22
Maret
2026
Minggu - : WIB

BRI Finance Perkuat Sinergi Pembiayaan Otomotif di Bandung Lewat Gathering Dealer

vritimes
Agustus 8, 2025 3:44 am pada BISNIS

Sebagai bagian dari strategi ekspansi bisnis yang berkelanjutan dan berorientasi pada penguatan ekosistem otomotif nasional, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”), anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI), kembali menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri otomotif di tingkat regional. Setelah sukses menggelar kolaborasi dengan sejumlah dealer kendaraan di Surabaya pada bulan Juli lalu, BRI Finance melanjutkan langkahnya melalui sinergi dengan dealer kendaraan roda dua dan empat di wilayah Bandung dan sekitarnya, pada hari Jumat, 1 Agustus 2025.

Dalam kegiatan yang melibatkan BRI Regional Office Bandung dan dihadiri langsung oleh Ahmad Furqon, Regional Consumer Banking Head BRI Bandung, BRI Finance membangun komunikasi bisnis yang solid bersama beberapa dealer kendaraan ternama, antara lain Harley Davidson, BMW, Mercedes-Benz, dan BYD. Inisiatif ini memperkuat langkah BRI Group dalam memperluas akses pembiayaan otomotif yang kompetitif dan terpercaya kepada masyarakat.

Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, mengungkapkan, “Bandung menjadi titik strategis dalam pengembangan jaringan pembiayaan otomotif kami, menyusul kesuksesan kolaborasi serupa di Surabaya. Pendekatan ini bukan hanya memperluas penetrasi pasar, tetapi juga memperkuat peran BRI Finance sebagai katalisator pertumbuhan industri otomotif lokal.”

Sebagai mitra keuangan yang berada dalam ekosistem BRI, BRI Finance menghadirkan solusi pembiayaan kendaraan yang inklusif dan dapat diakses oleh berbagai segmen masyarakat. Penawaran skema pembiayaan meliputi:

Kredit Mobil Baru: bunga mulai dari 2,98%, tenor hingga 5 tahun

Kredit Mobil Bekas: bunga mulai dari 5,63%, tenor hingga 5 tahun

Dana Mobil (refinancing): bunga mulai dari 6,06%, tenor hingga 4 tahun

Tak hanya itu, untuk kebutuhan konsumtif yang mendesak, BRI Finance menyediakan pembiayaan dana tunai berbasis jaminan BPKB kendaraan roda empat dengan bunga mulai dari 0,72% per bulan, pencairan hingga 90% dari nilai kendaraan atau maksimal Rp500 juta. “Keseluruhan proses pembiayaan BRI Finance dirancang untuk menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, serta efisien melalui platform digital terintegrasi. Hal ini juga sejalan dengan agenda transformasi digital perusahaan dalam meningkatkan pengalaman nasabah secara end-to-end,” tambah Wahyudi.

Kolaborasi BRI Finance dengan dealer kendaraan, baik di Surabaya maupun Bandung, dibangun di atas skema joint financing antara BRI dan BRI Finance. Pendekatan ini mengedepankan prinsip berbagi risiko dan memperkuat struktur pembiayaan yang berkelanjutan. Bagi dealer, hal ini menjadi peluang untuk memperluas jangkauan pasar mereka melalui akses langsung ke ekosistem nasabah BRI yang tersebar luas.

“Sinergi ini membuka jalur distribusi baru bagi dealer, serta memberikan pilihan pembiayaan yang lebih luas dan terjangkau bagi masyarakat. Kami ingin menjadikan model ini sebagai standar kolaborasi nasional antara lembaga keuangan dan sektor otomotif,” tambah Wahyudi.

Kegiatan di Bandung menegaskan komitmen BRI Finance untuk memperluas akses pembiayaan yang adaptif terhadap kebutuhan lokal. Melalui kemitraan strategis dengan dealer kendaraan, BRI Finance tidak hanya hadir sebagai penyedia solusi keuangan, tetapi juga sebagai enabler yang mendorong pertumbuhan sektor riil dan mempercepat pemulihan industri otomotif nasional.

 

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Disalin

Pos Terkait

November 20, 2025 7:42 am
Tokoh Logistik Nasional Bongkar Penyebab Biaya Logistik Termahal di Asia TenggaraBiaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari PDB, yang mana tertinggi di Asia Tenggara, yang disebabkan oleh empat faktor utama yang menghambat daya saing, yaitu: proteksi industri truk dan oligopoli, mahalnya infrastruktur tol, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta kompleksitas regulasi dan birokrasi; namun, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), Daniel Budi Setiawan, menawarkan solusi strategis melalui digitalisasi logistik dengan aplikasi muatmuat yang bertujuan mengoptimalkan utilitas armada, meningkatkan transparansi pasar, dan menekan biaya suku cadang guna menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan kompetitif. JAKARTA – Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata negara maju (8-9%) dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional. Menurut Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), tingginya biaya logistik mencerminkan masih rendahnya efisiensi rantai pasok nasional yang berimbas langsung pada harga produk dan daya beli masyarakat. “Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel. Empat Faktor Penghambat Efisiensi Logistik Nasional Berdasarkan pengalaman Daniel selama puluhan tahun memimpin perusahaan logistik PT. Siba Surya yang punya aset ribuan truk dari yang awalnya hanya belasan, terdapat empat variabel utama yang berkontribusi terhadap tingginya biaya logistik Indonesia, di mana sebagian besar masih berada dalam kendali kebijakan pemerintah. 1. Proteksi Industri Truk (Kartel Pabrikan): Kebijakan proteksi yang sudah berjalan lebih dari lima dekade terhadap merek truk asal Jepang seperti Fuso, Hino, Isuzu, dan Nissan Diesel menyebabkan harga barang modal meningkat drastis. “Sampai saat ini, commercial vehicle masih dibebani bea masuk 35-45%. Empat merek besar itu berada dalam posisi oligopoli. Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel. 2. Infrastruktur Tol yang Mahal: Tidak seperti di negara maju, di mana pajak kendaraan sudah mencakup hak menggunakan jalan bebas hambatan, Indonesia masih menerapkan sistem tol berbayar yang dianggap mahal bagi pelaku transportasi barang. Hal ini menambah biaya transportasi logistik di luar pajak kendaraan tahunan. 3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah: Ketergantungan terhadap suku cadang dan bahan bakar impor membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Setiap perubahan kurs berpotensi menaikkan ongkos logistik secara signifikan. 4. Regulasi dan Birokrasi: Kompleksitas perizinan, pajak ganda (PPN, PPh, Bea Masuk, PKB, KIR), serta birokrasi antarinstansi memperpanjang proses dan meningkatkan biaya distribusi nasional. Peran Swasta: Mendorong Efisiensi dan Transparansi Meski tiga dari empat faktor tersebut bersifat makro, sektor swasta dinilai tetap memiliki ruang untuk mendorong efisiensi melalui inovasi dan digitalisasi logistik. Berbekal pengalaman puluhan tahun menghadapi kompleksitas industri logistik, Daniel menghadirkan muatmuat sebagai solusi strategis bagi pelaku logistik untuk memangkas biaya dan membuka efisiensi baru dalam rantai pasok Indonesia. Daniel mencontohkan langkah-langkah yang dapat diambil industri untuk mengurangi beban biaya, seperti: 1. Mengoptimalkan Utilisasi Armada: Mengurangi jumlah truk yang kembali kosong (empty return) dengan sistem pencocokan muatan digital di fitur Transport Market. 2. Meningkatkan Transparansi Pasar: Menghubungkan pengirim dan transporter secara langsung agar rantai distribusi lebih efisien dan biaya mark-up berkurang. 3. Digitalisasi Suku Cadang: di muatmuat juga tersedia Platform e-commerce bernama muatparts khusus logistik dapat menghadirkan harga suku cadang yang lebih kompetitif untuk menekan biaya operasional transportasi. “Kami percaya efisiensi pasar dapat dicapai lewat kolaborasi dan keterbukaan data. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat pula industrinya,” tambah Daniel di podcast bersama Helmy Yahya. Aplikasi muatmuat, yang dikembangkan oleh Daniel Budi Setiawan dan kini telah dipercaya oleh puluhan ribu pelaku logistik nasional sejak mulai dipasarkan pada 2024, menjadi contoh nyata kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, transparan, dan berdaya saing. Karakter yang Dibutuhkan untuk Bertahan di Industri Logistik Bagi Daniel, industri logistik adalah arena yang menuntut ketahanan mental, disiplin, dan keberanian untuk terus bergerak. “Yang bisa survive di industri ini adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya. Berhenti sejenak saja bisa tersingkir oleh mekanisme pasar, sehingga ekspansi dan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pengalaman panjang Daniel menghadapi kerasnya industri transportasi membentuk pemahaman bahwa banyak pelaku logistik sebenarnya mampu tumbuh, asal prosesnya dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari sinilah muatmuat lahir: sebagai perpanjangan dari semangat bertarung itu. Bukan sekadar platform, tetapi alat yang membantu pelaku industri meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya operasional, dan tetap kompetitif di tengah tantangan. Bagi Daniel, logistik memang keras, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang cukup kuat dan cukup berani untuk terus maju. Tentang muatmuat muatmuat hadir dengan visi menjadi produk yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat logistik di Indonesia. khususnya yang berdampak kepada : 1. Rendahnya daya beli masyarakat 2. Rendahnya kualitas atau nilai kompetitif sebuah produk/jasa, dan 3. Roda perekonomian di Indonesia Berbekal pengalaman nyata selama 4 generasi di bidang logistik serta teknologiyang handal, kami siap bersama pemangku kepentingan berkolaborasi mengemban misi dalam mendigitalisasi dan membangun industri logistik yang berkelanjutan. Kami turut mengajak masyarakat logistik untuk tergabung, saling terhubung dan jalan mudah bersama kami. Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU