04
Februari
2026
Rabu - : WIB

BRIN Ungkap Jejak Mikroplastik dalam Darah, Solusi Inovasi dan Strategi Kesehatan Lingkungan Diperkuat

hartonojkt
hartonojkt
Desember 1, 2025 9:43 am pada TERKINI
IMG 20251201 WA0016

Analisnews.co.id
JAKARTA, — Ancaman mikroplastik telah resmi memasuki tahap krisis kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan. Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak hanya memetakan potensi kerugian ekonomi hingga Rp 225 triliun per tahun, tetapi yang lebih mengkhawatirkan, partikel mikroplastik telah terdeteksi dalam aliran darah dan organ tubuh manusia.

Merespons temuan kritis ini, pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Ir. Lilis Sulistyorini, M.Kes., menegaskan bahwa temuan ini harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak.

“Temuan mikroplastik dalam darah manusia adalah bukti nyata bahwa pencemaran lingkungan telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kesehatan masyarakat yang senyap,” ujar Prof. Lilis. Unit Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kesehatan (UPSDMK)

Guru Besar di Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair itu menjelaskan, pendekatan public health melalui pemantauan lingkungan (environmental monitoring) dan pemantauan biologis (biomonitoring) menjadi kunci untuk mendeteksi dini dampak kesehatan yang ditimbulkan.

“Kita perlu memperkuat sistem pemantauan untuk memetakan sejauh mana paparan ini telah terjadi di dalam populasi dan apa implikasi kesehatan jangka panjangnya. Pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan adalah hal yang mutlak,” tegasnya.

Dari Lingkungan ke Tubuh Manusia

Senada dengan pernyataan Prof. Lilis, Peneliti BRIN Dr. Tri Martini Patria, SP., M.Si., memaparkan bahwa mikroplastik telah menjadi polutan abadi yang menginvasi setiap sudut ekosistem.

“Kita telah memasuki fase di mana mikroplastik bukan lagi soal pencemaran di piring kita, tetapi telah menjadi kontaminan dalam aliran darah kita. Riset mutakhir menunjukkan rata-rata manusia mengonsumsi hingga 5 gram mikroplastik per minggu, setara dengan menelan satu kartu kredit,” jelas Dr. Tri Martini.

Partikel mikroskopis ini, lanjutnya, memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke sistem peredaran darah dan organ vital, membawa potensi gangguan inflamasi, toksikologi, dan penyakit degeneratif dalam jangka panjang.

Prof. Lilis menambahkan, selain melalui konsumsi makanan laut yang terkontaminasi, rute paparan mikroplastik pada manusia juga melalui inhalasi atau pernafasan.

“Partikel mikroplastik yang terhirup dari polusi udara dapat masuk langsung ke dalam sistem pernapasan dan paru-paru, berpotensi menimbulkan iritasi hingga masalah pernapasan serius. Ini memperluas jalur masuknya kontaminan ke dalam tubuh,” paparnya.

Solusi Inovatif dari Hulu: Teknologi Faspol-Petasol

Di tengah keprihatinan tersebut, dunia sains Indonesia merespons dengan terobosan Teknologi Faspol (Fast-Pirolisis) Generasi 5. Inovasi ini adalah sistem daur ulang termal yang cerdas dan adaptif, mampu mengonversi 100 kg sampah plastik campuran—tanpa pencucian dan pemilahan rumit—menjadi 90-100 liter bahan bakar cair (Petasol) per hari.

“Ini adalah teknologi yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap masalah di lapangan. Kami merancangnya untuk bisa dioperasikan oleh komunitas bank sampah, sehingga dampaknya langsung menyentuh akar rumput,” jelas Dr. Tri Martini menjelang paparan webinar siang ini

Teknologi yang telah terdaftar dalam e-katalog LKPP ini telah direplikasi di lebih dari 50 titik, membentuk jejaring budaya daur ulang yang produktif dan ekonomis.

Pentingnya Harmonisasi Kebijakan dan Edukasi Publik

Menanggapi kehadiran teknologi ini, Prof. Lilis menyambut baik inovasi yang mampu menangani sampah plastik di hilir sebelum terfragmentasi menjadi mikroplastik. Namun, ia mengingatkan bahwa solusi teknologi harus diiringi dengan kebijakan yang kuat dan edukasi berkelanjutan.

“Teknologi seperti Faspol-Petasol sangat membantu, tetapi yang tak kalah penting adalah penguatan kebijakan di hulu, seperti pembatasan penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong ekonomi sirkular. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah yang benar dan gaya hidup minim plastik adalah investasi kesehatan jangka panjang,” ujar Prof. Lilis.

Ia menekankan, sinergi antara peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakatlah yang akan menentukan keberhasilan dalam menghadapi krisis mikroplastik ini. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan tercipta lanskap ketahanan nasional di mana kesehatan masyarakat terjaga, lingkungan pulih, dan kemandirian energi lokal menguatkan. #BRIN #Dr. Tri Martini Patria, SP., M.Si.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU