
Sebagai implementasi dari visi besar Syaykh Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang, M.P. dalam mewujudkan transformasi revolusioner pendidikan berasrama menuju Indonesia Modern di usia 100 tahun kemerdekaan, dengan mengusung gagasan “Novum Gradum” melalui pendekatan kurikulum LSTEAM (Law, Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics). Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) turut aktif mengikuti agenda Pelatihan Pelaku Didik tersebut, Kegiatan diikuti secara antusias oleh seluruh sivitas akademika mulai dari mahasiswa Fakultas Tarbiyah, program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), mahasiswa Fakultas Syariah, program studi Hukum Ekonomi Syariah, dan program studi Hukum Tatanegara, mahasiswa Fakultas Dakwah, program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan program studi Manajemen Dakwah (MD), pimpinan, para dosen, dan tenaga kependidikan berkolaborasi dalam kegiatan pelatihan ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam menghidupkan semangat Pendidikan Indonesia Raya, baik secara pribadi maupun kelembagaan.
Agenda Pelatihan ini sebagai tindak lanjut gagasan besar Syaykh Al-Zaytun, untuk memperkaya perspektif gagasan besar tersebut, maka dihadirkan para pakar terkemuka setiap akhir pekan sepanjang bulan Juni 2025. Setiap akhir pekan tepatnya hari Ahad 1 Juni, menghadirkan Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. (Ahli Filsafat, Pendidikan, dan Kebudayaan), Ahad 8 Juni, narasumber Prof. Drs. Triyono Bramantyo, M.Mus.Ed., Ph.D. (Ahli Musikologi, Edukasi, dan Estetika), Ahad 15 Juni, narasumber Prof. Dr. Sri Widiantoro, M.Sc., Ph.D. (Guru Besar Geofisika Seismologi ITB), Ahad 22 Juni, Abdussalam Panji Gumilang, S.Sos., M.P. dan pada 29 Juni, menghadirkaan narasumber Prof. Dr. I. Gede Pantja Astawa, S.H., M.H. (Guru Besar Hukum Tata Negara Unpad).
Kegiatan pelatihan pelaku didik ini selaras dengan program pengembangan keprofesian dan pelatihan Sumber Daya Manusia yang komprehensif dan berkelanjutan di Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS), sebagaimana arahan Rektor IAI AL-AZIS Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C., selalu mengajak untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja dosen dan tenaga kependidikan di IAI AL-AZIS. Kegiatan yang diikuti oleh sivitas IAI AL-AZIS ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan citra dan reputasi perguruan tinggi. Selain itu, kegiatan ini sangat diharapkan membantu sumber daya manusia di Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi tenaga pendidik juga tenaga kependidikan sebagai pelaku didik pada kegiatan pendidikan di perguruan tinggi, sehingga dapat berkontribusi lebih baik dalam mencapai tujuan dan sasaran perguruan tinggi.
Melalui kolaborasi pelatihan pelaku didik ini, Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) bertekad menjadikan pendidikan sebagai garda terdepan dalam melahirkan generasi unggul yang siap menghadapi tantangan abad ke-21, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan.
Berikut ini jurnal pelatihan pelaku didik sepanjang bulan Juni yang disampaikan oleh para pakar di bidangnya masing-masing.

Para pakar memaparkan kedalaman gagasan Syaykh Al-Zaytun tentang transformasi pendidikan berasrama sebagai poros penting dalam membangun Indonesia Modern di usia satu abad kemerdekaan. Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. menekankan bagaimana filosofi “Novum Gradum” mengintegrasikan kebijaksanaan klasik dengan kebutuhan pendidikan kontemporer, sementara Prof. Triyono Bramantyo, M.Mus.Ed., Ph.D. menguraikan pentingnya pendekatan estetika dan seni dalam membentuk karakter peserta didik. Prof. Dr. Sri Widiantoro, M.Sc., Ph.D. memaparkan relevansi pendekatan LSTEAM dalam menyiapkan kompetensi abad 21, didukung oleh analisis Abdussalam Panji Gumilang, M.P. tentang implementasi nilai-nilai filosofis dalam pendidikan. Prof. Dr. I. Gede Pantja Astawa, S.H., M.H. menambahkan perspektif hukum yang mengakar pada kearifan lokal sebagai fondasi sistem pendidikan berasrama yang holistik. Bersama-sama, para ahli ini memvisualisasikan bagaimana gagasan Syaykh Al-Zaytun bukan sekadar konsep teoretis, melainkan cetak biru nyata untuk melahirkan generasi Indonesia yang unggul, berkarakter, berkesadaran dan berkolaborasi global.
Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. menegaskan Revolusi Pendidikan berlandaskan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang keselarasan antara kodrat alam dan zaman, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman baru (Masyarakat 5. 0. Di tengah era disrupsi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat, berlandaskan 8 Profil Pelajar Pancasila, mulai dari keimanan hingga kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi. Society 5.0 hadir dengan solusi teknologi berbasis humanis, namun tantangan seperti kesenjangan digital dan degradasi moral harus diantisipasi melalui pendekatan pendidikan yang holistik dan berkelanjutan.
Sistem asrama sebagai sistem pendidikan nasional dapat menjadi wadah pembentukan karakter sekaligus penguatan nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Sutrisna Wibawa menekankan bahwa pendidikan harus mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pembangunan manusia berintegritas, sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya kompetitif di tingkat global, tetapi juga berakar pada jati diri bangsa. Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia dapat mewujudkan visi 2045 sebagai bangsa yang maju, mandiri, dan berkeadaban luhur.
Pelatihan yang disampaikan oleh Prof. Drs. Triyono Bramantyo, M.Mus.Ed., Ph.D. menyampaikan bahwa Pendidikan Seni Holistik di Era Digital merupakan pilar penting dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, dengan pendidikan seni yang menyeluruh dan adaptif terhadap teknologi digital tidak hanya memperkaya kreativitas tetapi juga membentuk karakter bangsa yang tangguh di tengah globalisasi. Untuk mencapainya, diperlukan reformulasi kurikulum seni yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan kemajuan teknologi agar melahirkan generasi yang melek digital sekaligus bangga akan identitas budayanya, didukung oleh guru dan lembaga pendidikan seni yang terus dikembangkan kompetensinya secara pedagogis dan kolaboratif. Rekomendasi strategis mencakup penguatan infrastruktur digital dan pemerataan akses teknologi di seluruh Indonesia, serta kolaborasi aktif antara sekolah, komunitas seni, dan lembaga budaya untuk menciptakan ekosistem pendidikan seni yang dinamis. Prof. Triyono Bramantyo menekankan bahwa pendidikan seni bukan hanya tentang keterampilan teknis melainkan juga fondasi pembentuk kreativitas dan karakter bangsa, sehingga dengan sinergi antara teknologi dan budaya lokal, pendidikan seni dapat menjadi katalisator utama dalam mempersiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045 yang berdaya saing global namun tetap berakar pada kearifan lokal.
Berikutnya sesi Prof. Dr. Sri Widiantoro, M.Sc., Ph.D. menegaskan bahwa transformasi pendidikan berasrama merupakan langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia modern di abad 21, dengan pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada pengajaran tetapi pembentukan manusia utuh melalui pergeseran paradigma dari sistem kaku menuju ekosistem belajar fleksibel berbasis proyek dan kontekstual, di mana guru berperan sebagai pembimbing yang memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. Untuk mewujudkan visi ini, diperlukan transformasi infrastruktur pendidikan yang mendukung inovasi dan kolaborasi, dengan pendidikan berasrama sebagai model ideal untuk menumbuhkan karakter, kompetensi abad 21, serta sense of purpose yang kuat, sehingga generasi mendatang tidak hanya unggul akademis tetapi juga memiliki integritas, kreativitas, dan kepemimpinan untuk membawa Indonesia menuju kemajuan di usia seabad-nya sebagai bangsa yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan.
Gagasan bersama ini diperkuat dengan landasan filosofis yang disampaikan oleh Abdussalam Panji Gumilang, S.Sos., M.P. diawali dialog dengan pelaku didik yang mempersiapkan hajat hidup umat manusia yaitu para petani selanjutnya uraian filsafat pertanian untuk memahami cara bertani dengan hasil yang baik. Ditampilkan dengan konsep tiga cabang utama filsafat yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi dan pemaknaan konsep tauhid Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyah. Selanjutnya beliau juga menegaskan bahwa transformasi revolusioner pendidikan berasrama harus berakar pada filsafat pendidikan klasik, menggali warisan pemikiran tokoh-tokoh besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles,Confucius, Laozi, Pythagoras, Isocrates dan Buddha Gautama, untuk membentuk manusia utuh yang mampu menjawab tantangan zaman melalui kerangka holistik Mandala Filosofis Pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai klasik dengan pendekatan modern LSTEAM dan etika lingkungan. Pendidikan berasrama sebagai model transformatif perlu mengadopsi pilar-pilar filosofis klasik yang diadaptasi secara kontekstual, seperti retorika Socrates dan pencerahan diri Buddha, untuk membangun kemampuan komunikasi dan kesadaran spiritual peserta didik, sekaligus memperkuat sistem pendidikan inklusif dan berkelanjutan agar tidak hanya menjadi wahana pengajaran tetapi kekuatan peradaban yang melahirkan generasi unggul berkarakter melalui sinergi kebijaksanaan klasik dan inovasi modern menuju Indonesia maju, berdaulat, dan berkelanjutan.
Akhir pekan di bulan Juni pelatihan pelaku didik membahas tentang pentingnya memahami Hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Revolusi pendidikan di Indonesia membutuhkan transformasi mendasar yang tidak hanya menyangkut kurikulum dan teknologi, tetapi juga harus berlandaskan pendekatan hukum kontekstual dan kearifan lokal, sebagaimana ditekankan Prof. Dr. I. Gede Pantja Astawa. Menggunakan perspektif Sociological Jurisprudence dan Teori Hukum Pembangunan ala Prof. Mochtar Kusumaatmadja dan Prof. Sjahran Basah, hukum harus berfungsi sebagai pengarah pembangunan sistem pendidikan yang mengatasi kesenjangan antara idealitas peraturan (Das Sollen) dengan realitas di lapangan (Das Sein) seperti ketimpangan kualitas pendidikan dan lemahnya karakter peserta didik. Integrasi nilai-nilai lokal seperti filosofi Sunda “silih asah, silih asih, silih asuh” dapat menjadi landasan moral dalam membentuk karakter peserta didik sekaligus memperkuat jati diri bangsa. Pendekatan holistik ini menciptakan kebijakan pendidikan yang tidak kaku secara legalistik tetapi membumi, menghasilkan manusia Indonesia yang berdaya, bermoral, dan kritis, sehingga revolusi pendidikan menjadi gerakan nyata yang menyinergikan hukum, budaya, dan nilai luhur bangsa untuk menciptakan sistem pendidikan yang adil, relevan, dan berkelanjutan.
Epilog
Gagasan revolusioner Syaykh Al-Zaytun tentang transformasi pendidikan berasrama melalui pendekatan teori “Novum Gradum” dan kurikulum berbasis LSTEAM (Law, Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics) telah mendapatkan legitimasi akademis dari para pakar multidisiplin. Integrasi antara filosofi pendidikan, seni, sains-teknologi, dan hukum berbasis kearifan lokal ini bukan hanya wacana, melainkan cetak biru nyata untuk melahirkan generasi Indonesia emas 2045 yang unggul secara intelektual, berkarakter kuat, berkesadaran dan berperadaban di permukaan dunia yang memegang teguh nilai-nilai dasar Pancasila. Dengan semangat kolaborasi seluruh sivitas Ma’had Al-Zaytun demikian pula sivitas akademika Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS), visi besar ini siap diwujudkan sebagai kontribusi nyata bagi pendidikan Indonesia menyongsong usia 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.
Perjalanan pelatihan ini telah membuka cakrawala baru bagi para pelaku didik untuk menyelami kedalaman gagasan Syaykh Al-Zaytun tentang pendidikan berasrama sebagai poros penting dalam memajukan Indonesia di usia satu abad kemerdekaan. Melalui paparan para pakar multidisiplin, kita tidak hanya diajak memahami landasan filosofis, tetapi juga implementasi nyata dari sebuah sistem pendidikan yang holistik, integratif, dan futuristik.