Analisnews.co.id | Jakarta – Kompetisi grassroot di Jakarta mulai menarik perhatian pemain muda dari luar negeri. Empat pemain asing tercatat bergabung di kompetisi Liga Soeratin Jakarta U-15 2026.
Mereka berasal dari Denmark, Sudan, Inggris, dan Jepang. Keempatnya telah menjalani proses verifikasi dan screening untuk bisa tampil di kompetisi yang digelar “Kandang Ayam” Productions di Lapangan PSF MBAU Pancoran, Jakarta Selatan.
Kehadiran pemain asing ini menjadi warna tersendiri dalam kompetisi sepakbola usia muda Jakarta.
“Kandang Ayam” Productions memang sejak awal mengusung konsep kompetisi jangka panjang. Bukan sekadar turnamen yang selesai dalam hitungan satu atau dua pekan.
Gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan para jurnalis veteran yang pernah berkecimpung di sepakbola nasional. Mereka melihat kompetisi usia muda di Jakarta masih minim.
Pada 2025, mereka mengawali dengan Liga Jakarta U-17. Kompetisi berlangsung sekitar delapan setengah bulan, April-November, dengan 306 pertandingan dan melibatkan 18 klub amatir Jakarta dan sekitarnya.
Musim 2026, kompetisi diperluas. Selain Liga Jakarta U-17, digelar Liga Soeratin Jakarta U-15.
Masing-masing kompetisi diikuti 16 klub amatir, SSB, dan akademi. Total sekitar 500 pertandingan dijadwalkan berlangsung sepanjang musim 2026 hingga Desember mendatang.
Empat Pemain Asing
Pemain asing pertama adalah Ilias Isak. Pemain berusia 14 tahun itu memperkuat Tunas Indonesia dengan nomor punggung 77.
Ilias berdarah Maroko dan berkewarganegaraan Denmark. Dia berposisi sebagai gelandang atau playmaker.
Ilias sudah tampil sejak putaran pertama dan disebut selalu menjadi starter. Meski belum mencetak gol, kemampuan teknisnya mendapat perhatian dari pemandu bakat “Kandang Ayam”, Berti Tutuarima dan Patar Tambunan.
Ilias bahkan masuk dalam daftar 50 pemain terbaik pilihan kedua pemandu bakat tersebut.
Tiga pemain asing lainnya bergabung dengan PSF Academy.
Ada Ahmed Muhab Muhamad, warga negara Sudan, yang akan memperkuat PSF Academy U-16 dengan nomor punggung 27.
Pemain kelahiran 18 Maret 2011 itu memiliki tinggi 175 cm dan bermain sebagai gelandang serang. Ahmed saat ini bersekolah di Sudanese Africa Asian School, Tebet, Jakarta Selatan.
Dia mengidolakan Neymar.
Kemudian ada Nathanial Alexander Akbar Dykes, warga negara Inggris kelahiran London, 10 Agustus 2011.
Nathanial memiliki tinggi 170 cm dan akan bermain sebagai gelandang dengan nomor punggung 2.
Dia datang langsung bersama ayahnya, Peter Dykes, ke Lapangan PSF Pancoran pada Minggu (13/9/2026).
Peter mengatakan kesempatan mengikuti kompetisi menjadi salah satu alasan dirinya mendaftarkan Nathanial ke PSF Academy.
“Di Indonesia, tidak ada kompetisi, tapi saat ada informasi di PSF Pancoran bahwa ada wadah kompetisi, langsung bergegas anaknya didaftarkan,” kata Peter.
Nathanial merupakan siswa kelas 9 HighScope Cilandak. Dia juga mengikuti ekstrakurikuler sepakbola di sekolah.
Satu pemain lainnya adalah Shinichi Fujita. Pemain kelahiran Jepang, 10 April 2013, itu akan tampil pada putaran kedua Liga Soeratin Jakarta U-15.
Fujita saat ini bersekolah di Jakarta Japan School.
Ayahnya, Takao Fujita, mengatakan sepakbola sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak di Jepang.
“Di Jepang semua anak-anak sudah bermain sepakbola,” ujarnya.
Butuh Jam Terbang
Direktur Teknik PSF Academy dan Batavia FC, Ibnu Graham, menyebut keberadaan pemain asing di akademi bukan hal yang aneh.
Menurut mantan gelandang Persebaya Surabaya itu, sejumlah keluarga asing yang tinggal di Jakarta memang mencari tempat bagi anak-anak mereka untuk berlatih sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding.
Lokasi PSF yang strategis menjadi salah satu pertimbangannya.
Namun bagi Ibnu, yang paling penting adalah kompetisi. Pemain usia muda membutuhkan pertandingan sebanyak mungkin untuk berkembang.
“Kompetisi grassroot harus digalakkan sebanyak mungkin karena anak-anak butuh jam terbang, mengasah skill dan mental, serta waktunya dari sekolah ke olahraga. Mereka butuh kesenangan bertemu teman-teman baru, bukan main handphone,” kata Ibnu.
Konsep kompetisi panjang yang diterapkan “Kandang Ayam” pun mendapat warna baru dengan hadirnya pemain-pemain asing tersebut.
Jika pemain asing sudah menjadi pemandangan biasa di Liga 1 dan Liga 2, kini fenomena serupa mulai terlihat di level grassroot.
Bedanya, di level usia muda, bukan sekadar kemenangan yang diburu. Jam terbang, pembentukan karakter, kemampuan teknis, dan mental bertanding menjadi bagian utama dari proses pembinaan.
Jakarta pun mulai menjadi tempat bertemunya talenta muda dari berbagai negara dalam satu lapangan.
Dan dari kompetisi grassroot seperti inilah, “Kandang Ayam” berharap lahir pemain-pemain muda yang siap melangkah ke level sepakbola yang lebih tinggi.(**)Db
Redaksi
