04
Februari
2026
Rabu - : WIB

DKI Dorong Definisi Nasional Masakan Indonesia

shanty
shanty
Januari 31, 2026 7:42 pm pada Food, Lifestyle
IMG 20260131

Analisnews.co.id, JAKARTA — Kekayaan kuliner Indonesia selama ini dikenal luas, namun belum memiliki satu kerangka definisi nasional yang disepakati bersama. Kondisi tersebut dinilai membuat diskursus kuliner kerap berhenti pada aspek menu, promosi, atau kepentingan pasar, tanpa pijakan konseptual yang kuat. Isu inilah yang diangkat Dewan Kuliner Indonesia (DKI) melalui diskusi publik bertajuk “Apa Itu Masakan Indonesia? – Menyusun Kerangka Definisi Nasional”.

Diskusi yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Road to Kongres Kuliner Indonesia 2026 ini berlangsung di TAMU, restoran Indonesia yang mengusung visi pelestarian nilai-nilai kuliner Nusantara. Pemilihan lokasi tersebut dinilai selaras dengan semangat dialog antara praktik kuliner dan pemikiran akademik.

Melalui forum ini, DKI membuka ruang dialog lintas disiplin untuk membahas urgensi mendefinisikan masakan Indonesia sebagai sistem budaya, bukan sekadar produk pangan. Masakan Indonesia dipandang sebagai hasil proses panjang interaksi budaya antarwilayah, perdagangan global, migrasi, hingga kolonialisme, jauh sebelum Indonesia terbentuk sebagai negara-bangsa. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang posisi masakan Indonesia: apakah sebagai entitas kultural yang telah mapan, atau konstruksi modern yang berakar dari sistem masakan Nusantara.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dengan perspektif beragam. Sejarawan JJ Rizal mengulas sejarah kemunculan istilah “masakan Indonesia” dan keterkaitannya dengan dinamika sosial-politik. Hardian Eko Nurseto, dosen antropologi Universitas Padjadjaran, menyoroti masakan sebagai praktik budaya dan identitas, sekaligus mengingatkan risiko penyederhanaan dan eksklusi budaya dalam upaya pendefinisian nasional. Sementara Haidhar Wurjanto dari Forum Bogor Kota Gastronomi membahas dampak praktis definisi terhadap kebijakan publik, standardisasi, dan pengembangan kota gastronomi.

Diskusi dimoderatori Ray Janson, Presidium DKI, yang menegaskan pentingnya menempatkan perbincangan kuliner pada level konseptual dan strategis. DKI berharap dialog ini dapat merumuskan prinsip-prinsip awal yang inklusif dan berbasis sejarah untuk dibawa ke tingkat diskursus nasional dalam Kongres Kuliner Indonesia 2026.

Forum ini menjadi langkah awal membangun kesadaran bahwa masakan Indonesia adalah sistem budaya hidup yang perlu dirumuskan secara hati-hati demi penguatan identitas dan arah kebijakan kuliner nasional ke depan.

Reporter : Ayhano

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU