
Analisnews.ci.id | Jakarta — Nama Diego Aslan perlahan tapi pasti terus menguat di jalur pembinaan sepak bola usia muda Jakarta. Gelandang serang berkaki kiri kelahiran 18 November 2010 ini dikenal sebagai otak permainan Mavericks FC—klub yang sudah ia bela sejak usia 6,5 tahun.
Di usia 15 tahun, Diego tampil sebagai playmaker modern: piawai mengatur tempo, presisi dalam distribusi bola, serta memiliki ball feeling di atas rata-rata. Senjata lainnya adalah kemampuan free kick dan tendangan jarak jauh, yang kerap menjadi pembeda di pertandingan.
Pada Askot 2025 kelompok usia 2010, Diego mencetak 7 gol dari luar kotak penalti dan situasi bola mati. Setahun sebelumnya, saat bermain di kelompok usia 2009, ia bahkan mengoleksi 8 gol—catatan impresif untuk seorang gelandang serang.
Perjalanan prestasinya dimulai sejak usia dini. Tahun 2018, Diego mengangkat trofi Tiger Cup U8. Tahun 2019 menjadi periode emas: empat besar Indonesia Junior League, empat besar Bangkok International Cup bersama Makati FC Filipina, hingga terpilih sebagai salah satu dari 10 anak berbakat Indonesia cabang sepak bola dalam ajang Super10 yang disiarkan RTV.
Pada 2020, Diego mencuri perhatian nasional lewat rekor juggling Kemenpora yang digelar serentak di 48 kota dan dibuka langsung Menpora saat itu, Zainudin Amali, di Cibubur. Meski kompetisi diperuntukkan usia 12–16 tahun, Diego yang belum genap 10 tahun tampil sebagai juara dengan catatan luar biasa 1 jam 30 menit, jauh meninggalkan peringkat kedua yang hanya mencatat 36 menit.
Prestasi terus berlanjut. Tahun 2021 ia membawa timnya menembus empat besar IJSL sekaligus menjadi top skor tim dengan 15 gol. Tahun 2022 Diego tampil di Barati International Cup Bali (8 besar), lalu dipercaya menjadi kapten Tim DKI Jakarta U12 yang menjuarai Kejuaraan Nasional APSSI.
Pengalaman internasional kembali dirasakan pada 2023 lewat Singa Cup U14 Singapura (8 besar), disusul kiprah di Liga TopSkor, La Liga International Cup Jogja, hingga meraih runner-up Garuda Cup International bersama Putra Samarinda.
Memasuki 2024, Diego kembali menunjukkan kualitasnya dengan menjadi juara ASC Cup sekaligus top skor, juara 1 Gala Siswa Jakarta Barat, runner-up Askot U15, serta menyabet gelar MVP Liga TopSkor U15. Ia juga tampil di Kejuaraan Nasional BLiSPI Semarang U15.
Namun akhir 2024 menjadi ujian terberat. Diego harus menepi hampir enam bulan akibat cedera Osgood Schlatter, kondisi yang umum dialami pemain usia 14–15 tahun, bahkan sempat menyebabkan retakan pada tulang kering.
Pelatih Mavericks FC, Syafri, mengaku sangat bersyukur Diego bisa kembali memperkuat tim pada 2025.
“Pelatih sangat senang Diego kembali bermain setelah hampir enam bulan cedera. Di 2025 kondisinya sudah sekitar 90 persen, dan dia langsung membantu tim U15 meraih juara tiga Askot. Kehadirannya membuat kami bisa kembali memakai formasi terbaik,” ujar Syafri.
Comeback Diego menjadi momentum penting bagi Mavericks. Skuad gabungan kelahiran 2009–2010 ini memang sudah bersama sejak 2019 dan dijuluki “kuda emas” di internal akademi. Kini mereka bersiap naik level menghadapi Liga Jakarta U17.
Bagi Mavericks, Diego bukan sekadar pemain. Ia telah lama menjadi ikon klub, simbol konsistensi pembinaan, dan representasi talenta lokal Jakarta yang tumbuh dari proses panjang.
Dengan visi bermain matang, kaki kiri mematikan, mental juara, serta pengalaman nasional-internasional sejak usia dini, Diego Aslan kini diproyeksikan sebagai salah satu gelandang muda paling menjanjikan. Jika konsistensi dan pembinaannya terjaga, bukan mustahil namanya segera masuk radar tim-tim elite usia muda Indonesia.