Putu Agus Yudiawan : Krisis Nurani di Era Kapitalisme Pengetahuan
FBN,RI.com — DENPASAR | Apa sesungguhnya sebuah arti pengetahuan? Apakah ia menjadikan kita manusia yang lebih baik?
Dokter yang lebih berempati, pengacara yang lebih adil, teknisi yang lebih jujur, atau penceramah yang lebih tulus?
Pertanyaan itu terasa berat ketika kita melihat realitas. Di banyak ruang, pengetahuan justru dipakai sebagai alat. Dokter mengeksploitasi pasien. Pengacara mengeksploitasi klien. Agama dan spiritualitas pun tak luput dari transaksi. Di sanalah wajah patriarki dan kapitalisme bertemu, semua berjuang untuk uang dan kepentingan diri, terang, tokoh spiritual Putu Agus Yudiawan.
Kita mungkin terdidik secara akademik, tapi belum tentu terdidik dalam arti saling membantu dan membebaskan. Untuk itu, pendidikan ulang terhadap diri sendiri menjadi penting.
I Putu Agus Yudiawan (Warih Mula Keto) memapaparkan apa itu sebuah komunitas, “Saya tidak bisa mengajarkan kreativitas.” Kreativitas bukan mata pelajaran. Ia cara hidup. Ia dijalani dari lahir hingga mati, dirasakan di sekolah maupun di rumah. Ia tumbuh dari keberanian mengalami.
Pengetahuan ilmu neurosains dan pengalaman hidup menunjukkan satu hal, otak manusia tidak untuk dirancang mencari benar atau salah. Ia dirancang untuk bertahan hidup, maka tidak heran jika banyak orang lebih takut miskin, banyak orang memakai sabuk pengaman. Di sinilah eajah kemunafikan muncul dan tumbuh, ujarnya
Jika demikian, di mana letak harapan? Jawabannya tentu ada pada hati nurani.
Oleh sebab itu, Nurani tidak cukup dilatih lewat kitab suci, ceramah, meditasi, atau kisah inspiratif saja. Semua itu penting, tapi posisinya pelengkap, Ia merupakan sebuah jembatan, media utama untuk melatih nurani ialah mengenal diri melalui pengalaman hidup dan memetik dari sebuah pelajaran tersebut, tambahnya.
Ia menjelaskan, bersyukur dalam konteks ini bukan sekadar mengucap terima kasih atas nikmat yang telah dicapainya. Namun disisi lain bersyukur adalah kemampuan menerima kesedihan setara dengan kebahagiaan, menerima kekecewaan setara dengan kemakmuran.
Dari rasa bisa merima itulah muncul rasa kehadiran Tuhan di mana-mana. Al-Quran menyebut: “Ke mana pun kamu menghadap, di situlah ada kehadiran Allah.” Ajaran Bali menyebut Tuhan sebagai Sarwa Rupa. Penerimaan dualitas dengan ikhlas inilah yang dalam filsafat disebut Siwa Marupa Budha. Mengenal diri, pada akhirnya, adalah jalan mengenal Tuhan, urainya.
Lalu mana yang lebih utama, membaca kitab suci atau memetik pelajaran hidup?
Lebih utama mereka yang memetik pelajaran dari hidup. Namun akan jauh lebih utama lagi mereka yang sudah kenyang oleh pengalaman hidup dan memetik hikmahnya, lalu kembali pada kitab suci baik Sruti maupun Smerti
Karena pengetahuan tanpa pengalaman melahirkan arogansi. Pengalaman tanpa pengetahuan melahirkan kebingungan. Keduanya harus bertemu agar manusia tidak hanya cerdas, tetapi juga berkeadaban, pungkasnya.
Semoga artikel ini menjadi renungan, selain itu kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,”Warih Mula Keto.”(ranu)
#Warih Mula Keto #Bersyukur adalah menerima #Mengenal diri jalan menuju Tuhan.
