{"id":10496,"date":"2026-06-05T08:47:22","date_gmt":"2026-06-05T08:47:22","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/06\/05\/fakta-menarik-50-guru-besar-deklarasi-pendidikan-indonesia-raya-abadi-demi-transformasi-pendidikan-abad-ke-22\/"},"modified":"2026-06-05T08:47:22","modified_gmt":"2026-06-05T08:47:22","slug":"fakta-menarik-50-guru-besar-deklarasi-pendidikan-indonesia-raya-abadi-demi-transformasi-pendidikan-abad-ke-22","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/06\/05\/fakta-menarik-50-guru-besar-deklarasi-pendidikan-indonesia-raya-abadi-demi-transformasi-pendidikan-abad-ke-22\/","title":{"rendered":"Fakta Menarik: 50 Guru Besar Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi demi Transformasi Pendidikan Abad ke-22"},"content":{"rendered":"<p>INDRAMAYU, Konferensi dan Simposium Pendidikan Indonesia 2026 yang berlangsung selama dua hari di Ma&#8217;had Al-Zaytun (MAZ) tanggal 31 Mei sd. 1 Juni 2026, resmi menghasilkan sebuah dokumen historis penting bertajuk &#8220;Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi&#8221;. Deklarasi monumental ini disepakati dan ditandatangani bersama oleh 50 guru besar serta cendekiawan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka tepat pada momentum Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.<\/p>\n<p>Mengusung tema &#8220;Transformasi Revolusional Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Raya Abadi&#8221;, deklarasi ini menjadi manifestasi komitmen kebangsaan para akademisi. Tujuannya adalah mendorong transformasi pendidikan nasional yang merata, berkarakter, berdaya saing global, serta adaptif terhadap tantangan zaman hingga abad ke-22.<br \/>\nMenjawab Krisis Sistemik dan Tantangan Masa Depan<\/p>\n<p>Dalam naskah rekomendasi yang dibacakan bersama, para guru besar menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama penggerak kemajuan bangsa dan penentu kualitas peradaban negara.<br \/>\nLebih lanjut, para peserta konferensi menggarisbawahi akselerasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), revolusi digital, serta transformasi ekonomi global yang bergerak eksponensial. Tantangan-tantangan radikal ini menuntut lahirnya generasi baru yang tidak sekadar unggul secara akademik, melainkan memiliki karakter kuat, jiwa kebangsaan yang utuh, kemampuan teknologi tinggi, serta landasan spiritualitas yang kokoh.<br \/>\nDua Poin Utama Deklarasi<\/p>\n<p>Untuk mewujudkan transformasi revolusioner tersebut, deklarasi ini menekankan dua pilar gerakan strategis nasional:<\/p>\n<p>    Dukungan Penuh Pembangunan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi: Program masif ini dirancang tersebar merata di seluruh kabupaten\/kota di Indonesia sebagai instrumen pemerataan kualitas SDM unggul dan penguat persatuan bangsa.<\/p>\n<p>    Kurikulum Berbasis LSTEAMS: Fondasi pendidikan masa depan akan mengintegrasikan rumpun ilmu secara holistik, yaitu Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual (LSTEAMS) guna mencetak generasi yang taat hukum, menguasai sains-teknologi, kreatif, produktif, sekaligus memiliki tanggung jawab kemanusiaan global.<\/p>\n<p>Pokok Pikiran dan Pandangan Para Guru Besar<\/p>\n<p>Simposium ini diperkaya oleh sumbangan pemikiran konstruktif dari sejumlah tokoh akademisi nasional:<\/p>\n<p>    Prof. Dr. Djagal Wiseso, M.Agr. (UGM): Menekankan pentingnya &#8220;keberanian intelektual&#8221; bagi para guru besar demi mendukung gagasan strategis asrama terintegrasi ini untuk disempurnakan bersama.<\/p>\n<p>    Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. (UNY): Menilai atmosfer pendidikan di Ma&#8217;had Al-Zaytun sebagai implementasi nyata dari filosofi Ki Hajar Dewantara (Tut Wuri Handayani), di mana proses pembinaan mampu menumbuhkan kemandirian hakiki peserta didik.<\/p>\n<p>Prof. Dr. Drs. Nur Sahid, M.Hum. (ISI Yogyakarta): Menyoroti pentingnya keseimbangan antara sains dan seni agar melahirkan generasi yang tidak kaku, melainkan kreatif, berbudaya, serta peka secara sosial.<\/p>\n<p>Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A. (UGM): Memandang konsep kawasan pendidikan terpadu ini sebagai visi besar yang berdampak luas bagi pemerataan mutu nasional apabila direalisasikan secara bertahap.<\/p>\n<p>    Prof. Dr. Phil. H. Al Makin, S.Ag., M.A. (Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga): Memfokuskan pandangan pada pendidikan kepemimpinan. Menurutnya, masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang kritis, mandiri, dan memiliki keberanian moral yang kokoh.<\/p>\n<p>Prof. Triyono Bramantyo (ISI Yogyakarta): Mengajak seluruh elemen bangsa untuk membuang rasa pesimis terhadap ide-ide besar demi kemajuan negara. Gagasan besar harus disambut, dikritisi secara konstruktif, dan disempurnakan bersama.<\/p>\n<p>Seruan Kebangsaan<\/p>\n<p>Melalui penandatanganan dokumen ini, para guru besar dan cendekiawan Indonesia menyampaikan seruan terbuka kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, tokoh agama, budayawan, hingga organisasi kemasyarakatan untuk menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas mutlak nasional.<\/p>\n<p>Deklarasi ditutup dengan sebuah pesan kebangsaan yang kuat dan visioner:<\/p>\n<p> &#8220;Membangun manusia adalah membangun bangsa. Membangun pendidikan adalah membangun peradaban. Lima ratus Pusat Pendidikan Nasional Berasrama untuk Indonesia Raya Abadi.&#8221;<\/p>\n<p>Dokumen yang telah ditandatangani ini resmi menjadi tonggak sejarah baru lahirnya gerakan intelektual kebangsaan yang siap mengawal cetak biru (grand design) pendidikan Indonesia menuju peradaban unggul di abad ke-22.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>INDRAMAYU, Konferensi dan Simposium Pendidikan Indonesia 2026 yang berlangsung selama dua hari di Ma&#8217;had Al-Zaytun (MAZ) tanggal 31 Mei sd. 1 Juni 2026, resmi menghasilkan sebuah dokumen historis penting bertajuk &#8220;Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi&#8221;. Deklarasi monumental ini disepakati dan ditandatangani bersama oleh 50 guru besar serta cendekiawan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka tepat pada<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":10495,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10496","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10496","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10496"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10496\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10495"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}