Analisnews.co.id | JAKARTA – Nicholas Saputra tak sekadar menjadi pemeran utama dalam film Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn) garapan sutradara Garin Nugroho. Aktor yang memerankan Frans itu juga bertindak sebagai produser sekaligus pencetus gagasan film yang mengangkat sisi lain perjuangan Indonesia pada awal kemerdekaan.
Gagasan tersebut berawal sekitar dua hingga tiga tahun lalu, ketika Nicholas dan Garin bekerja sama dalam film musikal Siapa Dia. Dari proses itu, keduanya melihat adanya periode penting dalam sejarah Indonesia yang belum banyak diangkat melalui layar lebar, yakni masa awal setelah proklamasi kemerdekaan pada 1945.
“Semuanya dimulai sekitar dua atau tiga tahun lalu saat saya dan Garin syuting. Saya sebagai aktor, dan Garin sebagai sutradara,” kata Nicholas dalam diskusi setelah pemutaran perdana Merah Sebelum Fajar dalam siaran Pers Rabu(27/10)
Menurut Nicholas, kisah perjuangan Indonesia selama periode 1946–1949 tidak hanya berkaitan dengan pertempuran melawan upaya kembalinya kekuasaan kolonial. Ada pula kehidupan masyarakat sipil yang menghadapi ketidakpastian, ketakutan, dan kekerasan di tengah proses pembentukan negara baru.
“Tapi ada era yang jarang dibicarakan di negara kami, yaitu tahun-tahun awal sejak kemerdekaan diproklamasikan, pada 1946–1949,” ujar Nicholas.
Sebagai produser Atarui Films, Nicholas kemudian menyampaikan gagasan tersebut kepada Garin Nugroho, sutradara yang dikenal kerap mengangkat tema sejarah dan persoalan sosial melalui pendekatan sinematik.
Garin menyambut gagasan itu. Bersama penulis Dirmawan Hatta, ia mengembangkan cerita yang tidak hanya merekam perjuangan melawan penjajahan, tetapi juga menyoroti kekerasan dan perpecahan yang terjadi di antara sesama anak bangsa.
“Ya, karena terlalu banyak kekerasan dan ketidakberdayaan di dunia ini. Dan ketika Nicho menawarkan ini, menurut saya harus dibuat film ini,” tutur Garin.
Menyuarakan Perlawanan terhadap Kekerasan
Bagi Garin, Merah Sebelum Fajar bukan sekadar film berlatar sejarah. Karya ini juga menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahannya terhadap kekerasan dan peperangan yang masih terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk persoalan yang relevan dengan situasi Indonesia saat ini.
Melalui film tersebut, Garin mengajak penonton merenungkan kembali arti kemerdekaan dan kemanusiaan. Ia juga ingin membuka ruang pembicaraan mengenai sisi sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat, khususnya generasi muda.
“Dan saatnya memang harus dibuka, untuk direnungi,” katanya.
Film ini mengambil latar Indonesia pada 1946, setahun setelah proklamasi kemerdekaan. Saat itu, situasi politik dan keamanan masih jauh dari stabil. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Belanda kembali ke Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu. Rakyat Indonesia menolak kembalinya kekuasaan kolonial yang berusaha menguasai wilayah Nusantara.
Di tengah situasi tersebut, perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung bersamaan dengan berbagai ketegangan sosial dan konflik antarkelompok.
Perjalanan Menuju Yogyakarta
Merah Sebelum Fajar mengikuti perjalanan Frans, seorang ahli tambang keturunan Belanda-Indonesia yang harus membawa dokumen penting dari Jakarta menuju Yogyakarta, ibu kota sementara Republik Indonesia.
Dokumen tersebut diharapkan dapat membantu pemerintahan baru mengelola kekayaan sumber daya mineral Indonesia. Namun, perjalanan itu bukan sekadar urusan membawa dokumen. Di tengah situasi yang penuh kecurigaan dan ancaman, Frans harus berhadapan dengan kenyataan bahwa perjuangan membangun sebuah negara tidak selalu berjalan dalam kesatuan.
Frans ditemani Qasim, pria keturunan India yang gemar mengutip karya sastrawan Rabindranath Tagore, diperankan Bront Palarae. Ada pula seorang calon perawat keturunan Tionghoa yang dimainkan Laura Basuki, penyanyi keliling yang diperankan Tissa Biani, serta Arya, teknisi radio tunanetra yang diperankan Nagra Pakusadewo.
Arya meyakini bahwa nasib rakyat bergantung pada kemampuan mereka untuk saling berkomunikasi dari berbagai penjuru negeri.
Perjalanan mereka mempertemukan beragam latar belakang etnis, agama, dan pandangan hidup. Namun, perbedaan itu tidak selalu mudah disatukan, bahkan ketika mereka menghadapi musuh yang sama.
Kecurigaan, pertentangan, dan pertumpahan darah menjadi bagian dari realitas yang harus mereka hadapi. Melalui kisah para tokohnya, film ini menggambarkan betapa rumitnya perjalanan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus membangun persatuan.
Wakil Indonesia di Tokyo International Film Festival 2026
Merah Sebelum Fajar menjadi satu-satunya film perwakilan Indonesia yang masuk kompetisi utama Tokyo International Film Festival 2026. Film tersebut bersaing dengan 14 karya lainnya dari berbagai negara.
Pengumuman pemenang kompetisi dijadwalkan berlangsung pada hari terakhir festival, 4 November 2026.
Setelah mengikuti festival internasional tersebut, Merah Sebelum Fajar akan menyapa penonton Indonesia melalui penayangan di bioskop mulai 21 Januari 2027.
Lewat film ini, Nicholas Saputra dan Garin Nugroho menghadirkan pengingat bahwa sejarah kemerdekaan tidak hanya dibentuk oleh pertempuran dan tokoh-tokoh besar. Di baliknya, ada kehidupan masyarakat sipil, perbedaan yang belum terselesaikan, serta perjuangan panjang untuk membangun sebuah bangsa yang bersatu.(red/py).
