Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

TEKAN RISIKO KARHUTLA, POLSEK KAPUAS TIMUR GENCARKAN SOSIALISASI DAN HIMBAUAN

Investor Tembus 30 Juta, Dhiraj Kelly Soroti Literasi Pasar Modal yang Baru 17 Persen

ANTISIPASI KARHUTLA, POLSEK KAPUAS TIMUR AKTIF BERIKAN HIMBAUAN KEPADA MASYARAKAT

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Hadir sebagai Teman di Kala Duka, Mahasiswa UI Kembangkan Buku bagi Anak Penyintas Bencana
Terkini

Hadir sebagai Teman di Kala Duka, Mahasiswa UI Kembangkan Buku bagi Anak Penyintas Bencana

hartonoBy hartono15 September 2026 2:11 PM065 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

 

Jakarta, Analisnews.co.id, Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah, fasilitas umum, dan lingkungan. Bagi anak yang kehilangan orang tua dalam bencana, luka yang ditinggalkan dapat jauh lebih panjang karena menyentuh sisi psikologis dan perkembangan sosial mereka.

Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki risiko bencana alam yang tinggi. Dalam situasi pascabencana, anak menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena kemampuan mereka dalam memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi masih berkembang.

Berangkat dari kondisi tersebut, lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengembangkan program psikoedukasi berbasis buku cerita bagi anak penyintas bencana yang kehilangan orang tua. Program yang diberi nama “Luruhkan Luka” tersebut menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial dan Humaniora (PKM-RSH).

Tim Luruhkan Luka terdiri atas Putu Sekarasri Upadani, Nathania Aurelia Nadine Rea, Prescyllia Maura Rezqi, dan Muthi’ah Silmi Hafizhah dari Fakultas Psikologi UI, serta Ghina Rameyza Salsabila dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Ketua Tim Luruhkan Luka, Putu Sekarasri Upadani atau Sekar, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan media yang dapat menemani anak ketika menjalani proses berduka setelah kehilangan orang yang mereka sayangi.

“Harapannya, buku yang kami rancang dapat membantu anak penyintas memahami dan mengekspresikan perasaan setelah kehilangan orang yang disayangi, sekaligus menemani mereka untuk perlahan tumbuh dan menjalani kehidupan pascabencana,” ujar Sekar.

Menurut tim, kedukaan anak tidak selalu terlihat. Respons terhadap kehilangan dapat berbeda-beda, dipengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan regulasi emosi, serta tingkat ketergantungan anak terhadap sosok pengasuh.

Karena itu, program Luruhkan Luka tidak dirancang untuk menghapus pengalaman duka. Sebaliknya, program tersebut berupaya membantu anak mengenali berbagai emosi yang muncul selama proses berduka dan memahami bahwa perasaan tersebut merupakan respons yang wajar terhadap kehilangan.

Pengembangan psikoedukasi kemudian dikemas dalam bentuk buku cerita bergambar agar pesan lebih mudah diterima anak. Buku tersebut diberi judul “Ibu, Apa Kabarmu?”

Berangkat dari Riset

Buku tersebut tidak dibuat hanya berdasarkan asumsi tentang apa yang disukai anak. Tim melakukan serangkaian penelitian dan konsultasi agar isi, bahasa, ilustrasi, serta alur cerita benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak penyintas bencana di Indonesia.

Dalam tahap awal, tim mewawancarai 11 pemangku kepentingan yang memiliki pengalaman dan pengetahuan terkait isu anak, bencana, serta kedukaan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, antara lain psikolog anak, penyintas bencana, tokoh keagamaan, lembaga sosial, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Perspektif keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat juga menjadi perhatian agar buku tidak hanya memiliki dasar psikologis, tetapi tetap sensitif terhadap konteks kehidupan anak dan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Pengembangan buku menggunakan kerangka Formative Method for Adapting Psychotherapy (FMAP) yang terdiri atas sejumlah tahapan. Tahap awal, Knowledge Generation, dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi aktual serta kebutuhan anak penyintas bencana.

Setelah data terkumpul, tim memasuki tahap Information Integration. Berbagai temuan kemudian diolah dan dikaitkan dengan Multidimensional Grief Theory (MGT) untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan perkembangan anak.

Hasilnya diterjemahkan ke dalam berbagai unsur buku, mulai dari alur cerita, karakter, penggunaan bahasa, ilustrasi, hingga warna.

Proses tersebut kemudian dilanjutkan melalui tahap Review and Revision. Prototipe buku dikonsultasikan kembali kepada sebagian pemangku kepentingan yang sebelumnya diwawancarai untuk memperoleh masukan mengenai isi maupun penyajiannya.

Tim mempertimbangkan aspek ecological validity dan cultural sensitivity agar buku tidak hanya layak secara akademis, tetapi juga relevan dengan lingkungan dan latar sosial budaya anak yang menjadi sasaran.

Diuji Langsung kepada Calon Pengguna

Setelah melalui proses pengembangan dan revisi, tim melakukan mini testing untuk mengetahui sejauh mana buku dapat diterima dan digunakan oleh sasaran.

Sebanyak 32 partisipan dilibatkan dalam tahap tersebut. Mereka terdiri atas delapan anak penyintas bencana yang kehilangan orang tua, delapan caregiver, delapan guru sekolah dasar, serta delapan relawan yang sering berinteraksi dengan anak.

Para partisipan diminta membaca buku yang telah dikembangkan. Selanjutnya, mereka mengikuti pengisian kuesioner dan Focus Group Discussion (FGD).

Pengujian tersebut diarahkan untuk melihat dua aspek utama, yakni feasibility atau kelayakan dan acceptability atau penerimaan terhadap buku psikoedukasi.

Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner, sedangkan pengalaman, pandangan, serta masukan partisipan digali melalui FGD. Kedua jenis data tersebut kemudian dianalisis dan diintegrasikan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kualitas dan penerimaan buku.

Tim juga berkesempatan melakukan mini testing secara langsung bersama penyintas bencana di Kabupaten Cianjur dengan dukungan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cianjur.

Kegiatan tersebut berlangsung di tiga lokasi, yakni Desa Sukamanah, Desa Cibulakan, dan Desa Sirnagalih.

Pertemuan langsung dengan anak, caregiver, guru, dan relawan menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana buku tersebut diterima di luar lingkungan akademis.

Bagi tim, proses panjang tersebut diperlukan agar buku tidak sekadar menarik secara visual, tetapi benar-benar dekat dengan pengalaman anak yang menghadapi kehilangan.

Menjadi Teman di Kala Duka

Melalui buku “Ibu, Apa Kabarmu?”, Luruhkan Luka ingin menghadirkan pendekatan yang lebih ramah bagi anak dalam menghadapi pengalaman kehilangan.

Buku tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan pendampingan psikologis maupun peran keluarga, guru, relawan, dan tenaga profesional. Kehadirannya lebih diarahkan sebagai media psikoedukasi yang dapat membantu anak mengenali perasaan dan memiliki ruang untuk memahami pengalaman dukanya.

Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam kampanye #TemanDiKalaDuka.

Bagi tim Luruhkan Luka, seorang anak yang kehilangan orang tua akibat bencana tidak hanya membutuhkan tempat tinggal dan pemulihan fisik. Mereka juga membutuhkan ruang untuk memahami apa yang terjadi dalam dirinya, termasuk ketika kesedihan datang dalam bentuk yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.

Melalui rangkaian riset, pengembangan, konsultasi, hingga pengujian langsung, tim berharap buku “Ibu, Apa Kabarmu?” dapat digunakan dan disebarluaskan sebagai salah satu media pendamping bagi anak penyintas bencana.

Lebih jauh, mereka berharap pendekatan tersebut dapat menjangkau lebih banyak anak di berbagai wilayah rawan bencana di Indonesia, sehingga proses pemulihan tidak hanya berbicara tentang membangun kembali rumah dan lingkungan, tetapi juga membantu anak perlahan membangun kembali kehidupannya setelah kehilangan.

Sebab, ada luka akibat bencana yang tidak terlihat. Dan terkadang, yang dibutuhkan seorang anak bukan jawaban atas semua kesedihannya, melainkan seseorang, atau sesuatu, yang bersedia menemaninya melewati masa duka.

 

Kelompok: Luruhkan Luka | Penulis: Putu Sekarasri Upadani (Fakultas Psikologi ‘24), Nathania Aurelia Nadine Rea (Fakultas Psikologi ‘24), Prescyllia Maura Rezqi (Fakultas Psikologi ‘24), Muthi’ah Silmi Hafizhah (Fakultas Psikologi ‘24), dan Ghina Rameyza Salsabila (Fakultas Kesehatan Masyarakat ‘24).

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePolsek Kapuas Timur Bersama TNI dan Masyarakat Cek Titik Hotspot di Desa Anjir Mambulau Timur
Next Article BMW Motorrad Days Bali 2026 Hadirkan Semangat Berkendara Global di Pulau Dewata
hartono

Related Posts

TEKAN RISIKO KARHUTLA, POLSEK KAPUAS TIMUR GENCARKAN SOSIALISASI DAN HIMBAUAN

15 September 2026 3:20 PM

Investor Tembus 30 Juta, Dhiraj Kelly Soroti Literasi Pasar Modal yang Baru 17 Persen

15 September 2026 3:17 PM

ANTISIPASI KARHUTLA, POLSEK KAPUAS TIMUR AKTIF BERIKAN HIMBAUAN KEPADA MASYARAKAT

15 September 2026 3:15 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.