Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

POLSEK KAPUAS TIMUR GELAR PATROLI HARKAMTIBMAS, WUJUDKAN RASA AMAN DAN NYAMAN BAGI MASYARAKAT‎

Gadai atau Jual Aset? Mana yang Lebih Tepat Saat Membutuhkan Dana?

‎Kapolres Serang Pimpin Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-98 Tahun 2026 di Mapolres Serang

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»TV & Drama»Jakarta Film Week 2026 Resmi Berakhir, Filipiñana dan Nobody Loves Kay Sabet Penghargaan
TV & Drama

Jakarta Film Week 2026 Resmi Berakhir, Filipiñana dan Nobody Loves Kay Sabet Penghargaan

yadiBy yadi28 Oktober 2026 9:27 AM065 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id  | JAKARTA — Festival film Jakarta Film Week 2026 resmi berakhir di CGV Grand Indonesia, Minggu (25/10) malam. Film Filipiñana karya Rafael Manuel meraih Global Feature Award, sementara Nobody Loves Kay garapan Bernardus Raka membawa pulang Direction Award, penghargaan tertinggi untuk kategori film Indonesia.

Penutupan festival yang berlangsung selama lima hari, sejak 21 Oktober 2026, ditandai dengan pemutaran Laut Bercerita, film adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang mengangkat kisah aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru, penghilangan paksa, serta perjuangan keluarga mencari jawaban atas kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Jakarta Film Week 2026 menghadirkan lebih dari 5.000 penonton, sineas, dan pelaku industri perfilman dari berbagai negara. Festival ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga membuka peluang pengembangan proyek dan kolaborasi internasional bagi perfilman Indonesia.

Filipiñana Unggul, Nobody Loves Kay Wakili Film Indonesia

Salah satu sorotan utama malam penghargaan adalah kemenangan Filipiñana, film produksi Filipina, Inggris, Singapura, Prancis, dan Belanda. Karya Rafael Manuel tersebut dinilai kuat dalam menggambarkan persinggungan gender dan kelas di tengah struktur sosial yang dibentuk oleh privilese dan warisan kolonial.

Juri mengapresiasi pendekatan visual film tersebut yang dinilai mampu mengubah gambaran keruntuhan tatanan sosial menjadi pengalaman sinematik yang puitis.

Sementara itu, Nobody Loves Kay karya Bernardus Raka meraih Direction Award. Film ini mengangkat hubungan antarmanusia dan proses pendewasaan dalam dunia esports.

Penghargaan lainnya diberikan kepada Bleat!karya Ananth Subramaniam yang memenangkan Global Short Award, serta What We Leave Behind karya Jean-Sébastien Hamel dan Alexandra Myotte sebagai penerima Global Animation Award.

Adapun Jakarta Film Fund Award diraih The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan, yang diapresiasi karena menggambarkan kehidupan Jakarta masa kini dengan pendekatan yang peka dan jujur.

JFWNET Buka Peluang Kolaborasi Internasional

Selain kompetisi film, Jakarta Film Week 2026 mengumumkan penerima JFWNET—Industry Program Awards. Program ini memberikan dukungan bagi pengembangan cerita, produksi, pascaproduksi, hingga akses menuju jaringan industri film internasional.

Dalam kategori Producers Lab MTN Development Grant, dukungan diberikan kepada Utari Hanif Assyuri melalui proyek SALTSTORM!.

Tiga proyek, yakni A Burnt Engine Who Can’t See the Light karya Jonathan Gradiyan, Rollinghead karya Panji Respati, dan Irama Rama karya Dendy Ariza Putra, terpilih mengikuti Platform Busan 2027.

Sementara itu, Pitching Forum MTN Development Grant diberikan kepada Gokill, yang disutradarai Amanda Iswan dan diproduseri James Erlangga.

Proyek My Tears, A Sea for Jakarta to Sink karya Andrea Nirmala Widjajanto dan produser Nirartha Bas Diwangkara memperoleh dua penghargaan sekaligus, yakni Jakarta Film Commission Development Grant dan QCinema Special Prize.

Dukungan internasional lainnya berupa HKIFF Industry Award diberikan kepada Holy Mother, karya sutradara Sinung Winahyoko dan produser Fadhila Ristianty. Bunga Ineza juga terpilih mengikuti EFM Toolbox Berlinale 2027.

Untuk kebutuhan pascaproduksi, Super 8mm Studio Post Production Support diberikan kepada Gabriela Serrano melalui proyek Music Memory. Adapun BSM Premiere Gear Fund mendukung tujuh proyek film, yaitu Badass Boi, Push Rank, My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, Script: Maria, Holy Mother, Gokill, dan Oh… Marijuana!.

Program Producers Lab, Talents Hub, dan Pitching Forum turut mendapat dukungan Manajemen Talenta Nasional (MTN), Kementerian Kebudayaan RI.

Laut Bercerita Tutup Festival dengan Kisah Ingatan dan Kehilangan

Pemutaran Laut Bercerita menjadi penanda berakhirnya rangkaian festival tahun ini. Sejumlah pemeran turut hadir, di antaranya Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, dan sejumlah pemain lainnya.

Diadaptasi dari novel Leila S. Chudori, film ini mengikuti perjalanan Biru Laut dan kawan-kawannya dalam gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru. Kisahnya juga menyoroti keluarga yang terus berjuang mencari kepastian mengenai nasib orang-orang terkasih yang hilang.

Pemilihan film tersebut menghadirkan penutup yang kuat bagi festival, sekaligus mengajak penonton kembali melihat hubungan antara sinema, sejarah, ingatan, dan kemanusiaan.

Dalam pernyataannya, Rina Damayanti menegaskan bahwa Jakarta Film Week bukan semata-mata tentang film yang diputar, melainkan juga pertemuan antarmanusia, pertukaran gagasan, dan kolaborasi yang tumbuh dari festival.

Ahmad Mahendra juga menyampaikan apresiasi kepada sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, serta penonton yang telah menjadi bagian dari penyelenggaraan tahun ini. Ia berharap hubungan yang terbangun selama festival dapat berlanjut dan memberikan kontribusi bagi perkembangan perfilman Indonesia.

Ragam Film Warnai Hari Terakhir

Selain pengumuman penghargaan, hari terakhir Jakarta Film Week menghadirkan beragam pemutaran dan diskusi.

Film Forza ditayangkan dalam program Family Time, dengan sesi tanya jawab bersama produser Shierly Kosasih serta pemeran Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, dan Tio Pakusadewo. Film tersebut mengikuti perjuangan Bima mengejar cita-cita menjadi pesepak bola dengan latar hubungan keluarga dan kehidupan desa.

Hari terakhir juga diwarnai world premiere Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, drama-komedi garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel Brian Khrisna. Diskusi setelah pemutaran menghadirkan Nia Daniaty, Bene, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, dan Chicco Kurniawan.

Di program Global Feature Official Selection, film Prancis Too Many Beasts karya Sarah Arnold menghadirkan satire politik dalam balutan komedi gelap. Sutradara Sarah Arnold dan penulis naskah Jérémie Dubois turut berdiskusi bersama penonton mengenai humor, keberanian mengambil risiko, dan cara film merespons situasi sosial.

Program lain meliputi The Girl With The Leica, Couture, serta pemutaran Stepping on the Flying Grass atau Cita-Citaku Setinggi Tanah karya Eugene Panji dalam program Classique.

Untuk penonton keluarga, festival juga menghadirkan film animasi Brasil Papaya karya Priscilla Kellen serta sejumlah film anak melalui program Layar Anak Indonesiana TV.

Berakhirnya Jakarta Film Week 2026 menegaskan peran festival sebagai ruang perjumpaan antara karya, penonton, dan industri. Di balik layar yang telah ditutup, berbagai proyek dan jaringan baru diharapkan menjadi pijakan bagi perjalanan berikutnya perfilman Indonesia menuju panggung internasional.(red/py).

#FilmIndonesia #NobodyLovesKay #PerfilmanIndonesia FestivalFilm Filipiñana JakartaFilmWeek2026 LautBercerita
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleAICX 2026 oleh ITSEC Asia (IDX: CYBR): Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Ancaman Siber dari Komputasi Kuantum Sekarang
Next Article Musik Indonesia Timur Naik Kelas, Fadli Zon Sambut Kehadiran Kategori Baru di AMI Awards 2026
yadi

Related Posts

SEMBARI PATROLI JALAN KAKI DI PEMUKIMAN PENDUDUK DESA MASARAN, POLSEK KAPUAS TENGAH INGATKAN KADES MASARAN BAHAYA BERITA HOAX LEWAT DIALOGIS KAMTIBMAS

28 Oktober 2026 8:14 AM

SEMBARI PATROLI JALAN KAKI DI PEMUKIMAN PENDUDUK DESA PUJON, POLSEK KAPUAS TENGAH INGATKAN KADES DAN PERANGKAT DESA BAHAYA BERITA HOAX LEWAT DIALOGIS KAMTIBMAS

27 Oktober 2026 8:25 PM

Film Desember Jani Tembus Festival Film Tokyo 2026, Siap Bersaing di Kompetisi Asian Future

27 Oktober 2026 12:41 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.