Analisnews | SEOUL – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menghadiri Festival Indonesia 2026 di Yeouido Hangang Park, Seoul, Korea Selatan, Minggu (4/10/2026).
Festival yang mempertemukan masyarakat Indonesia dan Korea Selatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat diplomasi budaya sekaligus membuka peluang kolaborasi antara Jakarta dan Seoul di bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, dan perfilman.
Kehadiran Rano merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ke Korea Selatan atas undangan Pemerintah Kota Seoul.
Dalam kunjungan tersebut, Jakarta dan Seoul menjajaki sejumlah peluang kerja sama, termasuk pertukaran pengalaman dalam mengembangkan kota melalui kebudayaan, kreativitas, dan inovasi.
Rano hadir bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea Cecep Herawan beserta istri, serta ribuan masyarakat Indonesia yang tinggal dan bekerja di Korea Selatan.
Mengenakan batik lengan pendek bernuansa Betawi, Rano menyapa masyarakat Indonesia yang memadati kawasan Yeouido Hangang Park di tepi Sungai Han.
Jakarta juga diperkenalkan melalui pertunjukan kesenian serta paparan khusus yang disampaikan langsung oleh Rano.
“Festival Indonesia bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah ruang perjumpaan. Melalui seni, kuliner, kreativitas, dan budaya, masyarakat Indonesia dan Korea Selatan bisa semakin saling mengenal, berbagi inspirasi, dan membangun persahabatan yang lebih kuat,” kata Rano.
Menurut Rano, hubungan antarmasyarakat atau people-to-people merupakan bagian penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Korea Selatan.
Di sisi lain, Indonesia juga dapat menunjukkan identitas sebagai bangsa yang menjaga warisan budaya, tetapi tetap terbuka terhadap kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.
“Jakarta dan Seoul memiliki banyak ruang untuk tumbuh bersama. Hubungan keduanya harus kita isi dengan kerja sama yang konkret. Mulai dari kebudayaan, industri kreatif, perfilman, pengembangan talenta muda, sampai pertukaran pengalaman dalam membangun kota yang mampu berbicara di tingkat global,” ujarnya.
Belajar dari Budaya Korea
Rano juga menyoroti keberhasilan Korea Selatan dalam mengembangkan kebudayaan hingga mampu menjangkau masyarakat dunia.
Menurut dia, film, musik, drama, kuliner, fesyen, dan berbagai produk budaya Korea menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus instrumen diplomasi.
“Kita melihat bagaimana Korea Selatan mampu membawa kebudayaannya menembus batas-batas negara. Yang menarik untuk kita pelajari bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi strategi di belakangnya. Bagaimana budaya diberi ruang, kreator diperkuat, industri dibangun, dan semuanya kemudian diperkenalkan kepada dunia,” tutur Rano.
Dia menilai Jakarta memiliki modal budaya yang tidak kalah besar.
Sebagai kota yang sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis, tradisi, dan kebudayaan, Jakarta memiliki kekayaan yang dapat menjadi bagian dari identitasnya sebagai kota global.
Karena itu, pembangunan Jakarta sebagai kota global, kata Rano, tidak harus membuat Ibu Kota meninggalkan akar budayanya.
Sebaliknya, kekayaan budaya dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus kekuatan untuk memperkenalkan Jakarta kepada dunia.
Perkenalkan Jakarta Film Commission
Rangkaian kunjungan Rano di Korea Selatan kemudian berlanjut ke Busan untuk menghadiri Busan International Film Festival.
Kehadiran Jakarta dalam salah satu forum perfilman internasional tersebut diarahkan untuk memperkenalkan Jakarta Film Commission kepada jejaring industri film dunia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta memperkuat ekosistem perfilman sekaligus meningkatkan posisi Jakarta sebagai salah satu pusat produksi dan pengembangan industri audiovisual.
Rano menilai forum di Busan dapat menjadi kesempatan untuk membangun jejaring dengan sineas, produser, investor, festival, serta pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya membuka peluang bagi Jakarta, tetapi juga memberikan dampak lebih luas terhadap perkembangan industri perfilman Indonesia.
Di tengah perjalanan menuju usia 500 tahun, Rano mengatakan Jakarta perlu menjadikan sejarah panjang kotanya sebagai sumber kekuatan untuk melangkah ke masa depan.
Perayaan lima abad Jakarta, menurut dia, bukan sekadar penanda usia sebuah kota. Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Jakarta sebagai kota yang terus berubah, semakin terbuka dan global, namun tetap memiliki sejarah serta akar kebudayaan yang kuat.
Karena itu, Rano turut mengundang masyarakat Korea Selatan untuk datang ke Jakarta dan bersama-sama merayakan perjalanan lima abad Ibu Kota, sekaligus mengenal lebih dekat warisan budaya dan kreativitas masyarakatnya.
“Jakarta adalah kota yang terus tumbuh. Kita ingin dunia melihat Jakarta bukan hanya sebagai kota dengan sejarah yang panjang, tetapi juga sebagai kota yang punya masa depan, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkolaborasi,” pungkasnya.
Red/Phyd
