
Pandeglang, Banten — analisnews.co.id Marwah jurnalis tidak lahir dari pengakuan verbal, apalagi dari pelayaran popularitas, melainkan dari kedalaman karya tulis yang jujur, bernalar, dan bertanggung jawab. Pemikiran tersebut mengemuka dalam Diskusi Jurnalis yang berlangsung di Cafe “D” Kaiman, Kampung Sabang, Desa Sidamukti, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (21/01/2026).
Diskusi yang berlangsung hangat dan reflektif itu menjadi ruang pertemuan gagasan lintas media dan aktivis sosial, dengan satu tujuan utama: mengajak insan pers kembali pada tugas dan fungsi jurnalistik secara profesional, beretika, dan bermartabat.
Pimpinan Redaksi Media Online detikPerkara.com, Kasman, yang juga menjabat sebagai Ketua Jurnalis Banten Bersatu (JBB), menegaskan bahwa identitas wartawan sejatinya terukir dari karya yang dihasilkan, bukan dari klaim diri ataupun pengakuan sepihak.
“Wartawan akan dikenal dari karya tulisnya, bukan dari pelayarannya dan pengakuannya. Jika ingin besar dan diakui, maka utamakan karya,” ujar Kasman.
Menurutnya, profesionalisme bukan sekadar status, melainkan proses kesadaran diri yang terus diasah. Wartawan, kata dia, harus mampu menunjukkan sikap profesional agar tumbuh secara intelektual dan etis dalam dunia jurnalistik yang kian kompleks.
Lebih jauh, Kasman mengaitkan profesi wartawan dengan dimensi filosofis dan spiritual. Ia menekankan pentingnya jurnalis mengenali dirinya sendiri agar mampu memahami peran kemanusiaan dan ketuhanan dalam setiap karya jurnalistik yang ditulis.
“Wartawan harus mengenali dirinya agar dapat mengenal Tuhan. Kita tidak boleh lupa tujuan kita diciptakan. Dari sanalah lahir kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab,” tuturnya.
Di tempat yang sama, Dedi Supandi, Kepala Perwakilan Wilayah Media Propam News TV, menyampaikan bahwa wartawan profesional adalah mereka yang konsisten memegang etika, disiplin dalam verifikasi, serta menjadikan kepentingan publik sebagai kompas utama pemberitaan.
Diskusi tersebut juga dihadiri Andi Irawan, wartawan yang tergabung dalam organisasi AWDI Pandeglang, yang menilai forum semacam ini penting untuk menjaga kejernihan nurani jurnalis di tengah derasnya arus informasi dan tekanan kepentingan.
Turut hadir TB. Tobi, Ketua Aktivis Sosial Independen (AKSI) Kabupaten Pandeglang, yang mengingatkan bahwa pers dan aktivis sosial memiliki tanggung jawab moral yang sama dalam mengawal kebenaran dan keadilan sosial.
Sementara itu, TB. Aujani, selaku Ketua Aktivis TURKI, menekankan bahwa kolaborasi antara jurnalis dan elemen masyarakat sipil harus dibangun di atas nilai kejujuran, keberanian, dan kesadaran intelektual, bukan kepentingan sesaat.
Diskusi Jurnalis di Cafe “D” Kaiman tersebut bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan menjadi ruang perenungan kolektif tentang makna profesi wartawan.
Di tengah tantangan zaman, marwah jurnalis hanya dapat dijaga melalui karya yang bermutu, sikap yang profesional, serta kesadaran bahwa jurnalistik adalah jalan pengabdian, bukan sekadar pekerjaan.
Dengan demikian, profesi wartawan tetap berdiri tegak sebagai pilar demokrasi, suara nurani publik, dan cermin peradaban.