Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

“Seni Merayu Tuhan”: Kisah Toleransi dan Makna Hidup yang Disaksikan Tokoh Lintas Agama

Landmark Baru Hadir di Chayamachi, Umeda, Osaka! “Alpen OSAKA”, Toko Unggulan Olahraga Bebas Pajak Terbesar di Jepang Bagian Barat, Resmi Dibuka

Semarak HUT ke-81 RI, Kecamatan Pollung Gelar Pertandingan Volley dan Sejumlah Rangkaian Kegiatan

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Putu Agus Yudiawan: Krisis Nurani di Era Kapitalisme Pengetahuan
Terkini

Putu Agus Yudiawan: Krisis Nurani di Era Kapitalisme Pengetahuan

ranuBy ranu11 Agustus 2026 7:45 PM083 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Putu Agus Yudiawan : Krisis Nurani di Era Kapitalisme Pengetahuan

 

FBN,RI.com — DENPASAR | Apa sesungguhnya sebuah arti pengetahuan? Apakah ia menjadikan kita manusia yang lebih baik?
Dokter yang lebih berempati, pengacara yang lebih adil, teknisi yang lebih jujur, atau penceramah yang lebih tulus?

Pertanyaan itu terasa berat ketika kita melihat realitas. Di banyak ruang, pengetahuan justru dipakai sebagai alat. Dokter mengeksploitasi pasien. Pengacara mengeksploitasi klien. Agama dan spiritualitas pun tak luput dari transaksi. Di sanalah wajah patriarki dan kapitalisme bertemu, semua berjuang untuk uang dan kepentingan diri, terang, tokoh spiritual Putu Agus Yudiawan.

Kita mungkin terdidik secara akademik, tapi belum tentu terdidik dalam arti saling membantu dan membebaskan. Untuk itu, pendidikan ulang terhadap diri sendiri menjadi penting.

I Putu Agus Yudiawan (Warih Mula Keto) memapaparkan apa itu sebuah komunitas, “Saya tidak bisa mengajarkan kreativitas.” Kreativitas bukan mata pelajaran. Ia cara hidup. Ia dijalani dari lahir hingga mati, dirasakan di sekolah maupun di rumah. Ia tumbuh dari keberanian mengalami.

Pengetahuan ilmu neurosains dan pengalaman hidup menunjukkan satu hal, otak manusia tidak untuk dirancang mencari benar atau salah. Ia dirancang untuk bertahan hidup, maka tidak heran jika banyak orang lebih takut miskin, banyak orang memakai sabuk pengaman. Di sinilah eajah kemunafikan muncul dan tumbuh, ujarnya

Jika demikian, di mana letak harapan? Jawabannya tentu ada pada hati nurani.

Oleh sebab itu, Nurani tidak cukup dilatih lewat kitab suci, ceramah, meditasi, atau kisah inspiratif saja. Semua itu penting, tapi posisinya pelengkap, Ia merupakan sebuah jembatan, media utama untuk melatih nurani ialah mengenal diri melalui pengalaman hidup dan memetik dari sebuah pelajaran tersebut, tambahnya.

Ia menjelaskan, bersyukur dalam konteks ini bukan sekadar mengucap terima kasih atas nikmat yang telah dicapainya. Namun disisi lain bersyukur adalah kemampuan menerima kesedihan setara dengan kebahagiaan, menerima kekecewaan setara dengan kemakmuran.

Dari rasa bisa merima itulah muncul rasa kehadiran Tuhan di mana-mana. Al-Quran menyebut: “Ke mana pun kamu menghadap, di situlah ada kehadiran Allah.” Ajaran Bali menyebut Tuhan sebagai Sarwa Rupa. Penerimaan dualitas dengan ikhlas inilah yang dalam filsafat disebut Siwa Marupa Budha. Mengenal diri, pada akhirnya, adalah jalan mengenal Tuhan, urainya.

Lalu mana yang lebih utama, membaca kitab suci atau memetik pelajaran hidup?

Lebih utama mereka yang memetik pelajaran dari hidup. Namun akan jauh lebih utama lagi mereka yang sudah kenyang oleh pengalaman hidup dan memetik hikmahnya, lalu kembali pada kitab suci baik Sruti maupun Smerti

Karena pengetahuan tanpa pengalaman melahirkan arogansi. Pengalaman tanpa pengetahuan melahirkan kebingungan. Keduanya harus bertemu agar manusia tidak hanya cerdas, tetapi juga berkeadaban, pungkasnya.

Semoga artikel ini menjadi renungan, selain itu kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,”Warih Mula Keto.”(ranu)

#Warih Mula Keto #Bersyukur adalah menerima #Mengenal diri jalan menuju Tuhan.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePOLSEK PULAU PETAK LAKSANAKAN KEGIATAN SIAGA MAKO PADA MALAM HARI GUNA CIPTAKAN SITUASI AMAN
Next Article ‎Audiensi ke Kemendikdasmen dan Kemenag, Bupati Taput Laporkan Penanganan Sekolah Bencana dan Undang Menteri Buka Rakernas V MPK
ranu

Related Posts

Landmark Baru Hadir di Chayamachi, Umeda, Osaka! “Alpen OSAKA”, Toko Unggulan Olahraga Bebas Pajak Terbesar di Jepang Bagian Barat, Resmi Dibuka

11 Agustus 2026 9:05 PM

Semarak HUT ke-81 RI, Kecamatan Pollung Gelar Pertandingan Volley dan Sejumlah Rangkaian Kegiatan

11 Agustus 2026 8:25 PM

PERSONEL POLSEK PULAU PETAK LAKSANAKAN SOSIALISASI ILEGAL MINING KE MASYARAKAT GUNA PENCEGAHAN TAMBANG LIAR DI WILAYAH KECAMATAN PULAU PETAK

11 Agustus 2026 8:23 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.