07
April
2026
Selasa - : WIB

Smart Port, Green Growth & Smart Solution Kunci IPCC Melesat Q3 2025

vritimes
Oktober 23, 2025 2:28 pm pada BISNIS

Jakarta, Oktober 2025 – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC) sebagai salah satu entitas bisnis Pelindo Group yang berfokus pada pengelolaan terminal kendaraan berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang tumbuh positif dan solid dalam Laporan Keuangan Triwulan III Tahun 2025, yang telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX) pada hari ini. Hingga kuartal ketiga tahun 2025, IPCC kembali membukukan laba bersih sebesar Rp.190,30 miliar, tumbuh Rp.42,28 miliar atau meningkat 28,42% secara year-on-year (yoy) hingga September 2025. Pencapaian tersebut selaras dengan roadmap perseroan tahun 2025 yang berfokus pada integrasi layanan dan peningkatan konektivitas, sekaligus mencerminkan komitmen IPCC dalam menjalankan bisnis yang tumbuh dan berkelanjutan.

Dari sisi pendapatan, IPCC mencatatkan kenaikan signifikan pada triwulan ketiga tahun ini, yaitu tumbuh 12,67% secara tahunan (yoy) menjadi Rp660,24 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp585,98 miliar. Pertumbuhan tersebut, utamanya didorong oleh peningkatan pendapatan pada segmen CBU yang naik 19,67%, dengan kontribusi pasar internasional mencapai 10,17% dan domestik sebesar 9,50%. Secara keseluruhan, pendapatan berdasarkan layanan terdiri atas 78% dari segmen internasional dan 22% dari segmen domestik, dengan komposisi pendapatan per jenis kargo yakni 77% CBU, 11% Alat Berat, 9% Truck/Bus, 2% General Cargo/Spareparts, dan 1% kargo lainnya. Khusus pada segmen kargo CBU, IPCC berhasil mencatatkan kinerja positif berkat transformasi dan optimalisasi bidang operasional melalui implementasi sistem PTOS-C di Terminal Internasional dan Domestik IPCC Branch Jakarta yang telah diimplementasikan penuh pada tahun 2025, digitalisasi proses keuangan, serta implementasi inovasi bisnis komersial yang secara keseluruhan mampu mendorong peningkatan pendapatan. Berbagai strategi bisnis yang telah dijalankan juga menunjukkan hasil yang membanggakan salah satunya melalui penghargaan inovasi bisnis dari IDX Channel, melalui pengembangan layanan VDC (Vehicle Distribution Centre), Port Stock, serta VPC (Vehicle Processing Centre).

Wing Megantoro, Direktur Keuangan IPCC, mengatakan “Berdasarkan neraca keuangan, kinerja IPCC menunjukkan kondisi yang sehat dan memiliki fundamental yang solid serta tidak memiliki pinjaman (debt free company). Hal ini terlihat dari peningkatan aset sekitar 4,21% dari Rp.1,85 Triliun pada akhir tahun2024 menjadi Rp.1,93 Triliun pada Kuartal III 2025 yang didukung kenaikan aset lancar perusahaan sebesar 15,8% dari Rp.901,44 Miliar pada akhir Desember 2024 menjadi Rp.1,04 Triliun pada akhir September tahun 2025 yang sejalan dengan pertumbuhan pendapatan”. Kinerja keuangan perseroan utamanya pendapatan dari sektor lainpun juga tidak kalah produktifnya turut memberikan kontribusi maksimal untuk perseroan. Faktor lain yang dilakukan perseroan adalah melakukan efisiensi penggunaan anggaran dengan berfokus pada aspek yang berkaitan langsung pada kinerja operasional, peningkatan pendapatan serta berbasis pada kepuasan pelanggan.

Direktur Utama IPCC, Sugeng Mulyadi menyampaikan, ”Kami optimis untuk dapat melampaui 2025 dengan harapan tumbuh di atas 20%, hal ini tentunya didukung dengan upaya mempertahankan fundamental perseroan yang telah berjalan baik sesuai dengan tata kelola. Upaya-upaya penerapan strategi dan inovasi bisnis perseroan dalam bentuk optimalisasi dan digitalisasi pelayanan, perluasan market pada layanan operasi dengan carmaker, serta efektifitas pola kerja dengan mengutamakan peningkatan pelayanan yang terintegrasi dalam ekosistem kendaraan guna meningkatkan value bagi pelanggan”.

Dengan bertambahnya wilayah kerja IPCC di Banjarmasin sejak Oktober 2024, Terminal Satelit Banjarmasin berhasil menorehkan capaian yang terus bertumbuh, hingga Kuartal III 2025 mencatatkan 327 kunjungan kapal, total capaian kargo konsolidasi (CBU, Truk, Alat Berat, Motor dan General Cago) 71.545 unit. “IPCC berkomitmen untuk memberikan layanan yang menyeluruh serta terintegrasi dan membangun konektivitas antar terminal atau pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo sebagai bagian dari upaya menurunkan biaya logistik dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia” tutur Bagus Dwipoyono, Direktur Operasi dan Teknik.

Menurut Sugeng, dalam menghadapi berbagai tantangan utamanya pada Kuartal IV 2025, IPCC selalu mengedepankan pelayanan yang optimal, terus berfokus pada pengembangan strategi bisnis berkelanjutan dan inovasi model bisnis untuk menghadirkan smart solutions bagi stakeholders. Perseroan juga tengah berupaya untuk ekspansi bisnis guna menciptakan konektivitas antar terminal, sekaligus menekan biaya logistik melalui proses yang lebih efisien dan terintegrasi. Memasuki tiga bulan terakhir tahun 2025, dengan semakin meningkatnya kargo dari berbagai merek kendaraan listrik (EV) serta pembangunan basis industri dan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, diharapkan sektor ini dapat menyumbangkan lebih dari 70.000 unit kendaraan. Kondisi tersebut diyakini akan memberikan peluang bertumbuh yang lebih besar bagi IPCC. Melalui smart port, green growth dan smart solutions IPCC optimis semakin mempertegas kontribusi pada ekosistem kendaraan dan mencatatkan kinerja yang cemerlang di tahun 2025, tutup Sugeng.

IPCC merupakan anak perusahaan PT Pelindo Multi Terminal yang segmen bisnisnya menyediakan layanan terminal kendaraan yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dan sejumlah pelabuhan / Terminal RoRo lainnya di Indonesia.

About PT Pelindo Multi Terminal

PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) merupakan Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang fokus pada pengelolaan operasional terminal nonpetikemas di Indonesia.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Disalin

Pos Terkait

November 20, 2025 7:42 am
Tokoh Logistik Nasional Bongkar Penyebab Biaya Logistik Termahal di Asia TenggaraBiaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari PDB, yang mana tertinggi di Asia Tenggara, yang disebabkan oleh empat faktor utama yang menghambat daya saing, yaitu: proteksi industri truk dan oligopoli, mahalnya infrastruktur tol, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta kompleksitas regulasi dan birokrasi; namun, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), Daniel Budi Setiawan, menawarkan solusi strategis melalui digitalisasi logistik dengan aplikasi muatmuat yang bertujuan mengoptimalkan utilitas armada, meningkatkan transparansi pasar, dan menekan biaya suku cadang guna menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan kompetitif. JAKARTA – Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata negara maju (8-9%) dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional. Menurut Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), tingginya biaya logistik mencerminkan masih rendahnya efisiensi rantai pasok nasional yang berimbas langsung pada harga produk dan daya beli masyarakat. “Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel. Empat Faktor Penghambat Efisiensi Logistik Nasional Berdasarkan pengalaman Daniel selama puluhan tahun memimpin perusahaan logistik PT. Siba Surya yang punya aset ribuan truk dari yang awalnya hanya belasan, terdapat empat variabel utama yang berkontribusi terhadap tingginya biaya logistik Indonesia, di mana sebagian besar masih berada dalam kendali kebijakan pemerintah. 1. Proteksi Industri Truk (Kartel Pabrikan): Kebijakan proteksi yang sudah berjalan lebih dari lima dekade terhadap merek truk asal Jepang seperti Fuso, Hino, Isuzu, dan Nissan Diesel menyebabkan harga barang modal meningkat drastis. “Sampai saat ini, commercial vehicle masih dibebani bea masuk 35-45%. Empat merek besar itu berada dalam posisi oligopoli. Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel. 2. Infrastruktur Tol yang Mahal: Tidak seperti di negara maju, di mana pajak kendaraan sudah mencakup hak menggunakan jalan bebas hambatan, Indonesia masih menerapkan sistem tol berbayar yang dianggap mahal bagi pelaku transportasi barang. Hal ini menambah biaya transportasi logistik di luar pajak kendaraan tahunan. 3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah: Ketergantungan terhadap suku cadang dan bahan bakar impor membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Setiap perubahan kurs berpotensi menaikkan ongkos logistik secara signifikan. 4. Regulasi dan Birokrasi: Kompleksitas perizinan, pajak ganda (PPN, PPh, Bea Masuk, PKB, KIR), serta birokrasi antarinstansi memperpanjang proses dan meningkatkan biaya distribusi nasional. Peran Swasta: Mendorong Efisiensi dan Transparansi Meski tiga dari empat faktor tersebut bersifat makro, sektor swasta dinilai tetap memiliki ruang untuk mendorong efisiensi melalui inovasi dan digitalisasi logistik. Berbekal pengalaman puluhan tahun menghadapi kompleksitas industri logistik, Daniel menghadirkan muatmuat sebagai solusi strategis bagi pelaku logistik untuk memangkas biaya dan membuka efisiensi baru dalam rantai pasok Indonesia. Daniel mencontohkan langkah-langkah yang dapat diambil industri untuk mengurangi beban biaya, seperti: 1. Mengoptimalkan Utilisasi Armada: Mengurangi jumlah truk yang kembali kosong (empty return) dengan sistem pencocokan muatan digital di fitur Transport Market. 2. Meningkatkan Transparansi Pasar: Menghubungkan pengirim dan transporter secara langsung agar rantai distribusi lebih efisien dan biaya mark-up berkurang. 3. Digitalisasi Suku Cadang: di muatmuat juga tersedia Platform e-commerce bernama muatparts khusus logistik dapat menghadirkan harga suku cadang yang lebih kompetitif untuk menekan biaya operasional transportasi. “Kami percaya efisiensi pasar dapat dicapai lewat kolaborasi dan keterbukaan data. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat pula industrinya,” tambah Daniel di podcast bersama Helmy Yahya. Aplikasi muatmuat, yang dikembangkan oleh Daniel Budi Setiawan dan kini telah dipercaya oleh puluhan ribu pelaku logistik nasional sejak mulai dipasarkan pada 2024, menjadi contoh nyata kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, transparan, dan berdaya saing. Karakter yang Dibutuhkan untuk Bertahan di Industri Logistik Bagi Daniel, industri logistik adalah arena yang menuntut ketahanan mental, disiplin, dan keberanian untuk terus bergerak. “Yang bisa survive di industri ini adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya. Berhenti sejenak saja bisa tersingkir oleh mekanisme pasar, sehingga ekspansi dan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pengalaman panjang Daniel menghadapi kerasnya industri transportasi membentuk pemahaman bahwa banyak pelaku logistik sebenarnya mampu tumbuh, asal prosesnya dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari sinilah muatmuat lahir: sebagai perpanjangan dari semangat bertarung itu. Bukan sekadar platform, tetapi alat yang membantu pelaku industri meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya operasional, dan tetap kompetitif di tengah tantangan. Bagi Daniel, logistik memang keras, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang cukup kuat dan cukup berani untuk terus maju. Tentang muatmuat muatmuat hadir dengan visi menjadi produk yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat logistik di Indonesia. khususnya yang berdampak kepada : 1. Rendahnya daya beli masyarakat 2. Rendahnya kualitas atau nilai kompetitif sebuah produk/jasa, dan 3. Roda perekonomian di Indonesia Berbekal pengalaman nyata selama 4 generasi di bidang logistik serta teknologiyang handal, kami siap bersama pemangku kepentingan berkolaborasi mengemban misi dalam mendigitalisasi dan membangun industri logistik yang berkelanjutan. Kami turut mengajak masyarakat logistik untuk tergabung, saling terhubung dan jalan mudah bersama kami. Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU