01
Maret
2026
Minggu - : WIB

Diresmikan Anies Baswedan, Jembatan Titian Persatuan Dibangun Warga dan Aksi Bersama

vritimes
vritimes
Februari 4, 2026 11:01 am pada BISNIS
Diresmikan Anies Baswedan, Jembatan Titian Persatuan Dibangun Warga dan Aksi Bersama

Membentang Menyatukan Dua Seberang, Menghadirkan Jalan Pulang. Penantian 30 tahun warga Karanganyar resmi lunas hari ini. Terima kasih kepada seluruh relawan, warga, dan Teman Aksi Indonesia yang telah bahu-membahu mewujudkan Titian Persatuan ini. Tanpa ketulusan dan gotong royong kalian, jembatan ini takkan pernah berdiri. Mari terus membentang, menyambung harapan yang sempat terputus di pelosok lainnya.

Karanganyar – Jumat 30 Januari 2026, warga Dusun Gembreng, Desa Sambirejo dan warga Kampung Klotok berkumpul dalam acara yang sudah dinantikan, ‘Peresmian Jembatan Titian Persatuan Karanganyar’ yang diinisiasi oleh Aksi Bersama dan diresmikan langsung oleh penggeraknya, Anies Baswedan.

Acara peresmian ini sudah dinantikan warga semenjak jembatan berdiri di pertengahan Januari. Diawali dengan pengibaran Bendera Merah Putih, dan dilanjutkan dengan penampilan kesenian dari warga sekitar. Tim Aksi Bersama, tamu undangan, Karang Taruna, pemerintah dan warga setempat meramaikan acara ini hingga malam hari.

“Alhamdulillah jembatan Aksi Bersama Karanganyar sudah dicoba masyarakat” ujar Itong dengan antusias.

Jembatan bambu yang sudah 30 tahun berdiri, kini digantikan dengan jembatan gantung yang lebih kokoh dan aman untuk mobilitas warga sekitar. Warga tidak lagi khawatir untuk menyebrangi jembatan yang ketinggiannya 20 meter di atas permukaan sungai tersebut.

“Selisih dari jembatan lama dengan jembatan baru sangat jauh, lebih tinggi dan juga lebih aman” komentar Iswanto, tentang perbandingan jembatan bambu yang lama dengan Jembatan Titian Persatuan. Membentang sepanjang 55 meter, jembatan ini menghubungkan Dusun Gembreng, Desa Sambirejo dengan Kampung Klotok.

Dalam proses pembangunannya, Aksi Bersama menerapkan pendekatan yang partisipatif dengan melibatkan masyarakat secara aktif serta bergotong-royong. Baik Karang Taruna setempat, maupun masyarakat biasa memiliki peran masing-masing. Semangat gotong royong ini bukan hal yang baru bagi warga, karena selama ini warga desa sekitar secara swadaya memperbaiki jembatan bambu non-permanen setiap tanggal 17 Agustus. Keberhasilan pembangunan Titian Persatuan Karanganyar tidak lepas dari peran penting Teman Aksi Bersama Solo Raya yang terus mengawal pembangunan dan senantiasa menemani warga. Teman Aksi Solo Raya menjadi penghubung antara kebutuhan warga dengan Aksi Bersama, serta memastikan setiap proses yang berjalan selaras dengan apa yang direncanakan. 

“Kami ingin jembatan ini menjadi ‘Harapan Anyar’ di Karanganyar. Jembatan yang menjadi harapan dan mampu memberikan rasa aman sehingga tidak ada lagi kecemasan bagi orang tua saat melepas anaknya pergi ke sekolah terutama di musim penghujan,” ujar perwakilan Teman Aksi Bersama Solo Raya.

Keterlibatan erat antara warga dan Aksi Bersama ini, membuka ruang dialog yang lebih luas dalam setiap proses pembangunannya. Seperti dalam proses pemetaan lokasi, diperoleh informasi bahwa tanah yang hendak dibangun sebagai pondasi jembatan merupakan sebuah tanah wakaf yang diwasiatkan untuk kebermanfaatan warga. Tanah inilah yang kemudian menjadi pondasi penting dari Jembatan Titian Persatuan Karanganyar.

Jembatan kedua yang didirikan oleh Aksi Bersama ini merupakan wujud komitmen dalam menghadirkan akses publik yang dapat memudahkan mobilitas warga untuk berkegiatan sosial dan ekonomi. Tidak hanya itu, pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara Aksi Bersama dengan warga serta pemerintah daerah Kabupaten Karanganyar dalam membangun infrastruktur pedesaan.

Pembangunan Titian Persatuan ini diharapkan akan memberikan akses mobilitas yang lebih layak dan aman bagi warga sekitar. Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, tapi merupakan penopang mobilitas harian anak-anak untuk pergi sekolah, akses warga ke lahan pertanian, hingga meningkatkan aktivitas perekonomian warga sekitar.

Menjadi tokoh utama peresmian Jembatan Titian Persatuan Karanganyar, Anies Baswedan memberikan banyak perhatian dan dukungan bahkan sebelum jembatan ini selesai berdiri. Kedatangan kedua beliau untuk meresmikan sangatlah dinanti oleh warga.

Setelah peresmian, Teman Aksi Bersama Solo Raya akan menjalankan program Community Development (comdev). Program ini dilakukan agar pembangunan tidak hanya terhenti di Titian Persatuan tetapi menjadi titik awal ruang warga untuk bertumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, pembangunan Titian Persatuan bukan hanya tentang membangun sebuah jembatan, tetapi menjadi pengingat bahwa perubahan selalu lahir dari kepedulian yang dijalankan bersama. Di balik kokohnya Jembatan Titian Persatuan yang kini berdiri, terdapat kontribusi dari berbagai pihak termasuk para donatur.

Upaya sekecil apapun, ketika dikumpulkan mampu menjelma menjadi sebuah jembatan yang kokoh. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian penting dalam mewujudkan jembatan ini.

“Membentang, menyambungkan dua seberang, menghadirkan jalan pulang” ujar Anies Baswedan yang mengutip dari tanggapan warganet terhadap program Aksi Bersama ini.

Tentang Aksi Bersama

Aksi Bersama adalah organisasi non-profit yang berfokus kepada peningkatan akses dan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, Aksi Bersama menghadirkan pembangunan infrastruktur dasar serta penguatan komunitas sebagai upaya menciptakan pembangunan sosial yang berkelanjutan.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Disalin

Pos Terkait

Public (2) (34)
November 20, 2025 7:42 am
Tokoh Logistik Nasional Bongkar Penyebab Biaya Logistik Termahal di Asia TenggaraBiaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari PDB, yang mana tertinggi di Asia Tenggara, yang disebabkan oleh empat faktor utama yang menghambat daya saing, yaitu: proteksi industri truk dan oligopoli, mahalnya infrastruktur tol, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta kompleksitas regulasi dan birokrasi; namun, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), Daniel Budi Setiawan, menawarkan solusi strategis melalui digitalisasi logistik dengan aplikasi muatmuat yang bertujuan mengoptimalkan utilitas armada, meningkatkan transparansi pasar, dan menekan biaya suku cadang guna menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan kompetitif. JAKARTA – Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata negara maju (8-9%) dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional. Menurut Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), tingginya biaya logistik mencerminkan masih rendahnya efisiensi rantai pasok nasional yang berimbas langsung pada harga produk dan daya beli masyarakat. “Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel. Empat Faktor Penghambat Efisiensi Logistik Nasional Berdasarkan pengalaman Daniel selama puluhan tahun memimpin perusahaan logistik PT. Siba Surya yang punya aset ribuan truk dari yang awalnya hanya belasan, terdapat empat variabel utama yang berkontribusi terhadap tingginya biaya logistik Indonesia, di mana sebagian besar masih berada dalam kendali kebijakan pemerintah. 1. Proteksi Industri Truk (Kartel Pabrikan): Kebijakan proteksi yang sudah berjalan lebih dari lima dekade terhadap merek truk asal Jepang seperti Fuso, Hino, Isuzu, dan Nissan Diesel menyebabkan harga barang modal meningkat drastis. “Sampai saat ini, commercial vehicle masih dibebani bea masuk 35-45%. Empat merek besar itu berada dalam posisi oligopoli. Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel. 2. Infrastruktur Tol yang Mahal: Tidak seperti di negara maju, di mana pajak kendaraan sudah mencakup hak menggunakan jalan bebas hambatan, Indonesia masih menerapkan sistem tol berbayar yang dianggap mahal bagi pelaku transportasi barang. Hal ini menambah biaya transportasi logistik di luar pajak kendaraan tahunan. 3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah: Ketergantungan terhadap suku cadang dan bahan bakar impor membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Setiap perubahan kurs berpotensi menaikkan ongkos logistik secara signifikan. 4. Regulasi dan Birokrasi: Kompleksitas perizinan, pajak ganda (PPN, PPh, Bea Masuk, PKB, KIR), serta birokrasi antarinstansi memperpanjang proses dan meningkatkan biaya distribusi nasional. Peran Swasta: Mendorong Efisiensi dan Transparansi Meski tiga dari empat faktor tersebut bersifat makro, sektor swasta dinilai tetap memiliki ruang untuk mendorong efisiensi melalui inovasi dan digitalisasi logistik. Berbekal pengalaman puluhan tahun menghadapi kompleksitas industri logistik, Daniel menghadirkan muatmuat sebagai solusi strategis bagi pelaku logistik untuk memangkas biaya dan membuka efisiensi baru dalam rantai pasok Indonesia. Daniel mencontohkan langkah-langkah yang dapat diambil industri untuk mengurangi beban biaya, seperti: 1. Mengoptimalkan Utilisasi Armada: Mengurangi jumlah truk yang kembali kosong (empty return) dengan sistem pencocokan muatan digital di fitur Transport Market. 2. Meningkatkan Transparansi Pasar: Menghubungkan pengirim dan transporter secara langsung agar rantai distribusi lebih efisien dan biaya mark-up berkurang. 3. Digitalisasi Suku Cadang: di muatmuat juga tersedia Platform e-commerce bernama muatparts khusus logistik dapat menghadirkan harga suku cadang yang lebih kompetitif untuk menekan biaya operasional transportasi. “Kami percaya efisiensi pasar dapat dicapai lewat kolaborasi dan keterbukaan data. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat pula industrinya,” tambah Daniel di podcast bersama Helmy Yahya. Aplikasi muatmuat, yang dikembangkan oleh Daniel Budi Setiawan dan kini telah dipercaya oleh puluhan ribu pelaku logistik nasional sejak mulai dipasarkan pada 2024, menjadi contoh nyata kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, transparan, dan berdaya saing. Karakter yang Dibutuhkan untuk Bertahan di Industri Logistik Bagi Daniel, industri logistik adalah arena yang menuntut ketahanan mental, disiplin, dan keberanian untuk terus bergerak. “Yang bisa survive di industri ini adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya. Berhenti sejenak saja bisa tersingkir oleh mekanisme pasar, sehingga ekspansi dan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pengalaman panjang Daniel menghadapi kerasnya industri transportasi membentuk pemahaman bahwa banyak pelaku logistik sebenarnya mampu tumbuh, asal prosesnya dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari sinilah muatmuat lahir: sebagai perpanjangan dari semangat bertarung itu. Bukan sekadar platform, tetapi alat yang membantu pelaku industri meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya operasional, dan tetap kompetitif di tengah tantangan. Bagi Daniel, logistik memang keras, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang cukup kuat dan cukup berani untuk terus maju. Tentang muatmuat muatmuat hadir dengan visi menjadi produk yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat logistik di Indonesia. khususnya yang berdampak kepada : 1. Rendahnya daya beli masyarakat 2. Rendahnya kualitas atau nilai kompetitif sebuah produk/jasa, dan 3. Roda perekonomian di Indonesia Berbekal pengalaman nyata selama 4 generasi di bidang logistik serta teknologiyang handal, kami siap bersama pemangku kepentingan berkolaborasi mengemban misi dalam mendigitalisasi dan membangun industri logistik yang berkelanjutan. Kami turut mengajak masyarakat logistik untuk tergabung, saling terhubung dan jalan mudah bersama kami. Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU