07
Mei
2026
Kamis - : WIB

Wahyu OS Tutup Usia, “Senandung Doa” Kini Tinggal Kenangan Abadi

yadisuryadi
Mei 7, 2026 7:28 am pada TERKINI

Analisnews.co.id | Kabar duka datang dari dunia musik Indonesia. Pencipta lagu legendaris “Senandung Doa”, Wahyu Otong Sanjaya atau yang dikenal sebagai Wahyu OS, meninggal dunia pada Rabu (6/5) pukul 15.20 WIB di RS Cimacan, Cianjur. Ia tutup usia pada 66 tahun.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kepergian Wahyu meninggalkan jejak panjang dalam sejarah musik pop melankolis Tanah Air—genre yang pernah menjadi denyut emosi jutaan pendengar di era 1980-an hingga awal 1990-an.

Nama Wahyu OS tak bisa dilepaskan dari lagu “Senandung Doa”, yang melejit lewat suara khas Nur Afni Octavia pada 1983. Lagu ini bukan sekadar hit, tetapi juga menjadi penanda zaman—ketika lirik sederhana mampu menembus relung perasaan paling dalam. Dari karya itu pula, Wahyu meraih penghargaan Golden Records dalam ajang siaran ABRI Puspen Hankam RRI-TVRI 1983.

Perjalanan kariernya bermula dari lingkungan Radio Republik Indonesia yang membawanya ke Bina Vokalia asuhan Yan Berlin. Di sanalah ia mulai menapaki jalan sebagai pencipta lagu, berkolaborasi dengan sejumlah musisi, hingga akhirnya menemukan ciri khasnya: melodi sendu dengan lirik yang jujur dan membumi.

Tak hanya di balik layar, Wahyu juga sempat menapaki karier sebagai penyanyi. Album “Mungkinkah” (1983) dan “Senandung Doa” (1984) menjadi bukti eksistensinya sebagai solois. Namun, titik penting kariernya terjadi saat bergabung dengan JK Records pada 1985 atas ajakan mendiang Hengky Firmansyah.

Di bawah label tersebut, karya-karyanya turut mengangkat nama-nama besar seperti Dian Piesesha, Eva Solina, hingga Ratih Purwasih. Lagu “Ingin Memiliki” yang ia bawakan bersama Dian Piesesha menjadi salah satu simbol kejayaan pop “cengeng” yang kala itu merajai pasar.

Namun, waktu berjalan. Ketika selera musik berubah dan era pop melankolis meredup, nama Wahyu OS perlahan ikut tenggelam dari industri. Ia memilih pulang ke akar—menetap di Cianjur dan menjalani kehidupan sebagai petani. Jauh dari gemerlap, tetapi tetap dekat dengan makna.

Pada 2014, ia sempat kembali menyapa penggemar lewat album remaster “Bila Kau Rindu Sebut Namaku”, sebuah penegasan bahwa karya-karyanya tak lekang oleh waktu, meski industri telah berubah drastis ke era digital.

Kini, Wahyu OS telah berpulang. Namun, nada-nada sendu yang ia ciptakan akan terus hidup—mengalun di radio, di kenangan, dan di hati mereka yang pernah jatuh cinta pada musik yang jujur.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU