Prof. Ni Luh Kartini Ajak Masyarakat Bali Eling Tiga Pilar, dalam Mewujudkan Bali Lestari
Analisnews.co.id – DENPASAR | Tiga pilar “Bali Bersih” berangkat dari kearifan lokal. Eling ring bumi pertiwi, memuliakan sampah, dan memuliakan air. Tiga prinsip ini menjadi fondasi gerakan kolektif mewujudkan Bali lestari.
Prof.Dr.Ir. Ni Luh Kartini, MS.,Guru Besar Universitas Udayana, sekaligus pakar lingkungan hidup, menegaskan, kolaborasi dari berbagai institusi pemerintah dan stakeholder dorong pantai bebas plastik, sungai yang jernih, udara tanpa polusi.
Tak hanya itu, kebijakan pelarangan kantong plastik sekali pakai dan gerakan bersih-bersih pantai, sejalan dalam dimensi, Bali destinasi wisata kelas dunia yang Sukla.
“Tujuannya jelas, menjaga tanah Bali tetap lestari untuk generasi mendatang. Karena eling atau sadar pada bumi, berarti menjaga rumah besar Bali agar tidak rusak dimakan oleh perubahan zaman.
Berfondasi filosofi Tri Hita Karana, harmoni manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. “Bersih” secara sekala dan niskala atau dimensi tak kasat mata juga patut dijaga, tandasnya.
Untuk itu, tempat suci harus steril dari perilaku negatif, upacara dijalankan dengan hati tulus, pikiran bersih dari iri dan dengki. Dalam pandangan Hindu Bali, sampah di pura bukan hanya mengotori tempat, tapi juga merusak energi spiritual. Memuliakan sampah berarti mengelolanya dengan bijak sejak dari sumber, bukan membuangnya sembarangan.
Oleh sebab itu, untuk mejaga lapisan terdalam “Bali Bersih”. Bali harus bersih dari korupsi, bersih dari pariwisata eksploitatif, bersih dari pembangunan yang mengabaikan warga lokal.
Ada dimensi etika di sini, niat membangun Bali harus bening seperti air. Bukan sekadar mengejar keuntungan cepat lalu meninggalkan persoalan.
Memuliakan air berarti menjaga sumber kehidupan tetap jernih, baik secara fisik maupun kebijakan, tambahnya.
Prof. Luh Kartini kembali mempertegas, intinya, Bali Bersih adalah Bali yang sukla luar-dalam. Fisiknya kinclong, budayanya terjaga, niatnya lurus, untuk keberlanjutan adat Bali, budaya Bali, dan generasi penerus tanah Bali
Ia paparkan, kalau hanya sampah yang bersih tapi mental dan kebijakan kotor, maka itu belum bersih yang sesungguhnya “Bali Bersih” punya tiga pilar dari kearifan lokal.
“Pertama, eling ring bumi pertiwi Sadar menjaga bumi, pantai bebas plastik, dan Jernih sungainya.
“Kedua memuliakan sampah:
Sesuai Tri Hita Karana, sampah di pura bukan cuma kotor secara fisik, tapi mengotori energi spiritual. Kelola dari sumber, itu bentuk bakti.
“Ketiga, memuliakan air. Air sumber kehidupan. Tata kelola Bali pun harus sejernih air, bebas korupsi, bebas eksploitasi, niatnya bening untuk warga lokal sebagai penggerak ekonomi pariwisata, berbasis kearifan lokal Bali.
“Intinya, Bali Bersih adalah Bali yang sukla luar dalam. Kinclong fisiknya, terjaga budayanya, lurus niatnya. Karena bersih sampah saja belum cukup, kalau mental dan kebijakan masih kotor, tidak memihak kepada kepentingan masyarakat, kebijakan pembangunan merusak alam Bali, seperti sawah jadi Villa, pantai jadi Hotel. Untuk itu jika dunia ini mencintai Bali, mari bergerak dengan melestarikan alam, adat budaya adiluhung Bali.(red)
#Tiga pilar Bali Bersih, #Eling ring bumi pertiwi, #Memuliakan sampah, #Memuliakan air
