{"id":28455,"date":"2026-07-24T16:55:59","date_gmt":"2026-07-24T09:55:59","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=28455"},"modified":"2026-07-24T16:55:59","modified_gmt":"2026-07-24T09:55:59","slug":"dr-made-cantiari-tolak-wacana-bali-jadi-pusat-keuangan-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/07\/24\/dr-made-cantiari-tolak-wacana-bali-jadi-pusat-keuangan-dunia\/","title":{"rendered":"Dr. Made Cantiari Tolak Wacana Bali Jadi Pusat Keuangan Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Dr. Made Cantiari Tolak Wacana Bali Jadi Pusat Keuangan Dunia<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Analisnews.co.id \u2013 DENPASAR | Tokoh perempuan Bali, Dr. Dra. Ni Made Cantiari, M.Si., menolak wacana menjadikan Bali sebagai pusat keuangan dunia.<\/p>\n<p>Menurutnya, peningkatan ekonomi masyarakat Bali memang perlu. Namun menjadikan Pulau Dewata sebagai pusat keuangan dunia justru berisiko menggerus adat, budaya, dan kepemilikan tanah masyarakat lokal.<\/p>\n<p>\u201cBali sudah memiliki pusat keuangan di BI Bank Indonesia. Warga Bali sudah bisa hidup dari keterampilan adat, budaya, dan pariwisata. Jadi sudah saatnya kita bersuara lantang, tolong jaga Tanah Bali,\u201d ujar Dr. Cantiari di Denpasar, Jum,at (24\/7\/2026).<\/p>\n<p>Dr. Cantiari mencontohkan Dubai yang kini banyak dikuasai investor asing. Ia khawatir hal serupa terjadi di Bali jika pintu investasi keuangan global dibuka terlalu lebar.<\/p>\n<p>\u201cKhawatir tanah di Bali dibeli dan dikuasai dunia. Lalu ke mana nyame Bali? Tradisi adat dan budaya pasti punah. Kenapa kita harus menjadi penonton di tanah sendiri?\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Trauma lepasnya Timor Timur dari NKRI pada 1999 juga menjadi dasar penolakan. Dr. Cantiari, yang pernah bertugas di Timor Timur pada 1985. Baginya, menjaga kedaulatan wilayah termasuk menjaga tanah adat Bali adalah harga mati.<\/p>\n<p>Dr. Cantiari dikenal aktif di berbagai organisasi. Ia menjabat Ketua Korps Menwa Ugracena Bali, Ketua I PPM Pemuda Panca Marga Provinsi Bali, dan Ketua I FBN Forum Bela Negara Provinsi Bali.<\/p>\n<p>Mantan Camat di Buleleng dan mantan Ketua Komisi D serta Ketua DPRD Sementara Buleleng 2 periode ini juga pendiri program Pendidikan Pendahuluan Bela Negara atau PPBN. Sejak 2004, bersama Menwa, PPM, dan FBN RI ia telah melatih 17.000 siswa mulai TK hingga perguruan tinggi. Ia juga membina 778 anak asuh dengan biaya pribadi.<\/p>\n<p>Menariknya, sejak 1980 ia tercatat pernah memimpin 65 ormas di tingkat kabupaten dan provinsi. Sebagai anak pejuang 1945 dan anggota DHD \u201945 Provinsi Bali, ia menekankan pentingnya menjaga 4 konsensus dasar: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.<\/p>\n<p>Salah satu peserta terbaik Diklat Lemhanas RI 2022, ia menyarankan pemerintah memperketat screening terhadap wisatawan asing. \u201cBanyak yang masuk pakai visa wisata tapi membeli tanah dan buka usaha di Bali. Bahkan ada yang arogan terhadap penduduk lokal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagai Ketua LPA Lembaga Perlindungan Anak, Dr. Cantiari juga mengajak orang tua membina fisik, mental, etika, dan moral anak. Tujuannya menyiapkan Generasi Emas 2045 yang cerdas dan mampu menjaga serta mempertahankan Tanah Pulau Bali.<\/p>\n<p>\u201cEkonomi boleh tumbuh, tapi jangan sampai kita kehilangan jati diri. Bali kuat karena adat dan budayanya,\u201d tegasnya.(Ranu)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Made Cantiari Tolak Wacana Bali Jadi Pusat Keuangan Dunia &nbsp; Analisnews.co.id \u2013 DENPASAR | Tokoh perempuan Bali, Dr. Dra. Ni Made Cantiari, M.Si., menolak wacana menjadikan Bali sebagai pusat keuangan dunia. Menurutnya, peningkatan ekonomi masyarakat Bali memang perlu. Namun menjadikan Pulau Dewata sebagai pusat keuangan dunia justru berisiko menggerus adat, budaya, dan kepemilikan tanah<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":28460,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-28455","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28455","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28455"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28455\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28462,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28455\/revisions\/28462"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28460"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}