Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa Dorong Struktur Organisasi Gunakan Analogi Tubuh Manusia
Analisnews.co.id – Denpasar | Ketua Bidang Departemen Ideologi Pancasila DPP Forum Bela Negara Republik Indonesia, Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa, S.Sos.,M.Si., menegaskan prinsip kesetaraan dalam organisasi.
Menurutnya ormas berdiri sama tinggi duduk sama rendah, dalam hal ini tidak ada yang lebih tinggi, maupun lebih rendah, semua ormas sejajar.
Hal itu disampaikannya saat Pelantikan DPD FBN RI Bali dan Rapat Kerja Wilayah di Aula Korem 163/Wirasatya, Minggu 7 Juni 2026.
Ia mendorong untuk FBN RI Bali, gaungnya lebih keren, lebih besar, lebih kuat, dan lebih solid ke depan.
Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa menggunakan filosofi tiga unsur organisasi, atau analogi tubuh manusia.
Organiisasi yang kuat ibarat tubuh manusia yang sehat, ada tiga unsur utama dan semua harus berjalan bareng.
Kepala, sebagai komando atau pemimpin, pemikir, melihat, mendengar, merasakan, lalu putuskan arah.
Tak hanya itu, di dalamnya ada Mata, visinya melihat jauh kedepan.
Telinga, mendengar aspirasi bawahan
Hidung, mencium peluang dan tantangan
Adapun Lidah, bertugas mengomunikasikan arah dan kebijakan.
Kulit, merasakan kondisi lapangan. Sedangkan
Otak, menganalisa, memutuskan dan menentukan strategi.
Menariknya, otak sebagai pemikir dan sumber inspirasi,
Tangan dan kaki sebagai pelaksana dan penggerak, eksekutor lapangan. Turun eksekusi jemput bola,selesaikan kerja.
Kaki , bergerak kemanapun dibutuhkan, jemput target. Ciri khasnya gak banyak mengeluh, gak banyak membantah, disuruh maju, ya maju, disuruh angkat ya angkat
.
Badan, merpakan penopang dan penggerak di dalamnya ada, tulang Punggung, struktur, aturan sistem yang bikin organisasi tegak
Intinya kepala tanpa badan dan tangan atau kaki, cuma wacana. Badan tanpa kepala, nggak ada arah. Tangan kaki tanpa komando, jalan di tempat
Untuk itu, “Organisasi akan solid mencapai tujuan apabila bisa seirama. Pemimpin harus mampu menganalisa informasi, baik-buruk, menggabungkan, mencari data dan fakta sebenarnya, lalu memutuskan,” ujarnya.
Menurutnya, Pancasila harus menjadi nafas setiap organisasi, termasuk FBN RI. Dari kepala hingga kaki harus bergerak serempak agar ruh FBN RI menjadi organisasi sehat dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Jika kepala, mata, otak, tangan, dan kaki tidak selaras, maka tubuh akan lumpuh. Begitu juga organisasi, dan Pancasila adalah sumsumnya.
Ia berharap FBN RI Bali menjadi organisasi besar, terhormat, dan disegani. Kuncinya, jangan merasa hebat, jadikan organisasi efektif sesuai struktur dan AD/ART, perkuat hubungan kerja dengan asah asih asuh dan paras paros
Ia menutup dengan perumpamaan: “Seribu domba dipimpin satu macan, maka domba-domba akan mengaum. Tetapi seribu macan dipimpin satu domba, maka dimakannya itu sang domba.”(red)
Pelantikan dan Rakerwil, DPD FBN RI, Bali, Seribu domba dipimoin satu macan, domba akan mengaum,
