
Indramayu, 5 November 2025 – Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI Al-AZIS) sukses berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraaan Seminar Kesehatan Perempuan (Woman Health Seminar) selama tiga hari penuh, terhitung sejak 3 hingga 5 November 2025. Kegiatan ini merupakan realisasi strategis dari visi kelembagaan IAI Al-AZIS untuk menjadi Perguruan Tinggi Riset Internasional berbasis Ajaran Ilahi untuk semua, bersistem kontemporer, berbudaya toleransi, dan perdamaian demi terwujudnya masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi yang merdeka.
Seminar ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) dan Komunitas Unto dari Amerika Serikat. Total 12 sivitas akademika IAI Al-AZIS turut serta secara aktif dalam seminar yang berfokus pada peningkatan wawasan kritis dan kepedulian terhadap isu-isu kesehatan perempuan. Para mahasiswi berperan aktif dalam setiap sesi diskusi, demonstrasi, dan refleksi yang diberikan oleh pemateri. Didampingi oleh Direktur LPMI, Bapak Pendeta, Drs. William Wairata, M.Th. memberikan beberapa patah kata saat pembukaan, selanjutnya hingga berakhir narasumber asal Amerika Serikat didampngi oleh interpreter saat pemaparan.
Kesehatan dan Toleransi sebagai Bagian Kurikulum
Penyelenggaraan seminar ini menegaskan komitmen IAI Al-AZIS dalam mencetak masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi yang merdeka. Komitmen tersebut diinstitusionalisasi dengan penyelenggaraan mata kuliah kesehatan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian dalam kurikulum akademik kampus.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan medis, kegiatan ini juga berfungsi sebagai platform nyata bagi implementasi nilai toleransi beragama. Peserta mendapatkan pengalaman berharga berinteraksi langsung dengan dua narasumber dan tim yang merupakan bagian dari komunitas Nasrani di bawah LPMI. Interaksi lintas agama ini menunjukkan bahwa IAI Al-AZIS memegang teguh prinsip keterbukaan dan kerjasama kemanusiaan universal sebagai mana moto Ajaran Ilahi Untuk Semua.
“Kegiatan ini juga melatih memahami kehidupan dan melatih berinteraksi sosial dengan orang lain berlatar budaya agama berbeda serta juga melatih keterampilan reseptif Bahasa Inggris yakni menyimak atau listening, dan keterampilan produktif bahasa yakni berbicara atau speaking” ujar satu dosen pembimbing kegiatan.
“Yang paling berkesan bagi saya adalah cara Ibu Robin dan Ibu Erika dalam menyampaikan materi singkat, padat, jelas, serta disertai dengan alat peraga yang membuat penjelasan mudah dipahami. Saya benar-benar mendapatkan banyak ilmu dari keduanya”, ujar Hilmi.
Kegiatan Seminar Kesehatan Perempuan memberikan pengalaman berharga bagi peserta, terutama dalam hal peningkatan wawasan dan kesadaran serta kepedulian terhadap isu kesehatan perempuan yang seringkali terabaikan. Para peserta siap pada kesempatan lain untuk menyampaikan kembali ilmu yang diperoleh kepada sivitas akademika perempuan, sehingga manfaat kegiatan dapat diperluas bukan hanya peserta namun masyarakat perempuan lebih luas.
Kontributor, Dewi Utami