
PANDEGLANG, BANTEN, — analisnews.co.id Masa panen yang lazimnya menjadi penanda keberhasilan justru berubah menjadi cobaan bagi petani di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang.
Hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut disertai hembusan angin kencang menyebabkan tanaman padi roboh dan sebagian petak sawah tergenang air. Peristiwa itu terjadi ketika bulir telah mencapai fase siap dipotong, sehingga risiko kehilangan hasil tak terelakkan.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Sarta, petani asal Kampung Dungushaur, Desa Surianeun. Ia menyaksikan lahan yang dirawat selama berbulan-bulan dengan ketekunan akhirnya tak sanggup menghadapi kekuatan alam. Namun, di tengah keterbatasan, ia memilih menata batin agar tidak terperosok dalam keputusasaan.
“Dalam bertani, kami hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Ada musim yang memberi, ada pula waktu ketika alam menguji,” ujar Sarta saat ditemui di area persawahan, Kamis (22/01/2026).
Alih-alih meratapi keadaan, ia mengajak sesama penggarap lahan untuk menjaga daya juang. Baginya, sikap mental menjadi penopang utama ketika hasil tidak sejalan dengan harapan. Dorongan tersebut disampaikan sebagai upaya saling menguatkan di tengah kesulitan yang dialami bersama.
Ia juga menilai, perubahan pola cuaca belakangan kian sulit ditebak. Situasi itu menuntut kesiapan lebih dari sekadar kemampuan teknis bercocok tanam.
“Padi bisa saja terkulai, tetapi tekad jangan ikut runtuh. Selama kesehatan masih ada, kesempatan menanam kembali tetap terbuka,” katanya.
Dari sudut pandang filsafat kesabaran, kejadian ini menegaskan keterbatasan manusia dalam mengendalikan hasil, meski tenaga dan waktu telah dicurahkan sepenuhnya. Kesabaran bukan berarti menyerah tanpa ikhtiar, melainkan kesanggupan menerima realitas sambil menyiapkan langkah berikutnya.
Di antara petak sawah yang terendam dan batang padi yang rebah, tersimpan pelajaran tentang ketabahan serta keberanian untuk bertahan. Musim boleh mengecewakan, namun asa tidak serta-merta padam. Bagi petani Patia, cobaan ini menjadi ruang refleksi bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan bangkit setelah kehilangan***