
PEPABRI Bali Dor
Lewat Tradisi Keagamaan DPD PEPABRI, Tegaskan Perkuat Toleransi Kerukunan Umat
Analisnews.co.id – DENPASAR | Dewan Pengurus Daerah PEPABRI( Persatuan Purnawirawan Warakawuri TNI dan Polri) Bali, kembali mengusung ritual tradisi keagamaan Dharma Shanti, Halal Bihalal Idul Fitri, dan PASKAH, Sabtu 11 April 2026, di Aula Kantor DPD PEPABRI Jl. PB Sudirman no. G-21, Dps.
Kegiatan ini merupakan langkah untuk lebih mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan sesama, serta memperkuat hubungan antar umat beragama.
Selain itu, kegiatan tradisi keagamaan kembali mempertegas pererat tali silaturahmi antar anggota PEPABRI untuk memperkuat hubungan antar umat beragama dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan kerukunan tetap utuh walaupun sudah purnatugas
Kegiatan yang mengambil tema” Dharma Shanti Hari Suci Nyepi, Halal-Bihalal Idul Fitri 1Syawal 1447H dan Hari Raya Paskah PEPABRI Provinsi Bali, dihadiri langsung ketua PEPABRI Bali, Brigjen TNI(purn)Ketut Budiastawa S.Sos.,M.Si., Ketua DPD PPAD BALI, Brigjen TNI(purn) A.Agung Gede Suardika S.IP.,M.SC., dan seluruh anggota PEPABRI Kabupaten/kota se-Bali
Dalam sambutanya ketua DPD PEPABRI Provinsi sekaligus ketua harian PHDI Bali, Brigjen TNI(purn) Ketut Budiastawa S.Sos.,M.Si.,menegaskan kegiatan Dharma Shanti, Halal bihalal Idul Fitri dan Paskah merupakan upacara keagamaan dalam rangka memperingati Nyepi tahun baru Saka 1948 yang di isi dengan ritual-ritual keagamaan.
Selain itu, Idul Fitri untuk lebih mempererat tali silahturahmi, dengan memperbaiki hubungan sosial dengan saling maaf memaafkan diantara anggota.
Demikian pula momentum Paskah, di isi dengan kegiatan keagamaan, hiburan musik, ujarnya.
Lebih lanjut diterangkan, sesuai dengan ajaran Hindu, hidup dan kehidupan selaras dengan alam,diri sendiri dan Tuhan. Disamping itu hidup sesuai dengan Dharma, menghormati menjaga alam, mengendalikan diri dan emosi, serta mencari keseimbangan dan kedamaian batin.
Nyepi Tapa Brata meliputi amati geni, tidak bicara, amati karya, tidak bekerja, amati lila, tidak bersenang-senang dan Amati Manda tidak makan dan minum. Dengan Tapa Brata tidak makan minum dan tidur selama 24 jam, dapat mencapai keseimbangan dan kedamaian batin
Ia juga jelaskan, Hindu arti kebebasan menuju Surga “Moksa” mencapai kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian “Samsara”bersatu dengan Tuhan/Sang Hyang Widi Wasa ”Brahman”
Islam, kebebasan menuju “Surga” mencapai ridho Allah, masuk ke Surga yang Abadi,dimana tidak ada kesedihan, penderitaan maupun kesulitan.
Kristen, kebebasan menuju Surga mencapai kehidupan kekal dengan Tuhan, dimana tidak ada dosa, penderitaan maupun kematian, Surga penuh kasih, damai dan kebahagiaan, urainya.
Sementara itu, Danrem 16/Wirasatya diwakili Kasiter Kolonel Ifn TNI. Didin Nasrudin Darsono S.Sos.,M.Han.,menegaskan, kontek dari perayaan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447H, hari raya tahun baru Saka 1948 dan Paskah, muncul figur kerukunan umat beragama.
Oleh sebab itu, dari persatuan, kerukunan dan keakraban antar umat beragama kekuatan itu muncul, namun kekuatan tersebut bukan sekedar finansial dalam meraih kemerdekaan Indonesia, ujarnya.
Lebih dari sekedar agama dan budaya, Indonesia dihuni dari berbagai suku adat dan budaya merupakan kekuatan besar dalam meraih dam mempertahan kemerdekaan.
Ia kembali paparkan, bahwa TNI sebagai komponen utama, menganut sistem profisional yang ifisien, bahwa TNI berfokus pada kemampuan dan kompetensi profisional dalam menjalankan tugas, tambahnya.
Disamping itu, mengoptimalkan sumber daya untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien, demikian pula dalam membangun kekuatan perang TNI memiliki standar profisional yang tinggi ketika menjalankan tugas dengan fokus pada kemampuan dan kopetensi.
Dalam pertahanan negara bukan siapa yang kuat dan siapa yang besar, tetapi siapa yang cepat bisa mengakses perubahan, siapa cepat itu yang menang, pungkasnya
Sementara itu Bintal(Bimbingan Mental)agama Islam, Kodam lX/Udayana Imadudin S.Pdi., Bintal Kristen, Bastian S.S., MAg.,dan Bintal agama Hindu, Brigjen TNI(purn) Ketut Budiastawa S.Sos.,M.Si., ketiga tokoh agama Hindu, Islam dan Kristen menyoroti pentingnya halal bihalal dalam membangun toleransi Hindu, Islam dan Kristen dapat menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia dalam membangun kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Menariknya, rangkaian kegiatan halal bihal di meriahkan dengan saling bersalaman, kocokan arisan, pembagian bingkisan hadiah, turut menambah kental nilai kebersamaan dalam menjalin toleransi antaru umat beragama
Turut hadir, ketua DPD PPAD Bali, Brigjen TNI( purn)A.Agung Gede Suardana S.IP.,M.SC., Mayjen TNI(purn) Rante Tandung, Anggota DPD PEPABRI se-Bali(red)