Analisnews.co.id | JAKARTA — Lima anak muda, lima karakter, dan latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Namun, ketika musik dimainkan, perbedaan itu justru menemukan tempatnya.
Dari pertemuan di dunia musik dan berbagai kompetisi, mereka akhirnya menyadari satu hal: ada kecocokan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Maka, pada 2019, lahirlah Go Tunes.
Mereka bukan sekadar sekumpulan anak muda yang kebetulan memainkan musik bersama. Sebelum berada dalam satu panggung, masing-masing telah memiliki perjalanan musikal sendiri. Ada yang datang dari Bogor, ada pula yang tumbuh di Tangerang. Mereka pernah bermain dengan band masing-masing, bertemu dalam berbagai kesempatan, lalu perlahan menemukan chemistry.
“Awalnya kami dari band masing-masing. Setelah saling mengenal, akhirnya kami kumpul dan membentuk Go Tunes,” ujar Borneo, salah satu personel Go Tunes.
Tidak serta-merta semuanya berjalan mulus.
Menyatukan lima kepala dengan karakter berbeda tentu membutuhkan proses. Ada perbedaan selera, cara berpikir, hingga cara memainkan musik. Namun, mereka memiliki satu kesamaan yang membuat semua perbedaan itu bisa dikelola: keinginan untuk terus bermusik dan berkarya.
Dari Kompetisi Menjadi Pertemanan
Menariknya, perjalanan Go Tunes juga tumbuh dari atmosfer kompetisi.
Bagi mereka, panggung lomba bukan semata tempat untuk mengejar juara. Kompetisi justru menjadi ruang perjumpaan. Di sana mereka bertemu musisi lain, belajar dari penampilan kelompok berbeda, memperoleh pengalaman, sekaligus membuka kemungkinan untuk menemukan teman seperjalanan.
Dari pertemuan-pertemuan itulah hubungan mereka berkembang.
Kini, lima personel Go Tunes bahkan tidak lagi memandang satu sama lain sekadar sebagai teman satu band.
Mereka sudah seperti keluarga.
“Ibaratnya sudah seperti keluarga. Ada kakak, ada adik, semuanya menjadi satu,” kata Borneo.
Kalimat itu barangkali sederhana. Namun, bagi sebuah band, rasa seperti keluarga bukan perkara kecil.
Sebab, perjalanan bermusik tidak hanya membutuhkan kemampuan memainkan alat musik. Ia juga membutuhkan kesabaran menghadapi perbedaan, kemauan mendengarkan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas ego masing-masing.
Lima Karakter, Satu Irama
Formasi Go Tunes diisi Adwa Ramadhan pada bass, Qyra Borneo sebagai vokalis, Carvel Yoel Gevenic pada keyboard, Kayla Diandra sebagai gitaris, dan Christian Noel di belakang drum.
Masing-masing membawa pengalaman dan warna musikal sendiri.
Ada yang telah mengenal instrumen sejak kecil. Bahkan, salah seorang di antara mereka memulai perjalanan musik dengan organ dan biola sebelum kemudian menekuni drum sejak usia sangat muda.
Perbedaan pengalaman itulah yang kemudian menjadi warna Go Tunes.
Mereka memilih rock bukan tanpa alasan.
Bagi mereka, musik rock memiliki energi yang berbeda. Ada dentuman yang memacu adrenalin, ada kebebasan berekspresi, sekaligus semangat yang terasa kuat ketika dimainkan bersama-sama.
Energi itulah yang ingin mereka bawa kepada generasi muda.
Untuk menjaga kekompakan, Go Tunes rutin berlatih. Sekali latihan bisa berlangsung sekitar tiga jam. Bukan waktu yang singkat untuk lima orang dengan karakter berbeda.
Perbedaan pendapat tentu saja sesekali muncul.
Tetapi mereka belajar bahwa sebuah band tidak akan bertahan jika setiap orang hanya ingin didengar.
Komunikasi menjadi kuncinya.
Ketika ada persoalan, mereka mencoba membicarakannya dan kembali melihat tujuan yang lebih besar: kepentingan Go Tunes.
“Generasi Pertama” dan Pesan untuk Anak Muda
Go Tunes tidak ingin hanya dikenal lewat panggung kompetisi.
Mereka juga mulai serius membangun karya sendiri.
Salah satunya adalah lagu “Generasi Pertama”.
Lagu tersebut membawa pesan sederhana tetapi penting: jangan mudah menyerah pada keadaan dan teruslah mengejar apa yang dicita-citakan.
Bagi Go Tunes, musik bukan hanya bunyi yang dimainkan dari atas panggung. Musik juga bisa menjadi cara untuk menyampaikan energi positif.
Melalui “Generasi Pertama”, mereka ingin berbicara kepada anak-anak muda yang mungkin sedang berada di tengah perjalanan, sedang mengejar mimpi, atau bahkan sedang berhadapan dengan kegagalan.
Sebab, mereka pun mengalami hal yang sama.
Kompetisi mengajarkan mereka bahwa tidak setiap penampilan berakhir dengan kemenangan. Tetapi kekalahan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti.
Justru dari sanalah mereka belajar.
Bukan Sekadar Mengejar Popularitas
Ke depan, Go Tunes ingin terus tampil di berbagai festival musik sekaligus memperluas karya dengan menciptakan lagu-lagu baru.
Mereka masih menyimpan ambisi untuk masuk lebih jauh ke industri musik dan menghadirkan karya yang dapat diterima masyarakat.
“Kami ingin tetap masuk ke industri musik dan mengembangkan lagu-lagu komersial Indonesia, sekaligus ikut membawa musik rock Indonesia ke depan,” ujar Borneo.
Mimpi itu tentu tidak sederhana.
Industri musik terus berubah. Selera pendengar bergerak cepat. Platform digital membuat siapa pun bisa mempublikasikan karya, tetapi sekaligus menghadirkan persaingan yang semakin luas.
Namun, Go Tunes tampaknya memilih untuk tidak terlalu sibuk menghitung seberapa jauh mereka akan sampai.
Yang terpenting adalah terus berjalan.
Terus latihan.
Terus menciptakan lagu.
Dan terus menjaga lima orang di dalam satu irama.
Pada akhirnya, perjalanan Go Tunes bukan hanya cerita tentang sebuah band yang lahir pada 2019.
Ini adalah cerita tentang lima anak muda yang belajar bahwa musik tidak selalu tentang siapa yang paling hebat.
Kadang, musik justru tentang siapa yang tetap bertahan ketika perjalanan terasa sulit.
Tentang teman yang tetap berada di samping ketika hasil kompetisi tidak sesuai harapan.
Tentang perbedaan yang akhirnya berubah menjadi kekuatan.
Dan tentang keluarga yang ditemukan bukan karena hubungan darah, melainkan karena nada, mimpi, dan perjalanan yang sama.
“Kalau gagal, kita coba lagi. Kalau berhasil, kita tetap bersyukur. Yang penting tetap semangat dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan,” ujar mereka serempak.
Lima suara.
Satu keyakinan.
Dan satu perjalanan yang masih panjang.
Go Tunes belum selesai menulis ceritanya. Mereka baru memainkan bagian awal. (Phyd)
Redaksi
