Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pengeluar Produk Latvia Memperkukuh Kehadiran dalam Pasaran F and B Premium Malaysia

Hidupi Makna Imago Dei, UPH dan DPP GRANAT Ajak Mahasiswa Baru Pilih Hidup Sehat Tanpa Narkotika

JMTM Rayakan HUT ke-38 dengan Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim Piatu

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Dedikasi Guruh untuk Indonesia: Dari Panggung Seni hingga Anak Penyintas Kanker
Terkini

Dedikasi Guruh untuk Indonesia: Dari Panggung Seni hingga Anak Penyintas Kanker

yadiBy yadi28 Agustus 2026 11:35 AM093 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | Jakarta – Malam itu, Indonesia hadir bukan sekadar sebagai nama sebuah negeri. Ia menjelma dalam kidung, gerak tari, alunan musik, serta kepedulian yang mengalir untuk mereka yang tengah berjuang melawan penyakit.

Di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026), Guruh Sukarno Putra menggelar pagelaran seni dan budaya bertajuk “Untuk Indonesia”. Namun, di balik gemerlap panggung dan ragam pertunjukan, ada pesan yang jauh lebih dalam: mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengucapkannya.

Bagi Guruh, cinta kepada Tanah Air semestinya menemukan wujudnya dalam perhatian kepada sesama, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesediaan untuk menjaga kekayaan budaya yang menjadi identitas bangsa.

“Cinta itu nggak harus misteri. Cinta semua, cinta pemandangan kita, cinta negeri kita, tanah air kita,” ujar Guruh di sela pagelaran.

Malam itu juga menjadi momentum peluncuran grup paduan suara Gema Indonesia sekaligus penggalangan dana bagi anak-anak penyintas kanker. Kidung Bali, tari tradisional, paduan suara, hingga pertunjukan musik bergantian memenuhi ruang pertunjukan, seolah merangkai mozaik tentang Indonesia yang beragam.

Namun, bagi Guruh, keberagaman dan keindahan itu akan kehilangan makna apabila kecintaan kepada bangsa masih berpusat pada kepentingan diri sendiri.

“Seberapa cinta kalau diri saya nomor satu, diutamakan dan dikedepankan?” katanya.

Pertanyaan itu seperti menjadi ajakan untuk berkaca. Bahwa nasionalisme bukan hanya tentang simbol, upacara, atau seruan yang lantang, melainkan juga tentang kemampuan menempatkan kehidupan orang lain sebagai bagian dari kepentingan bersama.

Guruh mengaku kerap tersentuh ketika menyaksikan wajah-wajah Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak, petani, nelayan, dan masyarakat kecil, baginya, bukan sekadar bagian dari statistik pembangunan. Mereka adalah wajah nyata dari negeri yang dicintainya.

“Saya lihat pemandangan, lihat anak-anak Indonesia, lihat petani, nelayan dan lain-lain, saya menangis,” tutur Guruh.

Di tengah rasa cintanya itu, terselip pula kegelisahan. Ia melihat masih banyak generasi muda yang belum sepenuhnya mengenal negeri sendiri, termasuk akar budaya yang tumbuh dan berkembang di dalamnya.

“Saya menyadari begitu banyak anak Indonesia tidak mengenal Indonesia, budaya Indonesia. Kita perlu sadari bersama,” ujarnya.

Kegelisahan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa seni dan budaya terus menjadi jalan yang dipilih Guruh. Melalui panggung, lagu, tari, dan berbagai ekspresi kreatif, kebudayaan dapat kembali berbicara kepada generasi yang mungkin semakin jauh dari akar identitasnya.

Pagelaran “Untuk Indonesia” pun tidak berhenti sebagai perayaan estetika. Ada kepedulian sosial yang menyertainya. Sejumlah karya, mulai dari songket Sumatera, pakaian batik, hingga karya-karya lainnya, dilelang untuk menggalang dana bagi anak-anak penyintas kanker.

Dari proses lelang tersebut, terkumpul dana sekitar Rp200 juta.

Angka itu mungkin menjadi catatan penting dari sebuah malam kesenian. Namun, lebih dari nominal yang berhasil dihimpun, pagelaran tersebut menghadirkan pesan tentang bagaimana seni dapat melampaui panggungnya: menyentuh kehidupan, menggerakkan kepedulian, dan mempertemukan cinta kepada budaya dengan cinta kepada sesama.

Melalui “Untuk Indonesia”, Guruh Sukarno Putra seolah mengingatkan bahwa mencintai negeri tidak harus selalu dimulai dari hal besar. Cinta bisa tumbuh dari kesediaan melihat, memahami, dan peduli.

Sebab Indonesia, pada akhirnya, bukan hanya tanah yang dipijak atau lagu kebangsaan yang dinyanyikan. Indonesia adalah anak-anak yang membutuhkan masa depan, petani dan nelayan yang menjaga kehidupan, budaya yang menunggu untuk dikenali, serta sesama manusia yang membutuhkan uluran tangan.

Dan mungkin, dari situlah cinta kepada Indonesia menemukan bentuknya yang paling nyata.(Phyd)

Redaksi

AnakPenyintasKanker CintaIndonesia GemaIndonesia GuruhSukarnoPutra IndonesiaBerbudaya PeduliSesama SeniBudayaIndonesia UntukIndonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleSOSIALISASI LARANGAN ILLEGAL MINING, BERTUJUAN CIPTAKAN MASYARAKAT SADAR AKAN LINGKUNGAN OLEH POLSEK KAPUAS TIMUR
Next Article Igloo Ungkap 79% Pelanggan Utamakan Perlindungan Medis Asuransi Perjalanan
yadi

Related Posts

JMTM Rayakan HUT ke-38 dengan Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim Piatu

28 Agustus 2026 12:03 PM

Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?

28 Agustus 2026 11:52 AM

Dekorasi Merah Putih BRI BO Cut Mutiah Meriahkan HUT ke-81 RI

28 Agustus 2026 11:45 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.