
Prof. Ni Luh Kartini: Buktikan Pertanian Organik Bali Lewat Model SaBiCalTaLa
Analisnews.co.id. – TABANAN | Di tengah dominasi penggunaan pupuk kimia di sektor peetanian, Guru Besar Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., memilih jalur berbeda, dengan mengembangkan pertanian organik berbasis kearifan lokal.
Melalui lahan seluas 23 hektare lahan di Subak Blongyang di Br.Jelijih pondoh Desa Megati, Tabanan, sebagai ruang pembuktian membangun sistem pertanian organik terpadu bernama SaBiCalTaLa.
Bagi Prof. Kartini, pertanian bukan sekadar soal hasil panen. Ia adalah soal keseimbangan alam, keamanan pangan,kemandirian pangan, ketahanan pangan, dan martabat petani.
*Model SaBiCalTaLA: Rantai Alam yang Utuh*
Di atas lahan itu, Prof. Kartini merancang sistem organik terpadu SaBiCalTaLa singakatan dari, Sapi, Biogas, Cacing, Ikan, Tanaman, Lebah, dan Agrowisata.
Rantai makanan berjalan alami, cacing menyuburkan tanah sekaligus menjadi pakan ikan. Air kolam ikan yang dialirkan ke sawah membawa unsur hara dari kotoran ikan. Lebah diternak untuk membantu penyerbukan tanaman padi dan tanaman lainnya.
Semua pupuk dihasilkan dari limbah dapur dan kotoran sapi yang terlebih dahulu diolah menjadi biogas skala rumah tangga.
Begini prosesnya: pilah limbah dapur seperti sisa nasi, sayuran basi, kulit pisang, pisahkan limbah berminyak, tulang, termasuk bawang cacah atau belender tambahkan air 1:1 hingga menyerupai bubur.
Campuran tersebut lalu di masukan kedalam biodigester, yaitu dum yang kedap udara.Tambahkan kotoran sapi atau sejenisnya sebagai starter untuk mengoptimalkan bakteri pengurai dalam fermentasi anaerob.
Hasil fermentasi 25 kg limbah rumah tangga menghasilkan biogas setara pemakaian 6 jam kompor rumah tangga, selebihnya biogas juga bisa untuk bahan bakar lampu Strongking, jelas Prof. Kartini
*Pupuk Kimia: Cepat, Tapi Merusak*
Prof. Kartini tidak menampik, pupuk kimia memang memberikan hasil cepat. Namun ia mengingatkan, harga yang dibayar tanah terlalu mahal.
“Unsur hara nitrat (NO₃⁻) senyawa kimia ionik anargonik alami terdiri dari nitogren, oksigen, dan amonium. (NH₄+) kation poliatomik bermuatan positif, peran penting dalam siklus nitrogen sama, baik dari pupuk kimia maupun organik. Disini yang membedakan, pupuk kimia/sintetik diproduksi di pabrik dengan konsentrasi tinggi, sementara pupuk organik diurai mikroorganisme dan cacing tanah,” jelasnya.
Tak bisa disanggah, penggunaan pupuk kimia terus-menerus, menurunnya pH tanah anjlok dari 7 ke 4-5. Bahkan habitat penting seperti cacing, belut, dan mikroorganisme tanah mati,
tak sampai di situ, keanekaragaman hayati juga turut hilang.
*Beras Organik: nutriennya Seimbang dan Higienis*
Hasil pertanian organik, kata Prof. Kartini, lebih seimbang secara nutrisi. Beras dari pupuk organik dinilai lebih higienis dan berpotensi menekan risiko penyakit metabolik.
“Tanaman yang menyerap pupuk kimia dengan kandungan salah satu unsur dengan konsentrasi tinggi cenderung akan menekan unsur lain, yang konsentrasinya rendah seperti unsur mikro menghasilkan komposisi tidak seimbang.
Untuk itu, hasil beras dengan sistem anorganik kandungan gulanya lebih tinggi,
konsumsi berlebihan dikaitkan dengan risiko diabetes,” katanya.
*Perda Sudah Ada, Tapi Jalan di Tempat*
Prof. Kartini, menyoroti Bali sejatinya telah memiliki Peraturan Daerah Pertanian Organik sejak 2019. Deklarasi tersebut berlangsung di Danau Bulian/Buyan tahun 2009, turut ditanda tangani Bupati/Wali Kota, Gubernur Bali dan Dirjen dari Kementrian Pertanian.
Namun hingga kini, luas lahan organik masih dalam bentuk percontohan ada 83 kelompok pertanian organik yang sudah mengantongi sertipikat organik, luas lahan pertanian organik terbilang masih rendah dibandingkan dari total lahan pertanian yang ada.
Kondisi ini, menurut Prof. Kartini, menunjukkan perlunya keberanian dalam mengambil kebijakan.
“Kearifan lokal kita sudah mengajarkan keseimbangan alam. Saatnya pertanian Bali kembali ke jalur itu,” pungkasnya.
Di tengah keterbatasan, Prof. Kartini telah memberdayakan 16 warga sekitar melalui penyulingan serai dan pertanian organik. Disamping itu kawasan SaBiCalTaLa sebagai pusat pembelajaran Mahasiswa Universitas Udayana.
Model pertanian tersebut dinilai sangat mendukung untuk ketahanan pangan nasional, pemberdayaan masyarakat desa, hingga cita-cita kuat dalam ketahanan pangan, pemberdayaan pangan sekaligus swasembada pangan sebagai negara agraris
Sebuah bukti bahwa solusi bisa tumbuh dari bawah, meski dukungan dari atas belum sepenuhnya hadir.(red)
peryanian organik Bali, Prof.Ni luh Kartini, Tabanan,SaBiCalTaLa, ketahanan pangan