Pensiunan TNI-AD Sulap Sawah Jadi Kebun Melon, Buktikan Petani Tabanan Bisa Naik Kelas
Analisnews.co.id — TABANAN | Dari derap sepatu lars, kini ke pematang sawah yang basah dan penuh lumpur. Itulah kisah Ketut Brata Yasa.

Jika sebelumnya ia mengabdi menjaga kedaulatan negara sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, perannya kini beralih menjadi penjaga kedaulatan pangan.
Panen perdana buah melon miliknya terletak di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, menjadi bukti ketekunanya. Lahan yang dulu terbengkalai dan ditumbuhi ilalang, kini ia sulap menjadi planet baru pertanian di Tabanan.
Brata Yasa, pensiunan TNI-AD itu, membuktikan masa pensiun bukanlah akhir dari sebuah pengabdian. Justru dari sinilah ia mengawali babak baru sebagai petani modern.
Di tangannya, buah melon tumbuh subur, besar, dan manis. Hamparan kebun melon miliknya kini menjadi pusat perhatian petani lain di Banjar Anyar.
Lahan seluas 50 are miliknya, baru 35 are yang tergarap dan dikembangkan untuk budidaya melon. Menariknya, pada panen tahap pertama yang ia panen mampu menghasilkan 6 ton buah melon segar dengan harga jual saat ini mencapai Rp10.000 per kilogram.
Brata Yasa menegaskan, hasil panen perdana tersebut mampu mendongkrak nilai ekonomi yang signifikan bagi keluarganya.
“Panen pertama tiga hari yang lalu, melon yang berhasil kami petik 6 ton lebih. Untuk panen kedua, semoga bisa mencapai 3 sampai 4 ton. Sedangkan untuk harga pada musim panas ini bagus, mampu menyentuh angka sepuluh ribu per kilo,” ujarnya.
Ia juga mengajak anggota Forum Bela Negara(FBN) RI Tabanan, untuk tidak takut dan malas terjun bertani.
“Jangan takut dan malas untuk menjadi petani. Jika niat kita sungguh-sungguh dan bekerja keras, saya meyakini keberhasilan akan kita peroleh,” katanya.
“Inilah planet baru petani, kita harus berani keluar dari kebiasaan takut panas, takut terkena lumpur. Ia menyebut melon mampu mendongkrak ekonomi jauh lebih tinggi dari tanaman konvensional lainnya.
Kisah Brata Yasa menjadi inspirasi tentang bagaimana disiplin, kerja keras, dan jiwa pantang menyerah yang ia tempa selama puluhan tahun di TNI, kemudian diterapkan sepenuhnya di dunia yang ditekuni pertanian.
Berata Yasa berharap pemerintah agar lebih memperhatikan para petani, yang turut berpartisipasi dalam membangun ketahanan pangan. Dengan hamparan lahan seluas 8-10 hektare, yang dikelola kelompok tani, Ketut Berata menyinggung kehadiran Pemerintah.
“Tenaga sudah tidak lagi kekar untuk mencangkul, mohon pemerintah bisa memberikan dukungan berupa traktor untuk mempercepat dalam proses pengolahan lahan sawah,” harapnya.
Dari Banjar Anyar, ia tidak hanya memanen melon. Ia memanen harapan baru, harapan bahwa petani Tabanan bisa naik kelas, lebih sejahtera, dan lebih berkembang.
Sebuah transformasi dari seragam loreng menuju petani tangguh, keren dan modern.Tetap mengabdi, hanya ladangnya yang berbeda.(ranu)
Ketut Brata Yasa, Petani Tangguh, Kerja Keras,Melon Dongkrak Ekonomi
