Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

GIAT PATROLI HARKAMTIBMAS MALAM

KEGIATAN SIAGA MAKO POLSEK KAPUAS HILIR

TINGKATKAN KEWASPADAAN, POLSEK KAPUAS HULU PERKETAT PENGAMANAN MAKO MALAM HARI

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Internasional»Pidato di Assisi: Gagasan Diplomasi Agama Menag Didukung Pemimpin Dunia
Internasional

Pidato di Assisi: Gagasan Diplomasi Agama Menag Didukung Pemimpin Dunia

yadiBy yadi27 Oktober 2026 8:50 PM053 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | Assisi – Gagasan Menteri Agama Republik Indonesia yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, mengenai pentingnya mengedepankan aksi kemanusiaan nyata mendapat dukungan kuat dari para pemimpin agama dunia. Gagasan ini disamapaikan Menag dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio di Assisi, Italia.

Berbicara dalam sidang pembukaan tingkat tinggi bertajuk “Opening Assembly – Unarmed and Disarming Peace,” Menag mendesak perubahan paradigma dalam diplomasi global agar hubungan antarumat beragama diwujudkan melalui langkah-langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat. Gagasan ini disambut positif dan mendapat penguatan dari berbagai tokoh keagamaan internasional yang hadir.

Melampaui “Perdamaian di Atas Kertas”

Dalam forum yang dihadiri ratusan delegasi dari berbagai negara, Menag menyoroti keterbatasan KTT lintas agama tradisional yang kerap terjebak pada gestur simbolis. Menurutnya, keharmonisan global membutuhkan langkah taktis yang langsung berdampak bagi masyarakat.

“Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas,” tegas Menag Nasaruddin Umar di Assisi, Selasa (27/10/2026).

“Perdamaian sejati menuntut dialog untuk secara aktif ditransformasikan menjadi aksi nyata dan gerakan pelestarian lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput,” sambungnya.

Agama Sebagai Instrumen Diplomasi Strategis

Menag mendesak para pemimpin dunia untuk mulai mengadopsi “bahasa agama” sebagai mekanisme inti dalam hubungan internasional. Menurutnya, kerangka spiritual mampu mengurangi permusuhan psikologis yang mengakar dalam, di saat manuver politik dan militer konvensional sering kali menemui jalan buntu.

Sebagai bukti konkret, Menag memaparkan model pluralisme dan harmoni kehidupan (living harmony) Indonesia sebagai studi kasus bagaimana keberagaman dapat dikelola untuk menjaga stabilitas dan kerukunan sehari-hari. Penguatan gagasan ini semakin menegaskan peran aktif Indonesia dalam mendorong moderasi beragama (Wasaṭiyyah Islam) dan harmoni lintas batas di tingkat global.

Dukungan Pemimpin Agama Dunia

Gagasan diplomasi praktis yang disampaikan Menag mendapat sambutan dan penguatan dari para pemimpin agama dunia yang hadir. Kardinal Matteo Zuppi selaku Ketua Konferensi Waligereja Italia mendukung pandangan mengenai urgensi menghilangkan pola pikir yang kaku, agresif, atau penuh konflik. Kardinal Matteo Zuppi juga sepakat bahwa institusi keagamaan harus aktif melucuti permusuhan melalui suara lintas batas demi martabat manusia.

Dukungan serupa disampaikan Rabi Kepala Haïm Korsia selaku Rabi Agung Prancis yang menekankan pentingnya bergerak melampaui seremonial. Rabi Kepala Haïm Korsia menegaskan bahwa kerja sama tokoh agama dalam proyek kemanusiaan lokal menciptakan fondasi perdamaian yang jauh lebih kokoh ketimbang sekadar perjanjian politik.

Delegasi Kristen Ortodoks Timur dan Ekumenis juga turut menyambut model pluralisme Indonesia. Dia menunjuk Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani Menag bersama Paus Fransiskus di Jakarta sebagai cetak biru bahwa perbedaan teologis yang besar tidak harus berujung pada konflik.

Sidang pembukaan ini ditutup dengan komitmen bersama seluruh panelis untuk melanjutkan “Semangat Assisi 1986” dari forum dialog menjadi instrumen praktis diplomasi internasional yang berfokus pada aksi kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan perdamaian dunia secara berkelanjutan.

_Biro Humas dan Komunikasi Publik_

Red/Py

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePOLSEK SELAT GENCARKAN SOSIALISASI PERINGATAN PENCEGAHAN KARHUTLA DI WILAYAH HUKUM POLSEK SELAT.
Next Article Konser Musikalisasi Puisi “Mengolah Daya Hidup” Ramaikan Peringatan 91 Tahun W.S. Rendra di Solo
yadi

Related Posts

POLSEK KAPUAS TENGAH GELAR PROGRAM MINGGU KASIH DUDUK BERSAMA WARGA

25 Oktober 2026 3:37 PM

CEGAH KRIMINALITAS DI WILAYAH POLSEK KAPUAS TENGAH, UNIT RESKRIM POLSEK KAPUAS TENGAH GELAR PATROLI PAGAR

25 Oktober 2026 3:24 PM

POLSEK KAPUAS TENGAH LAKSANAKAN PATROLI DIMTAQ, CEGAH KENAKALAN REMAJA DAN JAGA KONDUSIFITAS KAMTIBMAS

25 Oktober 2026 3:18 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.