dan eksternal, untuk faktor informal dapat dilihat dari gangguan psikologi, kurang ilmu agama, gagal mengendalikan nafsu ,serta memiliki pengalaman kekerasan seksual di masa lalu. Sedangkan untuk faktor eksternal dapat dilihat dari segi ekonomi, pendidikan dan canggih nya teknologi.

Pada webminar ini juga diisi bersama pemateri hebat dari ketua TRC PPAI Provinsi Riau ,yaitu Bunda Rika Parlina.

Dalam kesempatan ini Bunda Rika Parlina mengatakan bahwa ” kekerasan seksual merupakan suatu permasalahan penting yang memiliki dampak begitu besar pada korban , tidak terkecuali pada psikologis korban.
Dalam hal ini kami pemberdayaan wanita
Memberdayakan perempuan dan menjunjung tinggi hak perempuan. Dalam materi kasus pelecehan seksual ini kita mensosialisasikan bahaya sex bebas dan pergaulan bebas terhadap anak anak, remaja seusianya. Pergaulan bebas berdampak pada pendidikan maupun kesehatan mental secara psikologis. Bersama sama kita mengatasi kekerasan seksual pada remaja, baik pada anak yang di kampus, karena dikampus juga sering terjadi kekerasan seksual . Selain kasus ini kami juga berkolaborasi bersama instasi terkait untuk menyuarakan mengenai swebaran tidak memberikan rokok pada anak di bawah umur, karena itu dapat mempengaruhi anak-anak untuk melakukan hal kearah pergaulan bebas.”

Tinggalkan Balasan