09
April
2026
Kamis - : WIB

WSBP Kembali Tanam 376 Pohon Trembesi pada Bulan Juni 2025 sebagai Bagian dari Program Keberlanjutan Jangka Panjang

vritimes
Juli 5, 2025 11:01 am pada BISNIS

Jakarta, Juni 2025 – PT Waskita Beton Precast Tbk (kode saham: WSBP) terus memperkuat perannya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui program berkelanjutan WSBP Inspiring Kindness: Piles of Sustainability. Hingga saat ini, WSBP bersama para mitra dan pelanggan telah berhasil menanam total sebanyak 4.198 pohon Trembesi sebagai wujud nyata dari inisiatif yang telahberlangsung secara konsisten sejak awal program.

Angka ini akan terus bertambah seiring dengan konsistensi pelaksanaan program di setiap periode pengiriman. Untuk setiap 10 batang Spun Pile yang dikirimkan kepada pelanggan, satu pohon Trembesi ditanam sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Bulan ini, WSBP bersama mitra dan pelanggan menanam sebanyak 376 pohon Trembesi, atas total pengiriman Spun Pile yang mencapai 3.759 batang pada bulan sebelumnya.

Dukungan terhadap inisiatif ini tentunya datang dari sejumlah pelanggan dan mitra WSBP yang menerima pengiriman produk Spun Pile untuk proyek mereka sepanjang bulan Mei. Sejumlah pelanggan turut berkontribusi dalam kegiatan ini melalui proyek-proyek mereka, di antaranya PT Waskita Karya (Persero) Tbk untuk proyek Jalan Tol Palembang-Betung, PT Karya Teruji Utama untuk proyek Dermaga Marunda, PT Nindya Karya (Persero) untuk proyek Hotel Patra, PT Multi Welindo untuk proyek Pembangunan Terminal Batubara dan Pembangunan di Area Gasing, Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin Sumatera Selatan, PT Paramita Multi Sarana untuk proyek Smart Marunda Expasion Phase 3 Plant, PT Mega Andalan Sukses untuk proyek Sekolah Chevalier PIK 2, serta proyek-proyek lainnya.

“Konsistensi program ini menjadi simbol bahwa pembangunan infrastruktur dapat selaras dengan pelestarian lingkungan. Setiap batang Spun Pile yang kami produksi bukan hanya menopang bangunan fisik, tetapi juga membawa misi hijau melalui pohon-pohon yang kami tanam. Kami berkomitmen untuk terus menjalankan program ini secara konsisten di setiap periode pengiriman, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan WSBP dalam memberikan dampak positif bagi lingkungan,” ujar Fandy Dewanto, Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP.

Penghijauan ini dilaksanakan secara rutin setiap bulan dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang WSBP dalam mendorong praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan. Pohon-pohon yang telah ditanam dirawat dan dipantau secara berkala untuk memastikan pertumbuhannya memberikan dampak positif secara berkelanjutan.

Melalui Program WSBP Inspiring Kindness: Piles of Sustainability, WSBP bersama mitra dan pelanggan telah berhasil berupaya menurunkan emisi karbon setara dengan 1.513,14 KgCO2eq, menunjukkan kontribusi nyata terhadap target pengurangan jejak karbon dari sektor konstruksi. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan berlanjutnya program dan komitmen dari seluruh pihak yang terlibat.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, WSBP senantiasa menjalankan kegiatan operasional dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, serta terus mendorong terciptanya dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat luas.

About PT Waskita Beton Precast Tbk

WSBP berdiri pada 7 Oktober 2014 sebagai salah satu anak usaha dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Pada 20 September 2016, WSBP mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan menjadi perusahaan publik. WSBP terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu perusahaan manufaktur beton pra-cetak terbesar di Indonesia melalui kontribusinya pada berbagai proyek infrastruktur di Tanah Air. Saat ini WSBP memiliki Precast Plant dan Batching Plant yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Disalin

Pos Terkait

November 20, 2025 7:42 am
Tokoh Logistik Nasional Bongkar Penyebab Biaya Logistik Termahal di Asia TenggaraBiaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari PDB, yang mana tertinggi di Asia Tenggara, yang disebabkan oleh empat faktor utama yang menghambat daya saing, yaitu: proteksi industri truk dan oligopoli, mahalnya infrastruktur tol, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta kompleksitas regulasi dan birokrasi; namun, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), Daniel Budi Setiawan, menawarkan solusi strategis melalui digitalisasi logistik dengan aplikasi muatmuat yang bertujuan mengoptimalkan utilitas armada, meningkatkan transparansi pasar, dan menekan biaya suku cadang guna menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan kompetitif. JAKARTA – Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata negara maju (8-9%) dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional. Menurut Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), tingginya biaya logistik mencerminkan masih rendahnya efisiensi rantai pasok nasional yang berimbas langsung pada harga produk dan daya beli masyarakat. “Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel. Empat Faktor Penghambat Efisiensi Logistik Nasional Berdasarkan pengalaman Daniel selama puluhan tahun memimpin perusahaan logistik PT. Siba Surya yang punya aset ribuan truk dari yang awalnya hanya belasan, terdapat empat variabel utama yang berkontribusi terhadap tingginya biaya logistik Indonesia, di mana sebagian besar masih berada dalam kendali kebijakan pemerintah. 1. Proteksi Industri Truk (Kartel Pabrikan): Kebijakan proteksi yang sudah berjalan lebih dari lima dekade terhadap merek truk asal Jepang seperti Fuso, Hino, Isuzu, dan Nissan Diesel menyebabkan harga barang modal meningkat drastis. “Sampai saat ini, commercial vehicle masih dibebani bea masuk 35-45%. Empat merek besar itu berada dalam posisi oligopoli. Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel. 2. Infrastruktur Tol yang Mahal: Tidak seperti di negara maju, di mana pajak kendaraan sudah mencakup hak menggunakan jalan bebas hambatan, Indonesia masih menerapkan sistem tol berbayar yang dianggap mahal bagi pelaku transportasi barang. Hal ini menambah biaya transportasi logistik di luar pajak kendaraan tahunan. 3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah: Ketergantungan terhadap suku cadang dan bahan bakar impor membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Setiap perubahan kurs berpotensi menaikkan ongkos logistik secara signifikan. 4. Regulasi dan Birokrasi: Kompleksitas perizinan, pajak ganda (PPN, PPh, Bea Masuk, PKB, KIR), serta birokrasi antarinstansi memperpanjang proses dan meningkatkan biaya distribusi nasional. Peran Swasta: Mendorong Efisiensi dan Transparansi Meski tiga dari empat faktor tersebut bersifat makro, sektor swasta dinilai tetap memiliki ruang untuk mendorong efisiensi melalui inovasi dan digitalisasi logistik. Berbekal pengalaman puluhan tahun menghadapi kompleksitas industri logistik, Daniel menghadirkan muatmuat sebagai solusi strategis bagi pelaku logistik untuk memangkas biaya dan membuka efisiensi baru dalam rantai pasok Indonesia. Daniel mencontohkan langkah-langkah yang dapat diambil industri untuk mengurangi beban biaya, seperti: 1. Mengoptimalkan Utilisasi Armada: Mengurangi jumlah truk yang kembali kosong (empty return) dengan sistem pencocokan muatan digital di fitur Transport Market. 2. Meningkatkan Transparansi Pasar: Menghubungkan pengirim dan transporter secara langsung agar rantai distribusi lebih efisien dan biaya mark-up berkurang. 3. Digitalisasi Suku Cadang: di muatmuat juga tersedia Platform e-commerce bernama muatparts khusus logistik dapat menghadirkan harga suku cadang yang lebih kompetitif untuk menekan biaya operasional transportasi. “Kami percaya efisiensi pasar dapat dicapai lewat kolaborasi dan keterbukaan data. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat pula industrinya,” tambah Daniel di podcast bersama Helmy Yahya. Aplikasi muatmuat, yang dikembangkan oleh Daniel Budi Setiawan dan kini telah dipercaya oleh puluhan ribu pelaku logistik nasional sejak mulai dipasarkan pada 2024, menjadi contoh nyata kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, transparan, dan berdaya saing. Karakter yang Dibutuhkan untuk Bertahan di Industri Logistik Bagi Daniel, industri logistik adalah arena yang menuntut ketahanan mental, disiplin, dan keberanian untuk terus bergerak. “Yang bisa survive di industri ini adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya. Berhenti sejenak saja bisa tersingkir oleh mekanisme pasar, sehingga ekspansi dan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pengalaman panjang Daniel menghadapi kerasnya industri transportasi membentuk pemahaman bahwa banyak pelaku logistik sebenarnya mampu tumbuh, asal prosesnya dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari sinilah muatmuat lahir: sebagai perpanjangan dari semangat bertarung itu. Bukan sekadar platform, tetapi alat yang membantu pelaku industri meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya operasional, dan tetap kompetitif di tengah tantangan. Bagi Daniel, logistik memang keras, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang cukup kuat dan cukup berani untuk terus maju. Tentang muatmuat muatmuat hadir dengan visi menjadi produk yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat logistik di Indonesia. khususnya yang berdampak kepada : 1. Rendahnya daya beli masyarakat 2. Rendahnya kualitas atau nilai kompetitif sebuah produk/jasa, dan 3. Roda perekonomian di Indonesia Berbekal pengalaman nyata selama 4 generasi di bidang logistik serta teknologiyang handal, kami siap bersama pemangku kepentingan berkolaborasi mengemban misi dalam mendigitalisasi dan membangun industri logistik yang berkelanjutan. Kami turut mengajak masyarakat logistik untuk tergabung, saling terhubung dan jalan mudah bersama kami. Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU