04
Maret
2026
Rabu - : WIB

Bukber Musisi Senior, Merawat Nada Persaudaraan

yadisuryadi
yadisuryadi
Maret 4, 2026 7:27 pm pada Entertainment, JAKARTA
IMG 20260304

Analisnews.co.id | Senja merambat perlahan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026). Di sebuah sudut hangat Lume Coffee, para musisi dan pencipta lagu senior berkumpul dalam suasana yang jauh dari hiruk-pikuk panggung. Mereka datang bukan untuk tampil, melainkan untuk menautkan kembali simpul-simpul persahabatan yang lama terpisah waktu.

Di antara yang hadir tampak nama-nama yang pernah mengisi perjalanan musik Indonesia, seperti Obbie Messakh, Richard Kyoto, Koko Thole, Wahyu WHL, Iskandar, Jhon Dayat, Cherry LZ, Julius Sitanggang, hingga Rachmat AS. Pertemuan itu dibingkai dalam acara buka puasa bersama—sebuah momentum sederhana yang sarat makna.

Menurut Wahyu WHL, pencipta lagu “Tenda Biru” yang dipopulerkan Dessy Ratnasari pada era 1990-an, silaturahmi menjadi ruang penting untuk menjaga rasa persaudaraan di antara sesama pencipta lagu.

“Silaturahmi itu sangat penting untuk menyambung rasa persaudaraan dan melepas rindu,” ujarnya.

Bagi Obbie Messakh, pertemuan tersebut serupa obat rindu setelah sekian lama tak berjumpa. Ia menyebut silaturahmi sebagai bagian dari kehidupan yang mengikat batin para pencipta lagu yang tumbuh dan berjuang di era yang sama.

Richard Kyoto, yang dikenal lewat lagu “Kasih” yang dipopulerkan Ermi Kulit, berharap pertemuan semacam ini dapat dilakukan lebih sering. Selain mempererat hubungan personal, silaturahmi juga menjadi ruang berbagi kabar dan pengalaman di tengah dinamika industri musik yang terus berubah.

Nada yang sama disampaikan Jhon Dayat, pencipta lagu “Antara Kau dan Aku” yang dibawakan Poppy Mercury. Di kalangan musisi, ia dikenal sebagai “kyai musik” karena ketekunan dan kebijaksanaannya.

“Silaturahmi itu pupuknya rohani kita,” ujarnya singkat, namun penuh makna.

Acara buka puasa tersebut tidak berhenti pada jamuan santap bersama. Selepas berbuka, suasana berubah menjadi hangat dan akrab ketika para musisi bergantian menyumbangkan lagu. Cherry LZ, pencipta “Sahabat Pena” yang dipopulerkan Boy Sandi, turut mengiringi nyanyian yang mengalun spontan. Nada-nada lawas itu seakan menjadi jembatan yang menyatukan kenangan.

Koko Thole, musisi keroncong yang datang dari Depok, mengaku bahagia dapat hadir meski harus menembus kemacetan ibu kota. “Senang sekali bisa bertemu teman-teman lama. Rasanya tersanjung dan bahagia,” katanya.

Wahyu WHL menambahkan, selepas Lebaran nanti, para seniman musik berencana kembali berkumpul dalam halal bihalal yang lebih besar. Harapannya, semakin banyak musisi lintas generasi dapat hadir dan merawat jejaring kebersamaan.

Di tengah perubahan zaman dan arus industri yang kian cepat, pertemuan sederhana di sudut kafe itu menjadi penegas: musik bukan sekadar karya, melainkan juga ikatan batin. Dan pada senja Ramadan itu, ikatan tersebut kembali dirawat—dengan doa, tawa, dan lagu.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU