RajaBackLink.com
RajaBackLink.com
 

“PENGARUH KEGEL EXERCISE TERHADAP INKONTINENSIA URINE PADA LANJUT USIA (oleh khairul Abbas)

AnalisNews-Sumbar,Lanjut Usia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang di karunia usia panjang. Perubahan yang terjadi pada lansia hampir seluruh organ tubuh, termasuk organ berkemih adalah dampak dari proses menua, lemahnya otot dasar panggul yang menyangga kandung kemih dan sfringter uretra, timbulnya kontraksi yang tidak terkontrol pada kandung kemih yang menimbulkan rangsangan untuk berkemih sebelum waktunya dan pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna. Semua hal itu dapat menyebabkan gangguan eliminasi urin (inkontinensia urin) (Smelzer, 2018).

Menurut data dari WHO, 200 juta penduduk di dunia yang mengalami inkontinensia urin. Menurut National Kidney and Urologyc Disease Advisory Board di Amerika Serikat, jumlah penderita inkontinensia mencapai 13 juta dengan 85 persen diantaranya perempuan. Jumlah ini sebenarnya masih sangat sedikit dari kondisi sebenarnya, sebab masih banyak kasus yang tidak dilaporkan (Maas et al, 2011). Didunia diperkirakan 20% perempuan menderita gangguan inkontinensia urin. Sedangkan di 11 negara Asia termasuk Indonesia ditemukan 5.052 perempuan yang menghadapi problem inkontinensia urin (Widyaningsih, 2009).

Berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan No. 65 Tahun 2015 menyatakan bahwa Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi dan komunikasi.Saat ini jumlah lanjut usia terus bertambah, dimana diperkirakan pada tahun 2005, orang dengan lannjut usia akan mencapai 1,2 milyar orang. Fenomena ini tentu akan menimbulkan suatu masalah baik itu masalah fisik, mental, sosial, kebutuhan pelayanan kesehatan dan keperawatan terutama kelainan degenerative (Nugroho, 2010).

Perubahan fisik yang terjadi pada lanjut usia salah satunya pada sistem perkemihan yaitu penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra) yang disebabkan oleh penurunan hormon esterogen, sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urin, otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat dan tidak dapat dikontrol (Mei Adelina Harahap, 2020). Inkontinensia Urin adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia (Soetojo, 2006).

Menurut penelitian Onat (2014) diperkirakan 25-35% dari seluruh orang dewasa akhir akan mengalami inkontinensia urin selama hidup mereka menurut Stanley dan Soetojo penanganan yang dapat di lakukan pada pasien yang mengalami inkontinensia urin meliputi Kegel Exercise. Terdapat beberapa masalah sehingga timbulnya inkontinensia urine yaitu perubahan struktur pada system urinaria dan melemahnya otot dasar panggul serta penurunan kapasitas kandung kemih (Wahyudi, 2017). Dengan adanya kerusakan atau kelemahan otot dasar panggul maka disfungsi buang air kecil dan penurunan organ bias terjadi pada individu-individu yangs sehat, hal inilah yang mencetuskan terjadinya inkontinensia urin (Ananingsih, et all. 2013)

Masalah inkontinensia urin adalah salah satu masalah yang meluas dan merugikan, penyakit ini merupakan salah satu faktor utama yang membuat banyak keluarga menempatkan manula tersebut di panti jompo untuk mendapatkan perawatan yang layak. Biaya untuk perawatan di panti atau rumah sakit merupakan implikasi ekonomis yang sangat bervariasi (Agoes, 2010).

Kelainan inkontinensia urin tidak akan mengancam jiwa penderita tetapi berpengaruh pada kualias hidup yang disebabkan oleh faktor gangguan psikologis dan faktor sosial yang sulit diatasi, penderita merasa rendah diri karena selalu basah akibat urine yang keluar, mungkin pada saat batuk, bersin, mengangkat barang berat dan menahan urine dari kamar ke WC. Mengakibatkan terjadinya problematika kehidupan baik dari segi medis, sosial, ekonomi, maupun psikologi di lingkungan dan keluarga (Agoes, 2010).

Lansia tidak menyadari bahwa ada pilihan lain dalam penanganan inkontinensia urine dengan terapi non farmakoligis, salah satu nya terapi non farmakoligis yaitu terapi non farmakoligis yaitu dengan teknik atau latihan prilaku mengontrol kandung kemih dan otot-otot fingter dengan latihan otot dasar panggul atau senam kegel (Darmojo, 2011).

Senam Kegel adalah senam untuk menguatkan otot panggul atau senam yang bertujuan untuk memperkuat otot-otot dasar panggul terutama otot puboccygeal sehingga dapat memperkuat otot-otot saluran kemih.Senam kegel juga dapat menyembuhkan ketidak mampuan menahan kencing (inkontinensia urin) (Widianti & Proverawati, 2010).

Senam Kegel memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kekuatan otot dasar panggul sehingga dianjurkan dilakukan untuk mencegah inkontinensia pada lansia dan keluhan terkait fungsi otot dasar panggul dan penelitian yang dilakukan oleh Sutarni (2016) mengatakan bahwa senam kegel sangat bermanfaat untuk mengutakan otot rangka pada dasar panggul, sehingga memperkuat fungsi sfingter eksterna pada kandung kemih latihan Kegel sangat bermanfaat untuk menguatkan otot rangka pada dasar panggul, sehingga memperkuat fungsi sfingter eksternal pada kandung skemih (Widiastuti, 2011).

Penulis: AfrinaldoEditor: Afrinaldo