Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Melalui Shalat Jumat Keliling, Kapolda Banten Pererat Silaturahmi dan Ajak Warga Jaga Kamtibmas

Shalat Jumat Keliling di Masjid Jami Al Mutoharo, Wakapolda Banten Ajak Masyarakat Perkuat Ukhuwah dan Jaga Kamtibmas

Laksanakan Giat Patroli Rutin Pada Malam Hari Personil Polsek Kapuas Murung Di Objek Vital Dan Tempat Berkumpulnya Masyarakat 

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Panen Perdana Bawang Putih Lokal di Tabanan: Bali Bidik Kemandirian Pangan
Terkini

Panen Perdana Bawang Putih Lokal di Tabanan: Bali Bidik Kemandirian Pangan

ranuBy ranu23 Oktober 2026 5:57 PM0124 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Panen Perdana Bawang Putih Lokal di Tabanan: Bali Bidik Kemandirian Pangan

 

Analisnews.co.id-TABANAN | Kebangkitan bawang putih lokal Bali mulai menunjukkan hasil. Menariknya, Fakultas Pertanian Universitas Udayana bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menggelar panen perdana bawang putih varietas lokal Kayu dan Cicih di Subak Aya, Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Jumat (23/10/2026).

Panen perdana di lereng Gunung Batukaru ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kedaulatan pangan Bali, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bawang putih impor.

Pengembangan varietas lokal diharapkan mampu mendorong Bali memiliki sumber pasokan bawang putih yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Ketua Tim Peneliti Bawang Putih Lokal Bali, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., mengatakan dua varietas yang dikembangkan, yakni Kayu dan Cicih, merupakan varietas legendaris Bali yang telah dibudidayakan sejak 1970-an.

Guru Besar Pertanian Organik Universitas Udayana tersebut menjelaskan, pengembangan bawang putih lokal merupakan bagian dari program penelitian strategis Adaptasi dan Pengembangan Bawang Putih Lokal. Program ini diarahkan untuk melestarikan varietas lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat daerah maupun nasional.

Varietas Kayu memiliki keunggulan dari sisi kualitas, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi pada ketinggian 450-550 meter di atas permukaan laut (mdpl), termasuk di kawasan Penebel dan Songan. Secara fisik, varietas ini memiliki bentuk bulat pipih dengan semburat warna ungu dan telah resmi dilepas pada 2022.

Sementara itu, varietas Cicih masih menjalani pengembangan lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensinya.

Menurut Prof. Kartini, hasil pengembangan varietas Kayu dan Cicih di Subak Aya mampu mencapai 8-10 ton per hektare( saat panen). Capaian tersebut menunjukkan potensi bawang putih lokal untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan Bali.

Adapun daerah Provinsi Bali pada tahun 2026 ini telah mengembangkan 7 hektar, terletak didua Kabupaten Tabanan dan Buleleng, ujar Prof.Kartini

“Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, petani harus lebih kreatif dan inovatif dalam menggarap lahan. Bawang putih lokal adalah kekuatan pangan kita,” tegas Prof. Kartini.

Selain varietas lokal Bali, tim peneliti juga mengembangkan varietas Tawangmangu dari Karanganyar, Jawa Tengah, serta sejumlah varietas lokal dari Lombok, termasuk Lumbu Putih dan Lumbu Hijau.

Prof. Kartini menjelaskan, penentuan waktu tanam dan pengelolaan lahan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas. Berdasarkan kalender Bali, Sasih Karo atau bulan kedua dalam penanggalan Bali dinilai sebagai waktu yang ideal untuk mulai menanam varietas Kayu dan Cicih. Pada periode tersebut, intensitas hujan mulai berkurang, sementara ketersediaan air dan kondisi cuaca dinilai mendukung pertumbuhan tanaman.

Dari sisi pemupukan, bawang putih membutuhkan perhatian khusus karena memiliki sistem perakaran yang relatif pendek. Untuk satu hektare lahan, kebutuhan pupuk organik disebut mencapai 15 ton. Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan mikroorganisme hayati juga dianjurkan untuk membantu proses dekomposisi bahan organik, mengikat nitrogen, dan melarutkan fosfat agar lebih mudah diserap tanaman.

Disamping itu, potensi bawang putih lokal juga tidak terbatas sebagai bumbu dapur. Komoditas ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai ramuan tradisional. Pengolahan melalui fermentasi bahkan menghasilkan black garlic atau bawang hitam, yang memiliki karakteristik senyawa bioaktif berbeda dari bawang putih segar.

Bali Bidik Pengembangan 500 Hektare

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, yang hadir mewakili Gubernur Bali Wayan Koster, menegaskan bawang putih memiliki posisi penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menurut Sunada, dari 10 komoditas bahan pokok yang menjadi perhatian pemerintah, bawang putih merupakan komoditas yang pasokannya masih mengalami defisit di Bali.

Hingga saat ini, pengembangan bawang putih di Bali telah mencapai sekitar 100 hektare berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, 93 hektare dikembangkan melalui dukungan anggaran pemerintah pusat, sedangkan pengembangan yang menggunakan anggaran Bali tercatat sekitar 7 hektare.

Pemerintah menargetkan pengembangan bawang putih varietas lokal hingga 500 hektare. Untuk merealisasikan target tersebut, diperlukan kesiapan calon petani dan calon lokasi (CPCL), disertai pemetaan lahan yang sesuai dengan karakteristik varietas Kayu dan Cicih.

“Untuk itu dibutuhkan pemetaan potensi, maupun pemetaan lahan yang sesuai dan cocok untuk pengembangan varietas bawang putih Kayu maupun Cicih,” kata Sunada.

Sunada menyebut empat kabupaten yang dinilai ideal untuk pengembangan bawang putih lokal Bali, yakni Tabanan, Buleleng, Bangli, dan Karangasem.

Sunada berharap pengembangan tahap berikutnya dapat memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produksi bawang putih lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sunada mengungkapkan, kebutuhan bawang putih di Bali diperkirakan mencapai 14.000 ton per tahun untuk memenuhi konsumsi rumah tangga serta kebutuhan sektor hotel dan restoran.

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Bali untuk memperkuat produksi dalam daerah. Dengan dukungan riset, pemetaan lahan, pendampingan petani, dan pengembangan varietas lokal, Bali diharapkan mampu meningkatkan kontribusi produksi bawang putihnya dalam memenuhi kebutuhan pasar.

Panen perdana di lereng Gunung Batukaru menjadi langkah awal untuk mendorong bawang putih lokal kembali berkembang. Dari Tabanan, upaya membangun kemandirian pangan Bali kini diarahkan agar berkontribusi lebih luas terhadap ketahanan pangan Indonesia.

Pewarta: Ranu Sugito
Editor    : Putu Wiguna

 

Bawang Putih Lokal Bali, Wayan Sunada, Ni Luh Kartini, Ketahanan Pangan Bali, Pertanian Tabanan

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleSatnarkoba Polres Kotim Berhasil Mengamankan Pengedar Sabu di Jln Ir. Haji Juanda Sampit
Next Article Cegah Karhutla, Personel Polsek Kapuas Murung Sosialisasi Maklumat Kapolda Kalteng
ranu

Related Posts

Laksanakan Giat Patroli Rutin Pada Malam Hari Personil Polsek Kapuas Murung Di Objek Vital Dan Tempat Berkumpulnya Masyarakat 

23 Oktober 2026 6:43 PM

Petugas Piket Jaga Polsek Kapuas Murung, Laksanakan Giat Siaga Mako Cek Barang Inventaris Dinas Dan Ruang Tahanan

23 Oktober 2026 6:41 PM

Bentang Sepanduk Larangan Membakar Hutan Dan Lahan Personil Polsek Kapuas Murung Melalui Giat Sosialisasi Karhutla

23 Oktober 2026 6:38 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.