Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

‎Perkuat Mekanisasi dan Percepat Pemulihan Pertanian, Pemkab Tapanuli Utara Salurkan 527 Unit Alsintan

Prof. Kartini Bongkar Darurat Sampah Bali: 3.463 Ton Sehari dan 900 Ton Pupuk Terbuang

GIAT PATROLI MALAM POLSEK MANTANGAI CIPTAKAN RASA AMAN

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Prof. Kartini Bongkar Darurat Sampah Bali: 3.463 Ton Sehari dan 900 Ton Pupuk Terbuang
Terkini

Prof. Kartini Bongkar Darurat Sampah Bali: 3.463 Ton Sehari dan 900 Ton Pupuk Terbuang

ranuBy ranu25 September 2026 6:47 PM0115 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Prof Kartini Bongkar Darurat Sampah Bali: 3.463 Ton Sehari dan 900 Ton Pupuk Terbuang

 

Analisnews.co.id — DENPASAR | Guru Besar Pertanian Organik Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., menawarkan peta jalan pengelolaan sampah terpadu berbasis sumber untuk mengatasi persoalan darurat sampah di Bali.

Gagasan tersebut dipaparkan
Guru Besar Pertanian Organik Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., dalam Dialog Kenegaraan bersama Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, DR.(HC) Sultan Baktiar Najamudin, di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Jumat (25/9/2026).

Dialog mengusung tema “Bali Pilah Sampah Indonesia Berbenah” dengan pembahasan pengelolaan sampah di Pulau Bali serta relevansi RUU Daerah Kepulauan melalui cara pandang satu kesatuan ruang pembangunan dengan pendekatan gugus pulau.

Prof. Kartini memaparkan konsep tata kelola terpadu berbasis ekosistem masyarakat daerah.

Konsep yang ditawarkan, yakni Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Sumber, dengan desa dan TPS3R sebagai pusat pengelolaan sampah.

Menurutnya, pengelolaan dari sumber tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga dapat bermuara pada ketahanan pangan dan kemandirian energi.

3.463 Ton Sampah per Hari

Prof. Kartini mengungkapkan, Bali saat ini menghasilkan sampah tercampur mencapai 3.463 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 65 persen hingga 90 persen merupakan sampah organik, sedangkan 10 persen hingga 35 persen berupa sampah anorganik.

Sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga sebesar 60 persen, perniagaan 11 persen dan pasar 7 persen.

“Bali saat ini menghasilkan sampah tercampur 3.463 ton perhari, sampah organik 65% sama dengan 2.250,95 ton perhari. Pupuk organik perkompos 40% sama dengan 900,4 ton perhari, dan itu terbuang,” tegasnya.

Ia menyebut kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena lahan sawah di Bali mengalami krisis bahan organik.

Menurutnya, kandungan bahan organik yang ideal sekitar 5 persen, namun saat ini hanya sekitar 1 persen.

Khusus Denpasar dan Badung, produksi sampah disebut mencapai sekitar 1.400 ton per hari dengan potensi pupuk sekitar 364 ton per hari yang belum dimanfaatkan.

Prof. Kartini menilai pengolahan sampah organik harus dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya.

Dengan demikian, sampah yang dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA) hanya berupa residu sekitar 5 hingga 10 persen.

“Jika sampah organik bisa diselesaikan di sumber (Desa), yang diangkut ke TPA hanya residu 5%-10%. Maka dengan demikian tidak terjadi pemborosan energi, tidak macet, estetis, dan pencemaran lindi, furan, dioksin tidak terjadi, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” ujarnya.

Dorong Desa dan TPS3R Jadi Pusat Pengelolaan

Prof. Kartini juga menyoroti sejumlah persoalan yang ditemukan dalam kajian TPS3R di Denpasar dan Badung pada 2025.

Empat persoalan utama tersebut, yakni sampah belum terpilah dari sumber, kapasitas TPS3R yang mengalami kelebihan beban, operasional dan teknis mesin yang tidak sesuai sehingga mengalami kerusakan serta persoalan bau dan polusi.
Selain itu, terdapat persoalan keuangan dan sumber daya manusia yang masih bergantung pada subsidi.

Oleh karena itu, Desa-TPS3R dinilai dapat menjadi pusat pengelolaan apabila didukung sejumlah prasyarat.

Pertama, adanya kerja sama tiga unsur melalui kepala desa/lurah, bendesa adat dan pekaseh/kelian subak dengan mengedepankan komunikasi, koordinasi dan kolaborasi.

Kedua, pemilahan sampah dari sumber disertai penerapan Perdes serta awig-awig/pararem dengan sistem penghargaan dan sanksi.
Ketiga, tersedianya alat pencacah organik berkualitas.

Keempat, adanya offtaker untuk menyerap produk TPS3R. Kelima, diperlukan mesin pengolah plastik bernilai rendah seperti styrofoam dan kantong plastik.

Untuk sampah plastik bernilai rendah, Prof. Kartini memaparkan teknologi pirolisis yang dapat mengubah plastik menjadi uap hidrokarbon dan selanjutnya menjadi diesel fuel atau PETASOL sebagai alternatif bahan bakar.

Namun, menurutnya, teknologi tersebut harus melalui uji laboratorium, uji emisi dan uji toksisitas sebelum diterapkan.

Sampah Jadi Sumber Ketahanan Pangan

Pengelolaan sampah berbasis sumber juga dinilai dapat mendukung ketahanan pangan.

Sampah organik basah dapat diolah menjadi maggot BSF untuk pakan, sedangkan pengelolaan skala rumah tangga dapat memanfaatkan teba modern maupun biopori.
Sementara sampah organik kering dapat diolah melalui vermicomposting menggunakan cacing tanah.

Konsep tersebut kemudian diintegrasikan dengan pertanian dan pariwisata melalui konsep SaBiCalTaLA, yakni sapi, biogas, cacing, ikan, tanaman, lebah dan agrowisata.

Prof. Kartini juga memaparkan studi kasus Kinar Village di Tabanan seluas 23 hektare yang menerapkan pertanian organik, energi surya, zero waste system serta edukasi lingkungan dari hulu hingga hilir.

Contoh lainnya berada di Desa Megati melalui budidaya serai wangi dan padi organik dengan agroinput yang seluruhnya berbasis bio. Bahkan, cacing tanah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, salah satunya “Jus Cacing Tanah”.

Sampah Dapur Jadi Gas Rumah Tangga

Inovasi lainnya yang ditawarkan adalah pemanfaatan sampah dapur sebagai sumber energi rumah tangga.
Dengan menggunakan kantong biodigester, sampah dapur dapat diolah menjadi biogas yang kemudian dimanfaatkan untuk memasak menggunakan kompor khusus biogas.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengelolaan sampah dengan penghematan energi sekaligus ekonomi sirkular.

Dalam paparannya, Prof. Kartini menegaskan TPS3R tidak semata-mata menghadapi persoalan mesin rusak atau kekurangan armada pengangkut.

Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar mencakup komunikasi, koordinasi, kolaborasi dan kepercayaan.

Ia menyebut TPS3R tetap menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah Bali dengan dukungan ekosistem berupa anggaran, teknologi, partisipasi publik, gotong royong, pembangunan karakter dan kesadaran masyarakat.

Selain itu, sekitar 65 persen sampah organik perlu dikelola dari hulu melalui desa mandiri pengelolaan sampah untuk menghemat energi.

Konsep zero waste dan circular economy juga diarahkan agar limbah berubah menjadi sumber daya produktif bagi pertanian dan pariwisata, termasuk menghasilkan energi terbarukan berupa biogas.

Pengolahan sampah basah menjadi maggot, cacing tanah dan lele serta sampah kering menjadi kompos dan vermikompos diharapkan membentuk siklus nutrisi tertutup.

Pada akhirnya, Prof. Kartini mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah, dari sesuatu yang menjadi beban lingkungan menjadi sumber daya dan peluang ekonomi.

Diakhir paparannya, Prof. Kartini menyampaikan pesan:
“Sampahmu Tanggung Jawabmu Nak, Sarengin Ngempu Bali! Matur Suksma”.(ranu)

Prof. Kartini, sampah Bali, TPS3R, pengelolaan sampah, pertanian organik

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleGIAT PATROLI MALAM POLSEK MANTANGAI CIPTAKAN RASA AMAN
Next Article ‎Perkuat Mekanisasi dan Percepat Pemulihan Pertanian, Pemkab Tapanuli Utara Salurkan 527 Unit Alsintan
ranu

Related Posts

‎Perkuat Mekanisasi dan Percepat Pemulihan Pertanian, Pemkab Tapanuli Utara Salurkan 527 Unit Alsintan

25 September 2026 7:22 PM

GIAT PATROLI MALAM POLSEK MANTANGAI CIPTAKAN RASA AMAN

25 September 2026 6:30 PM

CEGAH KARHUTLA MELUAS, PERKUAT KOORDINASI POSLAP TERPADU KARHUTLA KECAMATAN MANTANGAI BERSAMA LINTAS SEKTOR

25 September 2026 6:28 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.