14
Mei
2026
Kamis - : WIB

“Horor Komedi Itu Tidak Ada”, Diskusi FFH Kupas Cara Industri Menjual Ketakutan dan Tawa

yadisuryadi
Mei 14, 2026 5:49 pm pada FILM, JAKARTA

Analisnews.co.id | Festival Film Horor (FFH) Edisi ke-6 memantik perdebatan menarik soal istilah “horor komedi” dalam industri perfilman Indonesia. Dalam diskusi bertajuk Seram-Seram Ngakak yang digelar di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 13 Mei 2026, para pembicara menilai label horor komedi lebih dekat sebagai strategi pemasaran ketimbang kategori film yang benar-benar berdiri sendiri.

Diskusi menghadirkan produser Arismuda, asisten sutradara Vindri Moe, serta pengamat film Novriansyah dengan moderator Nuty Laraswaty. Forum membahas kebingungan yang kerap muncul di kalangan penonton hingga juri festival saat menentukan identitas sebuah film yang memadukan unsur seram dan humor.

Pengamat film Novriansyah menilai kategori film semestinya bersifat tegas. Menurut dia, kehadiran adegan lucu dalam film horor tidak otomatis mengubah identitas utamanya menjadi komedi. Ia mencontohkan film-film klasik Suzanna yang kerap menyisipkan komedian Betawi sebagai pelepas ketegangan, namun tetap dikenal sebagai film horor.

“Kadang ada adegan lucu di film horor, tapi tetap saja identitas utamanya horor,” ujarnya.

Pandangan lebih tajam disampaikan produser Arismuda. Ia menyebut istilah horor komedi hanyalah bahasa marketing untuk memperluas segmen penonton.

“Kalau jujur, kategori horor komedi itu sebenarnya tidak ada. Itu strategi pemasaran supaya penonton horor dan komedi sama-sama tertarik datang ke bioskop,” katanya.

Sementara itu, Vindri Moe menilai kategori film biasanya sudah ditentukan sejak tahap penulisan skenario. Ia tidak mempermasalahkan label horor komedi selama unsur humornya muncul alami dari cerita, bukan dipaksakan demi kebutuhan pasar.

Diskusi juga menyoroti tidak adanya aturan baku soal persentase adegan dalam menentukan kategori film. Bahkan, meski unsur komedinya dominan, status film tetap ditentukan oleh rumah produksi dan strategi distribusi yang dipilih.

Di akhir forum, para pembicara sepakat bahwa label seperti horor komedi atau drama horor lebih banyak digunakan sebagai alat promosi untuk memperluas pasar penonton dibanding sebagai genre yang benar-benar mandiri dalam dunia perfilman.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU